Advertisement
Peristiwa Daerah

Napak Tilas Isyaroh NU 2026: Dari Bangkalan ke Tebuireng, Merawat Restu Para Kiai

Bagi warga NU, tongkat dan tasbih itu bukan sekadar atribut ritual. Ia dimaknai sebagai penanda kesinambungan sanad, adab murid kepada guru, serta fondasi spiritual berdirinya jam’iyyah.

TIMES Indonesia,
Napak Tilas Isyaroh NU 2026: Dari Bangkalan ke Tebuireng, Merawat Restu Para Kiai
Gubernur Jatim Khofifah Indar Parawansa menemui rombongan kirab. (FOTO: Istimewa)
A-AA+

SURABAYA Ribuan warga Nahdlatul Ulama (NU) mengikuti Napak Tilas Isyaroh Pendirian NU 2026 yang menelusuri jejak historis Bangkalan–Surabaya–Jombang, Minggu (4/1/2025). Kegiatan ini bukan sekadar perjalanan simbolik, melainkan upaya merawat sanad keilmuan dan restu para kiai menjelang satu abad NU versi masehi, 1926–2026.

Napak tilas dimulai dari Pondok Pesantren Syaichona Mohammad Cholil, Bangkalan, Madura sebagai titik penting lahirnya isyaroh berdirinya NU. 

Advertisement

Di lokasi ini, berlangsung prosesi penyerahan tongkat dan tasbih dari KH Fachruddin kepada KHR Ach. Azaim Ibrahimy. 

Dua benda tersebut merupakan replika simbolik dari isyaroh restu Syaichona Cholil kepada Hadratussyaikh KH Hasyim Asy’ari sebelum NU resmi berdiri.

Bagi warga NU, tongkat dan tasbih itu bukan sekadar atribut ritual. Ia dimaknai sebagai penanda kesinambungan sanad, adab murid kepada guru, serta fondasi spiritual berdirinya jam’iyyah.

Singgah di Kantor Pertama PBNU

Rombongan kemudian menyeberang melalui Pelabuhan Kamal menuju Surabaya. Setelah berziarah ke Makam Sunan Ampel, perjalanan dilanjutkan ke Kantor PCNU Surabaya di kawasan Bubutan. 

Gedung ini memiliki nilai sejarah tinggi karena pernah menjadi kantor pertama Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU).

Advertisement

Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa turut menyambut rombongan di lokasi tersebut. Ia mengapresiasi napak tilas sebagai ikhtiar menjaga memori kolektif NU.

“Napak tilas ini bukan nostalgia. Ini cara merawat nilai keulamaan dan harmoni bangsa yang diwariskan para pendiri NU,” ujar Khofifah.

Ketua PCNU Surabaya H. Ir. Masduki Toha menegaskan, persinggahan di Bubutan menjadi pengingat bahwa NU dibangun dari ruang-ruang sederhana, namun melahirkan keputusan besar bagi umat dan bangsa.

“Di tempat inilah gagasan-gagasan besar NU pernah dirumuskan. Napak tilas ini mengajak kita memahami bahwa NU lahir dari adab, restu guru, dan kesabaran,” kata Masduki.

Puncak di Tebuireng

Dari Surabaya, rombongan melanjutkan perjalanan ke Jombang menggunakan kereta api dari Stasiun Gubeng. Setibanya di Kota Beriman, peserta berjalan kaki menuju Pondok Pesantren Tebuireng.

Puncak acara berlangsung di Asta Hadratussyaikh KH Hasyim Asy’ari. Di hadapan makam pendiri NU tersebut, tongkat dan tasbih diserahkan dari KHR Ach. Azaim Ibrahimy kepada KH Fahmy Amrullah. Tahlil dan doa bersama menutup rangkaian napak tilas yang menempuh lintasan sejarah panjang NU.

Masduki menyampaikan apresiasi kepada seluruh pihak yang terlibat dalam pengamanan dan kelancaran kegiatan, termasuk Banser dan aparat keamanan.

“Ini bukti bahwa sanad keilmuan dan khidmah kepada ulama terus dijaga. NU boleh memasuki abad kedua, tetapi kompasnya tetap sama, ada kiai, adab, dan sejarah,” katanya. (*)

Simak breaking news dan berita pilihan TIMES Indonesia langsung dari WhatsApp-mu!
Klik 👉 Channel TIMES Indonesia
Pastikan WhatsApp kamu sudah terpasang.

Yusuf Arifai
PenulisYusuf ArifaiMagister Ilmu Hukum (MH) Universitas Slamet Riyadi Surakarta, Wartawan Madya Nomor 21969-Unitomo/Wdya/DP/X/2024/21/10/93, Editor Bahasa Arab dan Penulis di TIMES Indonesia yang bergabung sejak 2021.
Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp TIMES Indonesia