Advertisement
Peristiwa Daerah

Semarak Lomba Musik Pengantar Sahur Probolinggo, Paduan Tradisi dan Kreativitas Lokal

Bukan sekadar bangunkan sahur! Lomba musik tradisional di Ponpes Zainul Hasan Genggong Probolinggo ini, menjadi ajang pelestarian budaya yang spektakuler. Simak kemeriahannya.

TIMES Indonesia,
Semarak Lomba Musik Pengantar Sahur Probolinggo, Paduan Tradisi dan Kreativitas Lokal
Sejumlah peserta Musik Pengantar Sahur sedang menunjukkan kebolehannya. (Foto: Abdul Jalil/TIMES Indonesia)
A-AA+

Probolinggo Bulan suci Ramadan di Kabupaten Probolinggo, Jatim, semakin semarak dengan digelarnya Lomba Musik Pengantar Sahur di Ponpes Zainul Hasan Genggong, Rabu (25/2/2026) malam.

Acara yang dirancang sebagai ajang adu kreativitas berbasis tradisional ini berlangsung dengan meriah dan berhasil menyedot perhatian ribuan warga.

Advertisement

Perlombaan ini mengambil titik kumpul awal (start) di kawasan Pabrik Gula (PG) Pajarakan. Tercatat ada lebih dari 50 tim dari berbagai lapisan masyarakat yang berpartisipasi. 

Dari titik tersebut, para peserta berjalan kaki menempuh rute sejauh kurang lebih tiga kilometer menuju garis akhir (finish) di area Pesantren Zainul Hasan Genggong.

Menonjolkan Identitas Budaya Lokal dan Nilai Islami

Musik-Pengantar-Sahur-2.jpg
Sesuai dengan tujuannya untuk melestarikan budaya, perlombaan ini mewajibkan pesertanya untuk menggunakan alat musik tradisional. 

Alunan musik murni dihasilkan dari perpaduan kentongan bambu, bedug, dan berbagai alat perkusi buatan sendiri. Setiap tim membawakan beragam jenis lagu, mulai dari selawat hingga lagu daerah, yang diaransemen dengan nada yang bervariasi.

Selain musikalitas, setiap regu tampil kompak mengenakan seragam yang mengusung nuansa Islami. Penampilan para peserta semakin lengkap dengan hadirnya beberapa tim yang membawa kereta hias. 

Advertisement

Kereta-kereta tersebut didekorasi sedemikian rupa dengan berbagai ornamen dan lampu yang memperkuat identitas acara penunjang syiar Islam ini.

Bupati Probolinggo, Gus Mohammad Haris menyampaikan, ajang perlombaan musik sahur ini memiliki peran strategis dalam menjaga identitas budaya masyarakat Probolinggo di era modern.

"Kegiatan ini bukan sekadar rutinitas membangunkan warga untuk sahur, tetapi telah menjelma menjadi etalase pelestarian budaya dan ajang adu kreativitas yang sangat positif," ujar Gus Haris.

Lebih lanjut, ia menambahkan bahwa perlombaan semacam ini memberikan dampak sosial yang konstruktif bagi masyarakat. "Ajang ini terbukti efektif mempererat tali silaturahmi antarwarga, sekaligus menumbuhkan kecintaan generasi muda terhadap kesenian tradisional bernuansa Islami di bulan suci Ramadan," tambahnya.

Melalui medium kompetisi yang sehat, Lomba Musik Pengantar Sahur ini sukses merawat kekayaan seni budaya lokal, menyatukan berbagai lapisan masyarakat, dan menghadirkan hiburan yang penuh keberkahan. (*)

Simak breaking news dan berita pilihan TIMES Indonesia langsung dari WhatsApp-mu!
Klik 👉 Channel TIMES Indonesia
Pastikan WhatsApp kamu sudah terpasang.

Abdul Jalil
PenulisAbdul JalilJurnalis Muda wilayah Probolinggo yang telah bergabung bersama TIMES Indonesia sejak tahun 2020. Fokus peliputan pada Pemerintahan, Politik, Sosial dan Budaya.
Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp TIMES Indonesia