Gempa Erupsi Ribuan Kali, Gunung Ile Lewotolok Naik ke Level Siaga
Berdasarkan catatan kegempaan periode 1–15 Januari 2026, aktivitas vulkanik Gunung Ile Lewotolok didominasi gempa erupsi sebanyak 2.713 kejadian dan gempa embusan sebanyak 4.391 kejadian.

NUSA TENGGARA TIMUR – Badan Geologi menaikkan status aktivitas Gunung Ile Lewotolok di Kabupaten Lembata, Nusa Tenggara Timur, dari Level II (Waspada) menjadi Level III (Siaga). Peningkatan status tersebut mulai diberlakukan pada Minggu, pukul 11.00 Wita.
Petugas Pemantau Gunung Ile Lewotolok, Stanislaus Arakian, menjelaskan kenaikan status dipicu oleh lonjakan signifikan aktivitas erupsi yang terus meningkat dari hari ke hari. Menurutnya, kondisi tersebut menunjukkan intensitas kegempaan dan erupsi yang semakin tinggi.
Gunung yang sempat mengalami erupsi besar pada 2020 hingga memaksa ribuan warga mengungsi itu mulai menunjukkan peningkatan aktivitas sejak 4 Januari 2026. Saat itu, kolom abu tercatat mencapai ketinggian sekitar 300 meter di atas puncak.
Perkembangan signifikan kembali teramati pada 13 Januari 2026. Dalam satu hari, tercatat 341 kejadian gempa erupsi. Pada waktu yang sama, petugas juga mulai mengamati aliran lava keluar dari kawah, setelah sebelumnya hanya mengalir di dalam kawah.
Berdasarkan catatan kegempaan periode 1–15 Januari 2026, aktivitas vulkanik Gunung Ile Lewotolok didominasi gempa erupsi sebanyak 2.713 kejadian dan gempa embusan sebanyak 4.391 kejadian.
Selain itu, terekam lima kali gempa guguran, 834 kali tremor non-harmonik, tujuh gempa hybrid, 13 gempa vulkanik dangkal, 25 gempa vulkanik dalam, delapan gempa tektonik lokal, serta delapan gempa tektonik jauh.
Sementara itu, pada periode 16–18 Januari 2026 sejak pukul 06.00 Wita, tercatat 831 kali gempa erupsi, 925 kali gempa embusan, serta satu kali gempa vulkanik dalam.
Secara visual, kondisi gunung api terpantau jelas hingga sesekali tertutup kabut. Asap kawah berwarna putih hingga kelabu terlihat dengan intensitas tipis sampai sedang, membumbung setinggi 20 hingga 200 meter dari puncak.
Kolom erupsi tercatat mencapai ketinggian sekitar 200 hingga 500 meter dari puncak, dengan warna putih, kelabu, hingga hitam. Lontaran material erupsi teramati mengarah ke sektor tenggara dengan jarak sejauh 300 meter dari pusat erupsi.
Erupsi juga disertai suara gemuruh lemah hingga sedang. Selain itu, terjadi aktivitas guguran meski arah dan jaraknya tidak teramati secara visual. Aliran lava terpantau mengalir ke sektor barat dengan jarak sekitar 100 meter dari bibir kawah. (*)
Simak breaking news dan berita pilihan TIMES Indonesia langsung dari WhatsApp-mu!
Klik 👉 Channel TIMES Indonesia
Pastikan WhatsApp kamu sudah terpasang.


