Melacak Ajaran Asli Eyang Djoego di Balik Narasi Pesugihan Gunung Kawi
Mengungkap sejarah Padepokan Eyang Djoego di Gunung Kawi. Narasi sejarah dan spiritualitas Islam Kejawen yang kerap terdistorsi mitos pesugihan instan.

MALANG – Selama puluhan tahun, Gunung Kawi di Kabupaten Malang, Jawa Timur kerap diidentikkan dengan mitos praktik pesugihan. Namun, di balik narasi mistis yang berkembang di masyarakat, berdiri kokoh Padepokan Eyang Djoego yang membawa misi spiritual dan sejarah yang jauh lebih dalam.
Terletak di Jalan Pesarean No. 33, Wonosari, padepokan ini tidak hanya menjadi simbol akulturasi budaya Jawa dan Tionghoa, tetapi juga saksi bisu perjuangan spiritual tokoh historis penasihat Pangeran Diponegoro.
Akulturasi Budaya dan Ajaran Islam Kejawen
Nuansa Jawa yang kental pada bangunan padepokan berpadu harmonis dengan ornamen Tionghoa, termasuk keberadaan Kelenteng Dewi Kwan Im di dekatnya. Juru kunci padepokan, Indratno, menjelaskan bahwa visualisasi ini merepresentasikan latar belakang Eyang Djoego yang merupakan keturunan campuran (ampyang) Tionghoa dan Jawa.

Lebih dari sekadar tempat ziarah, padepokan ini mengusung ajaran Islam Kejawen. Eyang Djoego mendidik murid-muridnya untuk mengamalkan perilaku welas asih yang berlandaskan asma Allah, yakni Ar-Rahman dan Ar-Rohim.
"Ketika umur 63 tahun, beliau ini sebagai penasihat Pangeran Diponegoro," ujar Indratno saat ditemui, Sabtu (14/2/2026).
Jejak Sejarah dan Pengobatan Herbal
Sebelum menetap di Gunung Kawi, Eyang Djoego memiliki rekam jejak pengabdian yang panjang. Setelah menuntaskan mandat sebagai penasihat perang, ia berkelana sebagai ahli pengobatan dan spiritual.
Salah satu kisah ikonik yang melegenda adalah saat Eyang Djoego berhasil membantu menyembuhkan ribuan warga Blitar yang terserang wabah kolera menggunakan media herbal dan doa. Dedikasi tanpa pamrih inilah yang membuatnya dihormati hingga berpesan agar dimakamkan di Gunung Kawi.
Meluruskan Narasi Pesugihan
Indratno menegaskan, praktik pesugihan yang kerap disalahartikan masyarakat tidak berkaitan langsung dengan Padepokan Eyang Djoego. Ia menjelaskan bahwa anggapan tersebut berakar dari kesalahpahaman dalam memaknai tradisi Tionghoa Ci Sua, yaitu tradisi buang sial dengan melepaskan hewan hidup ke alam.

"Seiring waktu, tradisi tersebut berkembang menjadi pemahaman yang keliru dan dikaitkan dengan praktik pesugihan oleh sebagian masyarakat," jelas Indratno.
Padepokan kini lebih difungsikan sebagai ruang untuk berdoa (ngalap berkah) dan mendoakan arwah Eyang Djoego serta Eyang RM. Iman Soedjono. Setiap Senin Pahing, digelar acara rutin Jumenengan sebagai wujud penghormatan.
Melalui pendekatan ajaran puji suci, kidung suci, dungo suci, dan laku suci, Indratno berharap peziarah dapat memaknai ziarah sebagai ruang penyucian diri, bukan mencari kekayaan instan.
"Suci itu tolok ukurnya adalah jujur. Dengan kejujuran itulah doa dapat dikabulkan oleh Allah SWT," pungkasnya. (*)
Pewarta: Dina Ayu Wahidiyanti
Simak breaking news dan berita pilihan TIMES Indonesia langsung dari WhatsApp-mu!
Klik 👉 Channel TIMES Indonesia
Pastikan WhatsApp kamu sudah terpasang.

