Advertisement
Peristiwa Daerah

Jembatan Sentong Bondowoso Tutup Total Membuat Sejumlah Jalan Alternatif Padat

Jembatan Sentong di Jalan Mastrip Nangkaan ambruk dan ditutup total. Warga keluhkan jalur alternatif yang jauh dan macet.

TIMES Indonesia,
Jembatan Sentong Bondowoso Tutup Total Membuat Sejumlah Jalan Alternatif Padat
Salah satu jalan alternatif padat dengan kendaraan saat jam-jam berangkat kerja dan sekolah setelah Jembatan Sentong Ambruk (FOTO: Moh Bahri/TIMES Indonesia)
A-AA+

BONDOWOSO Jembatan Sentong di Jalan Mastrip Nangkaan akhirnya ambruk pada Senin sore (23/2/2026), setelah sebelumnya dilaporkan mengalami keretakan sejak Desember lalu. 

Runtuhnya jembatan tersebut memaksa pemerintah menutup total akses lalu lintas demi alasan keselamatan.

Advertisement

Keputusan penutupan diambil usai rapat koordinasi yang digelar tim gabungan pada Senin malam. 

Hasilnya, Jembatan Sentong dinyatakan tidak layak dilintasi seluruh jenis kendaraan, baik roda dua, roda empat, maupun kendaraan berat.

Kasi Pembangunan dan Peningkatan Jalan UPT PJJ Jember Dinas PU Bina Marga Jawa Timur, Budi Hartono menjelaskan, langkah pertama yang dilakukan setelah insiden adalah mengalihkan arus lalu lintas sepenuhnya.

“Jembatan sudah tidak memungkinkan dilewati kendaraan apa pun. Demi keselamatan, akses harus ditutup total,” ujarnya.

Penutupan tersebut membuat arus kendaraan dialihkan ke jalur alternatif yang telah disiapkan. Sejumlah petugas dibantu warga setempat tampak berjaga di sekitar lokasi untuk menghentikan pengendara yang hendak melintas dan mengarahkan mereka ke rute pengganti.

Advertisement

Namun, kebijakan itu memicu keluhan dari masyarakat. Ervan, warga Kelurahan Tamansari, mengaku harus menempuh jarak lebih jauh dari biasanya. 

Selain memakan waktu, kondisi jalur alternatif yang sempit dan padat membuat konsumsi bahan bakar meningkat.

“Muternya jauh, jalannya juga macet. BBM jadi lebih boros,” keluhnya saat dikonfirmasi, Selasa (24/2/2026). 

Ia berharap pemerintah segera mengambil langkah perbaikan, mengingat arus lalu lintas diperkirakan meningkat menjelang musim mudik Lebaran.

“Sebentar lagi masuk masa mudik. Biasanya ramai, apalagi banyak warga luar kota datang. Harus ada solusi cepat,” tegasnya.

Keluhan serupa disampaikan Wahyudi, warga Desa Kejawan, Kecamatan Grujugan. Sejak penutupan jembatan, arus kendaraan di sekitar permukimannya melonjak drastis hingga sering terjadi kemacetan.

“Sekarang mau menyeberang jalan saja harus menunggu lama,” katanya.

Hingga kini, pemerintah masih menyiapkan langkah penanganan lanjutan untuk memastikan akses transportasi warga dapat kembali normal secepat mungkin.(*)

Simak breaking news dan berita pilihan TIMES Indonesia langsung dari WhatsApp-mu!
Klik 👉 Channel TIMES Indonesia
Pastikan WhatsApp kamu sudah terpasang.

Moh Bahri
PenulisMoh BahriSarjana Sosial (S.Sos) Universitas Islam Negeri Kiai Haji Achmad Siddiq atau UIN KHAS Jember (2018). Bergabung di TIMES Indonesia sejak 2018 (Tugas di Kabupaten Bondowoso). Meliput berbagai topik: Politik, peristiwa, hukum, ekonomi, budaya, kuliner dan isu-isu lainnya di daerah.
Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp TIMES Indonesia