Advertisement
Peristiwa Daerah

Giling Tebu Dihentikan, Puluhan Petani Blora Gelar Protes di PG GMM

Puluhan petani tebu di Kabupaten Blora, Jawa Tengah, melayangkan protes keras terhadap kebijakan Pabrik Gula Gendhis Multi Manis (PG GMM) yang menghentikan giling lebih cepat dari jadwal.

TIMES Indonesia,
Giling Tebu Dihentikan, Puluhan Petani Blora Gelar Protes di PG GMM
Para petani tebu Blora saat memprotes keputusan manajemen Pabrik Gula (PG) PT Gendhis Multi Manis (GMM) Blora. (FOTO: Rengga/TIMES Indonesia)
A-AA+

BLORA Puluhan petani tebu di Kabupaten Blora, Jawa Tengah, melayangkan protes keras terhadap kebijakan Pabrik Gula Gendhis Multi Manis (PG GMM) yang menghentikan giling lebih cepat dari jadwal. Penutupan mendadak itu dianggap merugikan petani karena ribuan batang tebu masih belum sempat dipanen.

Ketua Asosiasi Petani Tebu Republik Indonesia (APTRI) Blora, Sunoto, menilai langkah tersebut sepihak dan menyalahi kesepakatan awal.

Advertisement

Menurutnya, sejak awal musim giling sudah ada musyawarah antara manajemen dan petani. Maka, ketika pabrik akan tutup, seharusnya juga dibicarakan bersama.

“Banyak petani belum selesai tebang karena faktor cuaca. Kalau pabrik ditutup tiba-tiba, hasil panen bisa terbuang percuma. Padahal perkiraan baru selesai tebang akhir Oktober,” ungkapnya, minggu (28/9/2025).

Keluhan juga datang dari petani sekitar pabrik. Winarsih, misalnya, mengaku bingung karena biaya tanam, tebang, dan angkut sudah terlanjur dikeluarkan. “Kalau berhenti sekarang, kami rugi besar. Jangan sampai modal tidak kembali,” keluhnya.

Petani lain, Darmadi, menyoroti buruknya komunikasi pihak pabrik. Ia menegaskan, jika memang ada kendala teknis, mestinya diinformasikan lebih awal supaya petani bisa menyiapkan alternatif.

Sebelumnya, manajemen PG GMM mengumumkan bahwa penerimaan tebu hanya sampai Rabu (24/9) pukul 24.00 WIB. Alasannya, kedua unit boiler mengalami kebocoran pipa yang tak bisa segera diperbaiki. Hal ini membuat sekitar 25–30 petani mendatangi pabrik pada Jumat pagi untuk menuntut kejelasan.

Advertisement

Direktur Operasional PT GMM, Krisna Murtiyanto, menjelaskan bahwa kerusakan teknis tersebut memang tidak mungkin ditangani cepat. Karena itu, manajemen memutuskan menghentikan giling per 25 September 2025, jauh lebih cepat dari target semula 150 hari.

Sementara itu, Plt Direktur Utama PT GMM, Sri Emilia Mudiyanti, menyebut keputusan ini sangat berat. “Kami benar-benar minta maaf karena panen petani tidak bisa terserap maksimal. Ini di luar perkiraan kami,” ujarnya.

Sebagai langkah darurat, PT GMM menyiapkan crane, truk tronton, serta jembatan timbang untuk memfasilitasi petani yang ingin mengalihkan tebunya ke pabrik gula lain.

Namun, perusahaan menegaskan bahwa mereka tidak lagi bisa membeli tebu yang tersisa. Mekanisme kontrak giling hanya berlaku untuk petani skala besar yang sanggup mengirim ke pabrik terdekat.

Hingga 24 September 2025, PG GMM baru menggiling 218.771,12 ton tebu atau 54,6 persen dari target 400 ribu ton. Produksi Gula Kristal Putih (GKP) pun baru mencapai 11.608,05 ton.

Manajemen berjanji akan segera melaporkan kondisi teknis ini kepada pemegang saham, yakni Perum BULOG dan PT Mandiri Pangan Sejahtera, serta berkoordinasi dengan petani, DPRD Blora, dan Forkopimda untuk mencari solusi terbaik. (*)

Simak breaking news dan berita pilihan TIMES Indonesia langsung dari WhatsApp-mu!
Klik 👉 Channel TIMES Indonesia
Pastikan WhatsApp kamu sudah terpasang.

Ahmad Rengga Wahana Putra [MG-301]
PenulisAhmad Rengga Wahana Putra [MG-301]Sarjana Hukum Universitas 17 Agustus 1945 Semarang (2024). Bergabung di TIMES Indonesia sejak 2025. Meliput berbagai topik, termasuk politik, hukum, pendidikan, karya, seni, budaya dan isu internasional.
Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp TIMES Indonesia