Advertisement
Peristiwa Daerah

Menelusuri Jejak Singa Tegalsari Ponorogo, Ziarah Perjuangan Kyai Kanjeng Bagus Hasan Besari

Di komplek pemakaman yang tenang, bersemayam sosok raksasa intelektual dan spiritual Jawa, Kyai Kanjeng Bagus Hasan Besari. Sosok yang bukan sekadar ulama, melainkan simbol perlawanan kultural terhadap kolonial Belanda.

TIMES Indonesia,
Menelusuri Jejak Singa Tegalsari Ponorogo, Ziarah Perjuangan Kyai Kanjeng Bagus Hasan Besari
Makam Kyai Ageng Muhammad Besari dan cucunya Kyai Ageng Hasan Besari Tegalsari Ponorogo selalu menjadi jujugan peziarah menjelang bulan suci Ramadan. (FOTO: Marhaban/TIMES Indonesia)
A-AA+

PONOROGO Gema tahlil lamat-lamat terdengar dari balik dinding kayu jati Masjid Jami’ Tegalsari Kabupaten Ponorogo.

Di komplek pemakaman yang tenang ini, bersemayam sosok raksasa intelektual dan spiritual Jawa, Kyai Kanjeng Bagus Hasan Besari.

Advertisement

Beliau bukan sekadar ulama, melainkan simbol perlawanan kultural yang membuat kolonial Belanda terjaga dari tidur nyenyaknya.

​Puncak Keemasan Tegalsari

​Kyai Hasan Besari merupakan cucu dari sang pendiri, Kyai Ageng Muhammad Besari. Di bawah kepemimpinannya pada abad ke-19, Pesantren Tegalsari mencapai titik nadir kejayaan dengan jumlah santri mencapai ribuan yang berasal dari seluruh penjuru Nusantara.

​Jejak intelektualitasnya tidak main-main. Di sinilah Raden Ngabehi Ronggowarsito, sang pujangga besar tanah Jawa, ditempa hingga menemukan kedalaman batinnya.

Makam-Kyai-Ageng-Muhammad-Besari-dan-cucunya-Kyai-Ageng-Hasan-Besari-Tegalsari-Ponorogo-a.jpg

Ketokohan Kyai Hasan Besari yang karismatik membuatnya memiliki pengaruh besar baik di kalangan rakyat jelata maupun bangsawan kraton, sebuah kekuatan yang di kemudian hari dianggap sebagai ancaman serius bagi Pemerintah Kolonial Belanda.

Advertisement

​Karena pengaruhnya yang melampaui batas-batas pesantren, Kyai Hasan Besari sempat diasingkan oleh Belanda ke Belanda (namun hanya sampai Batavia/Surabaya dalam beberapa catatan) karena dituduh mendukung perlawanan rakyat.

Namun, kuatnya desakan dari pihak keraton dan kecintaan rakyat membuatnya kembali ke Tegalsari hingga akhir hayatnya.

Penyambung Sanad Perjuangan

​Ditemui di kawasan situs cagar budaya Tegalsari, salah satu perwakilan dzuriyah (keturunan), Kunto Purnomo, menekankan bahwa ziarah ke makam leluhurnya bukan sekadar ritual mencari berkah, melainkan upaya menyambung sanad perjuangan.

​"Eyang Kyai Hasan Besari adalah potret ulama yang teguh. Beliau mengajarkan bahwa kemandirian bangsa dimulai dari kemandirian berpikir dan spiritual. Kami, para dzuriyah, mengemban amanah untuk memastikan nilai-nilai luhur Tegalsari tidak tergerus zaman," ujar Kunto Purnomo kepada TIMES Indonesia, Jumat (19/12/2025)

​Ia juga berharap pemerintah dan masyarakat luas dapat terus menjaga keaslian situs Tegalsari sebagai pusat edukasi sejarah, bukan sekadar objek wisata religi. (*)

Simak breaking news dan berita pilihan TIMES Indonesia langsung dari WhatsApp-mu!
Klik 👉 Channel TIMES Indonesia
Pastikan WhatsApp kamu sudah terpasang.

M. Marhaban
PenulisM. MarhabanSekolah Tinggi Publisistik (STP) Jakarta, KLW PWI Jawa Timur 1999. Bergabung di TIMES Indonesia sejak 2019, meliput berbagai topik, termasuk Politik, Hukum, Olahraga, Budaya, dan Pemerintahan.
Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp TIMES Indonesia