Founder GYPEM Ahmad Qomaruddin Klarifikasi: HP Hilang Picu Teror Siber, Akun Diretas hingga Fitnah Penipuan
Pengusaha muda sekaligus Founder Global Youth and Peace Education Movement (GYPEM), Ahmad Qomaruddin, akhirnya angkat bicara terkait badai fitnah dan tuduhan penipuan yang mencatut namanya.

JAKARTA – Pengusaha muda sekaligus Founder Global Youth and Peace Education Movement (GYPEM), Ahmad Qomaruddin, akhirnya angkat bicara terkait badai fitnah dan tuduhan penipuan yang mencatut namanya.
Tokoh yang aktif mengampanyekan pendidikan perdamaian ini menegaskan dirinya menjadi korban kejahatan siber terstruktur, mulai dari pencurian data, manipulasi teknologi AI, pengintaian digital, hingga peretasan masif akun media sosial.
Dalam keterangan resminya, Ahmad menjelaskan insiden bermula dari hilangnya telepon seluler miliknya pada Agustus lalu. Dari perangkat tersebut, pelaku berhasil mengakses data pribadi, foto KTP, hingga arsip video dan pesan suara.
Sebagai pimpinan organisasi pendidikan perdamaian, Ahmad menilai serangan ini bermotif pembunuhan karakter. "Pelaku sengaja menyerang reputasi saya dengan membuat narasi amoral melalui chat palsu agar saya terlihat tidak layak memimpin gerakan ini," tegasnya.
Ahmad mengungkapkan, dirinya sempat berusaha memberikan klarifikasi melalui Instagram. Namun, akun pribadinya langsung diretas dan diambil alih pelaku. Bahkan, akun media sosial keluarga dan saudaranya ikut diretas pada hari yang sama. Menurut Ahmad, hal ini menunjukkan adanya upaya sistematis untuk membungkam suaranya agar fitnah tidak terbantahkan di publik.
Pelaku juga memanfaatkan fitur lokasi (geo-tagging) di Instagram Ahmad untuk melacak aktivitasnya di Yogyakarta. "Video perjalanan lama saya dipelintir dan dimasukkan ke chat palsu agar terlihat seolah saya terlibat hal negatif," jelasnya.
Lebih jauh, Ahmad menyoroti penggunaan teknologi deepfake audio yang memanipulasi suaranya dari arsip WhatsApp untuk membangun narasi penipuan bernilai miliaran rupiah. "Saya menegaskan tidak bertanggung jawab atas segala bentuk hutang-piutang atau penipuan yang mengatasnamakan saya. Nomor yang digunakan pelaku bukan milik saya, dan suara itu rekayasa AI," tegas Ahmad.
Menutup keterangannya, Ahmad meminta maaf atas kegaduhan yang menyeret nama GYPEM dan kolega bisnisnya. Ia berharap masyarakat dan aparat hukum melihat kasus ini sebagai murni kejahatan pencurian identitas. "Saya adalah korban yang kehilangan privasi, diteror secara mental, dan dirusak reputasinya. Mohon masyarakat lebih waspada dan tidak melayani permintaan apapun dari kontak yang mengaku sebagai saya," tutupnya. (*)
Simak breaking news dan berita pilihan TIMES Indonesia langsung dari WhatsApp-mu!
Klik 👉 Channel TIMES Indonesia
Pastikan WhatsApp kamu sudah terpasang.

