Advertisement
Peristiwa Daerah

Gotong Royong di Pancuran 13 Tegal, Cara Masyarakat Adat Reksa Wana Hidupkan Tradisi

Satu per satu mereka berdatangan menuju Pancuran 13 Taman Wisata Alam yang tergerus bencana banjir bandang kawasan pemandian air panas yang telah menjadi kebanggaan masyarakat Guci, Kabupaten Tegal.

TIMES Indonesia,
Gotong Royong di Pancuran 13 Tegal, Cara Masyarakat Adat Reksa Wana Hidupkan Tradisi
Gotong Royong Warga Dusun Pekandangan Desa Rembul dan Masyarakat Adat Reksa Wana Guci di Pancuran 13 (Foto: Cahyo Nugroho /TIMES Indonesia)
A-AA+

TEGAL Kabut tipis menggantung di antara pepohonan lereng Gunung Slamet di wilayah Kabupaten Tegal, ketika langkah-langkah warga mulai terdengar memecah sunyi pagi. 

Satu per satu mereka berdatangan menuju Pancuran 13 Taman Wisata Alam yang tergerus bencana banjir bandang kawasan pemandian air panas yang telah menjadi kebanggaan masyarakat Guci, Kabupaten Tegal.

Advertisement

Di tangan mereka pun justru tergenggam cangkul, sabit, golok, dan batang-batang bambu. Ada yang memanggul karung, ada pula yang memikul papan kayu. Mereka datang dengan satu tujuan: gotong royong.

Tak Sekadar Tradisi, Tapi Ruang Hidup

Bagi masyarakat adat Reksa Wana Guci dan Pekandangan, Pancuran 13 bukan sekadar destinasi wisata.

Ia adalah ruang hidup, tempat berkelindan antara tradisi,  keyakinan, dan alam. Air panas yang mengepul dari perut bumi diyakini sebagai anugerah yang harus dirawat, bukan dieksploitasi.

Sejak matahari belum sepenuhnya menampakkan diri, kegiatan sudah dimulai. Beberapa warga menyusuri aliran air, mengangkat sampah plastik dan dedaunan yang tersangkut di bebatuan. 

Di sisi lain, sekelompok lelaki menata batu-batu yang bergeser akibat hujan deras beberapa hari terakhir. Jalur yang licin diperbaiki agar lebih aman dilalui pengunjung.

Advertisement

Di sudut yang agak menurun, sejumlah pemuda merangkai batang bambu menjadi jembatan sasak sederhana. Tangan-tangan mereka bergerak cekatan, diikat dengan tali dan dipaku seadanya. 

Jembatan itu kelak menjadi akses penting bagi wisatawan yang ingin melintasi aliran air tanpa khawatir terpeleset.

Tak jauh dari sana, beberapa warga membuat kolam kecil sementara. Mereka menyusun batu, mengatur arus air agar mengalir lebih teratur dan nyaman digunakan. Semua dikerjakan dengan perhitungan sederhana namun penuh pengalaman turun-temurun.

Tak ada komando keras atau aba-aba resmi. Semua bergerak karena kesadaran. Anak-anak muda bekerja berdampingan dengan para orang tua. 

Sesekali tawa pecah ketika salah satu dari mereka terpeleset lumpur atau saling menggoda di sela pekerjaan. Keringat mengalir, namun wajah-wajah itu tetap menyiratkan kegembiraan.

Tanggung Jawab Sosial yang Terus Dijaga

Gotong-Royong-2.jpg

Ali Burhan, pengurus Masyarakat Adat Reksa Wana Guci, menyebut kegiatan ini bukan sekadar kerja bakti rutin. “Ini bentuk tanggung jawab kami,” ujarnya di sela aktivitas. 

Baginya, gotong royong adalah warisan nilai yang terus dijaga. Alam, kata dia, bukan hanya sumber penghasilan dari sektor wisata, tetapi juga bagian dari identitas dan kehormatan masyarakat.

Kawasan Pancuran 13 berada dalam area Taman Wisata Alam Lereng Gunung Slamet, yang semakin ramai dikunjungi wisatawan, terutama saat akhir pekan dan musim liburan. 

Meningkatnya kunjungan tentu membawa berkah ekonomi, tetapi juga tantangan tersendiri. Sampah, jalur rusak, fasilitas yang cepat aus menjadi konsekuensi yang tak bisa dihindari.

Di sinilah gotong royong menemukan maknanya. Tanpa menunggu bantuan pemerintah atau pengelola resmi, warga memilih bergerak lebih dulu.

Mereka percaya, keberlanjutan sebuah destinasi tidak hanya bertumpu pada pembangunan fisik, tetapi pada rasa memiliki.

Dampak Positif Langsung Terasa

Menjelang siang, perubahan mulai terlihat. Jalur setapak yang tadinya becek kini lebih rapi. Sampah-sampah telah terkumpul dalam karung untuk dibawa turun. 

Jembatan bambu berdiri kokoh dan kuat membentang sederhana namun fungsional. Kolam kecil tampak lebih tertata, air panasnya mengalir jernih mengepul tipis.

Beberapa warga duduk beristirahat di tepi pancuran. Mereka menikmati bekal sederhana yang dibawa dari rumah—nasi, tempe, sambal. Canda ringan kembali terdengar. Lelah terasa, tetapi kepuasan jauh lebih besar.

Gotong royong hari itu bukan hanya tentang membersihkan kawasan wisata. Ia adalah pernyataan bahwa nilai kebersamaan masih hidup dan relevan. 

Di tengah arus modernisasi dan geliat industri pariwisata, masyarakat adat Guci menunjukkan bahwa menjaga alam bisa dimulai dari langkah sederhana: turun tangan bersama.

Pancuran 13, hangatnya air pegunungan menyatu dengan hangatnya solidaritas warga. Dari tangan-tangan yang bekerja tanpa pamrih, tersirat pesan yang dalam bahwa ketika alam dirawat dengan hati, 

Ia akan terus memberi. Bukan hanya dalam bentuk manfaat ekonomi, tetapi juga dalam wujud kebanggaan dan keberlanjutan untuk generasi mendatang. (*)

Simak breaking news dan berita pilihan TIMES Indonesia langsung dari WhatsApp-mu!
Klik 👉 Channel TIMES Indonesia
Pastikan WhatsApp kamu sudah terpasang.

Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp TIMES Indonesia