Kanvastara 2025: Menyuarakan Kesetaraan Gender Lewat Bahasa Rupa
Kanvastara 2025 tidak hanya menampilkan karya seni rupa, tetapi juga memadukannya dengan ragam aktivitas kreatif.

MALANG – Sentuhan warna dan beragam medium visual memenuhi ruang C lantai 4 Malang Creative Center (MCC), Jumat (7/11/2025). Di antara dinding-dinding putih, karya-karya bertema kesetaraan gender dipamerkan dalam “Kanvastara 2025”, pameran seni perdana yang digagas Badan Eksekutif Mahasiswa Fakultas Ilmu Administrasi Universitas Brawijaya (BEM FIA UB).
Gelaran dua hari ini menjadi ruang bagi publik untuk melihat bagaimana isu gender diterjemahkan melalui bahasa rupa.
Ketua Pelaksana Kanvastara 2025, Athaya Humaira, mengatakan pameran ini merupakan program kerja Kementerian Pengarusutamaan Gender (PUG) BEM FIA UB.

“Kesetaraan gender bukan hanya tentang perempuan, tetapi juga laki-laki. Kami ingin menunjukkan bahwa isu ini sudah lama hadir dalam kehidupan sehari-hari, bukan sekadar tren,” ujar Athaya.
Salah satu karya yang mencuri perhatian datang dari sebuah lukisan perempuan berambut merah yang tampak menyatu dengan lanskap alam di belakangnya. Fara, salah satu pengunjung, mengaku langsung terpikat.

“Lukisannya eye catching banget. Dari ekspresinya terasa kuat sekaligus lembut, seperti ada pesan personal tentang hubungan dirinya dengan lingkungan,” katanya.
Ia juga menikmati kegiatan pendamping pameran, mulai dari workshop seni hingga beauty class yang bekerja sama dengan Viva Cosmetics. “Jadi bukan cuma lihat karya, tapi benar-benar ikut terlibat. Lebih enjoy.”
Kanvastara 2025 tidak hanya menampilkan karya seni rupa, tetapi juga memadukannya dengan ragam aktivitas kreatif. Dalam beauty class, peserta diajak mempraktikkan teknik make up sekaligus membawa pulang produk dari Viva Cosmetics. Sementara itu, workshop seni membuka ruang interaksi langsung antara pengunjung dan praktisi seni.
Pameran ini juga menjadi puncak rangkaian pre-event lomba yang digelar 15 September–10 Oktober 2025. Tiga kategori, yakni painting, poster, dan video narasi, mengangkat tema kesetaraan gender, dan karya-karya terbaik dari kompetisi tersebut turut ditampilkan dalam pameran.
Selain karya peserta lomba, sejumlah seniman juga ikut berkontribusi. Secara keseluruhan, sekitar 8–10 lukisan, 14–16 poster, serta beberapa karya tambahan dipajang di ruang pamer.
Meski baru pertama kali digelar, Athaya berharap Kanvastara dapat berlanjut pada tahun-tahun berikutnya.
“Semoga bisa menjadi kegiatan rutin. Yang terpenting, kami ingin pengunjung pulang dengan kesadaran bahwa kesetaraan gender bukan isu milik satu kelompok saja, tetapi milik semua,” ucapnya. (*)
Simak breaking news dan berita pilihan TIMES Indonesia langsung dari WhatsApp-mu!
Klik 👉 Channel TIMES Indonesia
Pastikan WhatsApp kamu sudah terpasang.

