Advertisement
Peristiwa Daerah

34.000 Warga Kota Malang Masuk Kategori Kemiskinan Ekstrem

Kemiskinan Kota Malang turun dari 4,95% ke 3,87%. Dinsos mencatat 34.000 warga miskin ekstrem (desil 1) sudah terintervensi. Fokus pada DTSEN, pemutakhiran data, dan intervensi desil 1–4 agar tepat sasaran.

TIMES Indonesia,
34.000 Warga Kota Malang Masuk Kategori Kemiskinan Ekstrem
Ilustrasi kemiskinan ekstrem. (Foto: Ist)
A-AA+

MALANG Tren penurunan angka kemiskinan di Kota Malang terus berlangsung dalam lima tahun terakhir. Berdasarkan data Dinas Sosial P3AP2KB Kota Malang, saat ini tercatat sekitar 34.000 warga masuk kategori miskin ekstrem.

Kepala Dinsos P3AP2KB Kota Malang, Donny Sandito mengatakan, penurunan terjadi secara konsisten. Persentase kemiskinan yang sebelumnya berada di angka 4,95 persen kini menyusut menjadi 3,87 persen.

Advertisement

“Sebanyak 34.000 warga tersebut masuk desil 1 dan seluruhnya sudah bisa kami intervensi. Sesuai arahan Kementerian Sosial, penanganan kesejahteraan sosial mencakup desil 1 hingga desil 5,” ujar Donny, Sabtu (3/1/2026).

Ia menegaskan, penanganan kemiskinan harus didukung oleh data yang akurat dengan mengacu pada Data Tunggal Sosial Ekonomi Nasional (DTSEN). Pemutakhiran data dinilai krusial agar program penanggulangan kemiskinan dapat berjalan tepat sasaran dan terintegrasi lintas perangkat daerah.

“Data yang kita miliki saat ini sudah jauh lebih baik dibanding tahun sebelumnya. Jika terus diperbarui, penanganan kemiskinan bisa lebih komprehensif dan dimanfaatkan oleh dinas terkait lainnya,” ungkapnya.

Dalam DTSEN, warga miskin ekstrem masuk dalam desil 1 dan menjadi prioritas utama pemerintah. Meski demikian, Pemkot Malang juga melakukan intervensi pada desil 1 hingga 4 sebagai langkah pencegahan agar kelompok rentan tidak terjerumus ke dalam kemiskinan ekstrem.

“Harapannya angka kemiskinan bisa terus ditekan. Kita menjaga warga rentan agar tidak sampai masuk desil 1 dan 2, sementara desil 1, 2, dan 3 dapat segera kita graduasi,” jelasnya.

Advertisement

Berbagai upaya telah dilakukan, mulai dari penyaluran bantuan sosial, pelatihan, hingga program pemberdayaan. Namun Donny menekankan validitas data menjadi kunci agar bantuan benar-benar tepat sasaran.

“Ketika data tidak valid, di situlah kendala muncul. Karena itu, hingga tahun ini kami terus fokus memperbaiki dan memutakhirkan data,” pungkasnya. (*)

Simak breaking news dan berita pilihan TIMES Indonesia langsung dari WhatsApp-mu!
Klik 👉 Channel TIMES Indonesia
Pastikan WhatsApp kamu sudah terpasang.

Rizky Kurniawan Pratama
PenulisRizky Kurniawan PratamaSarjana Ilmu Komunikasi Universitas Merdeka Malang (2019). Bergabung di TIMES Indonesia sejak 2020. Meliput berbagai topik, termasuk Politik, Hukum, Kriminal, Ekonomi, Budaya dan Pemerintahan.
Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp TIMES Indonesia