Bupati Banjarnegara Tegaskan Komitmen Tekan Angka Stunting
Bupati Banjarnegara dr Amalia Desiana instruksikan aksi nyata tekan stunting yang mencapai 20,6 persen. Fokus pada protein hewani dan edukasi pola asuh di Kecamatan Batur.

BANJARNEGARA – Bupati Banjarnegara, dr. Amalia Desiana, kembali menegaskan komitmen Pemerintah Kabupaten (Pemkab) untuk menekan angka stunting yang saat ini masih tergolong tinggi. Hal tersebut disampaikan saat membuka Pra-Musyawarah Perencanaan Pembangunan (Musrenbang) Tematik Stunting Kabupaten Banjarnegara Tahun 2026 di Aula Lantai 3 Setda Banjarnegara, Senin (9/2/2026).
Dalam sambutannya, Bupati menyatakan tidak ingin lagi terjebak dalam tataran teori maupun kegiatan seremonial. Ia menuntut aksi nyata dari seluruh pemangku kepentingan (stakeholder) untuk berkolaborasi menurunkan angka prevalensi stunting secara signifikan.
“Tahun ini saya berharap melalui Pramusrenbang Tematik ini, kita benar-benar memilih action nyata. Kita sudah cukup lama berbicara teori, saatnya fokus pada langkah konkret di lapangan,” tegas dr. Amalia.
Pentingnya Pola Asuh dan Nutrisi Protein Hewani
Bupati dr. Amalia Desiana juga menekankan pentingnya pola asuh dan pola makan yang benar dengan memaksimalkan konsumsi protein hewani, seperti ikan dan telur.

“Kuncinya, diperbanyak protein. Jangan sampai anak hanya makan nasi dengan kuah saja, sementara gizi dan nutrisinya tidak masuk,” tambahnya.
Secara khusus, Bupati memberikan perhatian serius pada Kecamatan Batur. Meski secara ekonomi warga di wilayah tersebut tergolong mampu, angka stunting di sana justru tercatat sebagai yang tertinggi di Banjarnegara. Fenomena ini menunjukkan bahwa stunting bukan sekadar masalah kemiskinan, melainkan juga persoalan edukasi dan pola asuh.
“Saya pernah ke Desa Sumberrejo, melihat anak kelas 6 SD yang tingginya sama dengan anak kelas 2 SD. Ini dipicu pola asuh, di mana anak lebih sering mengonsumsi junk food daripada makanan bergizi,” ungkapnya.
Target Penurunan Prevalensi
Kepala Baperida Banjarnegara, Yusuf Agung Prabowo, S.H., M.Si., menjelaskan bahwa forum yang diikuti unsur Forkopimda, OPD, perguruan tinggi, hingga organisasi masyarakat ini digelar untuk menyamakan komitmen dan perencanaan intervensi penurunan stunting.

Senada dengan hal tersebut, Kepala Dinas Kesehatan dr. Latifa Hesty Purwaningtyas memaparkan data terkini. Berdasarkan Survei Status Gizi Indonesia (SSGI) 2024, Banjarnegara masih masuk dalam 10 besar daerah dengan prevalensi stunting tertinggi di Jawa Tengah, yakni mencapai 20,6 persen.
Kegiatan Pra-Musrenbang ini diakhiri dengan penandatanganan komitmen bersama antara Pemkab, DPRD, pimpinan badan, OPD, camat, hingga pemerintah desa. Hasil kesepakatan tersebut mencakup konvergensi program dari hulu ke hilir, mulai dari pendampingan calon pengantin untuk mencegah pernikahan dini, hingga pendampingan intensif bagi ibu hamil dan balita. (*)
Simak breaking news dan berita pilihan TIMES Indonesia langsung dari WhatsApp-mu!
Klik 👉 Channel TIMES Indonesia
Pastikan WhatsApp kamu sudah terpasang.


