Napak Tilas 80 Tahun Tugu Malang, Kisah Era Kolonial Hingga Simbol Kemerdekaan
Warita Project Indonesia, Malang Offboundary Labs bersama TIMES Indonesia dan warga melakukan napak tilas sejarah Tugu Malang pada Sabtu, 14 Februari. Kegiatan ini sebagai bagian dari edukasi sejarah untuk mengenalkan sejarah lokal yang beririsan dengan s

MALANG – Di tengah arus modernisasi Kota Malang, Tugu Malang kerap dipandang sebatas monumen di pusat kota. Padahal, di balik bentuknya yang ikonik, tersimpan sejarah panjang. Dari kawasan kolonial Hindia Belanda hingga menjadi simbol kebangkitan Republik. Narasi inilah yang dihidupkan kembali dalam kegiatan napak tilas sejarah Malang bersama Warita Project Indonesia, Sabtu (14/2/2026) lalu.
Dipandu sejarawan dan juga produses film dokumenter FX Domini BB Hera, Warita Project Indonesia yang didukung Malang Offboundary Labs mengajak jurnalis TIMES Indonesia dan warga menelusuri sejumlah titik bersejarah di Kota Malang, termasuk kawasan Alun-Alun Bunder tempat Tugu Malang berdiri.
Kegiatan ini tidak hanya menjadi pembelajaran sejarah di ruang publik, tetapi juga bagian dari produksi video pendek yang sejalan dengan misi Warita Project Indonesia: mendekatkan sejarah kepada generasi kini melalui pendekatan visual dan naratif.
Dalam penjelasannya, FX Domini BB Hera memaparkan bahwa kawasan Alun-Alun Bunder sejak 1927 telah menjadi pusat tata kota kolonial, bersamaan dengan selesainya pembangunan Balai Kota Malang. Dahulu, area tersebut berupa taman dan kolam dengan konsep menyerupai “istana air” yang memantulkan bayangan bangunan kolonial.

Pada masa Hindia Belanda, kawasan itu bernama Jan Pieterzoon Coen Plein, dikelilingi jalan-jalan yang menggunakan nama tokoh kolonial. Setelah Proklamasi 17 Agustus 1945, identitas kolonial dihapus dan diganti dengan nama bernuansa nasional sebagai bagian dari penegasan kedaulatan republik di ruang publik.
Dengan kata lain, monumen Tugu di Alun-alun bunder ini tidak lahir dalam ruang kosong. Ia tumbuh dari kawasan yang sebelumnya merupakan pusat kekuasaan kolonial Belanda, lalu berubah menjadi simbol kebangkitan dan identitas republik.
Berdasarkan catatan sejarah, peletakan batu pertama Tugu Malang dilakukan pada 17 Agustus 1946 oleh Doel Arnowo, Wakil Gubernur Jawa Timur (1946–1949), bersama Wali Kota Malang Sardjono Wiryohardjono (1945–1958). Data ini menunjukkan, secara historis, Tugu Malang telah berusia 80 tahun. Tugu tersebut menjadi simbol bahwa Malang secara terbuka menyatakan dukungan terhadap kemerdekaan Indonesia di tengah situasi revolusi.
Namun, dalam masa agresi militer Belanda, tugu itu dihancurkan karena dipandang sebagai simbol revolusi yang berpotensi menguatkan semangat perlawanan.

“Kawasan ini memang termasuk pusat kekuasaan kolonial (oranje buurt), sehingga perubahan simbol di ruang publik menjadi bentuk kontestasi tersendiri,” ujar FX Domini BB Hera dalam kegiatan tersebut.
Peran Doel Arnowo
Setelah revolusi, Doel Arnowo bersama Presiden Soekarno mengupayakan pembangunan kembali tugu melalui sayembara desain. Konsep yang terpilih melahirkan bentuk Tugu Malang seperti yang dikenal saat ini, dengan peresmian yang bertepatan dengan Hari Kebangunan Nasional.
Peresmian tugu dilakukan bertepatan dengan Hari Kebangunan Nasional pada 20 Mei 1953 yang kemudian dikenal sebagai Hari Kebangkitan Nasional. Momentum tersebut menegaskan bahwa monumen ini bukan hanya peringatan kemerdekaan, tetapi juga simbol kebangkitan dan penguatan identitas nasional.
Filosofi Tugu Malang
FX Domini BB Hera juga menjelaskan filosofi bagian dasar tugu berbentuk teratai atau padmasana yang merujuk simbol kesucian dalam tradisi arsitektur klasik.
“Di atas padmasana ada kesucian yang bernama Indonesia dan Pancasila serta simbol keberanian bambu runcing,” jelasnya.
Dalam napak tilas tersebut, peserta juga diajak melihat tiga batu peninggalan keluarga Oosterhuis yang berada tak jauh dari kawasan tugu. Batu-batu itu menjadi penanda lapisan sejarah kolonial hingga revolusi yang masih tersisa di ruang kota.
“Secara trivia, batu-batu itu adalah sumbangsih dari keluarga Oosterhuis yang memang sepertinya keluarga yang sering bermigrasi ke Hindia Belanda, ke Nusantara ini,” ungkap FX Domini BB Hera.
Dalam catatan Warita Indonesia, batu tersebut sempat akan dibongkar, namun aktivis cagar budaya meminta agar tetap dipertahankan sebagai bagian dari jejak sejarah, menunjukkan bahwa ruang ini menyimpan lapisan sejarah kolonial hingga revolusi.
Melalui kegiatan ini, Warita Project Indonesia menempatkan sejarah bukan sekadar arsip masa lalu, melainkan pengalaman belajar yang dapat direkam, dipahami, dan disebarluaskan kembali melalui video pendek. Keterlibatan jurnalis TIMES Indonesia dalam kegiatan tersebut memperkuat fungsi media sebagai penghubung antara ruang sejarah dan publik.
Bagi FX Domini BB Hera, tidak semua publik memahami narasi besar di balik Tugu Malang. Karena itu, napak tilas ini menjadi upaya menghadirkan kembali konteks sejarah di tengah ruang yang kini tampak biasa. Tugu Malang pun dipahami bukan hanya sebagai monumen estetis, melainkan saksi kontestasi simbol dari kolonialisme hingga kebangkitan Republik Indonesia. (*)
Pewarta: Firyanka Mirna Wahita
Simak breaking news dan berita pilihan TIMES Indonesia langsung dari WhatsApp-mu!
Klik 👉 Channel TIMES Indonesia
Pastikan WhatsApp kamu sudah terpasang.

