Menu MBG Jasuke di Kabupaten Malang, Ini Penjelasan Ahli Gizi soal Standar Gizinya
Menu MBG tanpa nasi di Poncokusumo, Kabupaten Malang, menuai respons publik. Ahli gizi menegaskan bahwa jasuke tetap memenuhi prinsip gizi seimbang, dengan catatan porsi dan peruntukannya disesuaikan.

MALANG – Menu Makan Bergizi Gratis (MBG) kembali menjadi perhatian publik. Di Kabupaten Malang, Selasa (3/2/2026), salah satu Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) di Kecamatan Poncokusumo membagikan menu MBG bertema jasuke (jagung, susu, dan keju), dilengkapi telur puyuh dan buah anggur.
Menu tersebut memunculkan beragam respons dari masyarakat. Sebagian pihak mempertanyakan apakah sajian tanpa nasi itu telah memenuhi standar gizi yang ditetapkan dalam program MBG.
Menanggapi hal tersebut, Ahli Gizi Rumah Sakit Islam (RSI) Unisma Malang, Nur Widyaning Rohmawati, S.Gz, menegaskan bahwa penilaian menu makanan seharusnya didasarkan pada fungsi dan komposisi gizinya, bukan pada jenis bahan pangan yang digunakan.
“Anggapan bahwa menu tersebut tidak sesuai budaya makan karena tidak menggunakan nasi perlu diluruskan dari sisi ilmu gizi,” ujarnya.
Menurut Nur Widyaning, nasi bukan satu-satunya sumber karbohidrat. Jagung, ubi, singkong, kentang, serta berbagai jenis serealia lainnya memiliki fungsi gizi yang sama, yakni sebagai sumber energi bagi tubuh.
Dalam menu MBG tersebut, jagung berfungsi sebagai sumber karbohidrat. Telur puyuh dan susu menjadi sumber protein serta lemak, sementara buah anggur berperan sebagai sumber vitamin, mineral, dan serat.
“Secara prinsip, menu ini sudah memenuhi komponen gizi seimbang, meskipun tidak disajikan dalam bentuk nasi dan lauk seperti kebiasaan masyarakat,” jelasnya.
Meski demikian, ia menekankan bahwa aspek yang perlu dievaluasi adalah kecukupan porsi dan peruntukan menu. Jika menu jasuke dijadikan sebagai makan utama, porsi karbohidrat dan protein harus disesuaikan dengan kebutuhan usia penerima manfaat.
Selain itu, variasi lauk tetap diperlukan untuk mencukupi kebutuhan zat gizi mikro tertentu, seperti zat besi.
“Porsi harus cukup sesuai usia, dan variasi lauk tetap penting jika ini dijadikan makan utama,” katanya.
Sebaliknya, jika menu tersebut disajikan sebagai makanan selingan atau menu alternatif dalam program MBG, Nur Widyaning menilai konsep gizinya sudah sesuai. (*)
Simak breaking news dan berita pilihan TIMES Indonesia langsung dari WhatsApp-mu!
Klik 👉 Channel TIMES Indonesia
Pastikan WhatsApp kamu sudah terpasang.


