Advertisement
Peristiwa Daerah

Kolaborasi Dinsos Jatim dan IKA Unair Hadirkan Pondok Ramadan untuk Sahabat Tuli

Dinsos Jawa Timur bersama IKA Unair, RQST, dan YDSF menggelar Pondok Ramadan bagi penyandang tuli dengan pembelajaran agama berbasis bahasa isyarat serta layanan kesehatan.

TIMES Indonesia,
Kolaborasi Dinsos Jatim dan IKA Unair Hadirkan Pondok Ramadan untuk Sahabat Tuli
Dinas Sosial Provinsi Jawa Timur menggandeng IKA Universitas Airlangga, Rumah Qur’an Sahabat Tuli (RQST), serta Yayasan Dana Sosial Al Falah (YDSF) menggelar kegiatan Pondok Ramadan bagi penyandang disabilitas tuli (dok IKA Unair)
A-AA+

SURABAYA Dinas Sosial Provinsi Jawa Timur menggandeng Ikatan Alumni Universitas Airlangga (IKA Unair), Rumah Qur’an Sahabat Tuli (RQST), serta Yayasan Dana Sosial Al Falah (YDSF) menggelar kegiatan Pondok Ramadan bagi penyandang disabilitas tuli.

Kegiatan yang berlangsung di lingkungan Kantor Dinas Sosial Jawa Timur ini menjadi bagian dari upaya menghadirkan ruang ibadah yang lebih inklusif sekaligus memperkuat pemahaman keagamaan bagi teman-teman tuli selama bulan suci Ramadan 1447 Hijriah.

Advertisement

Program tersebut dirancang khusus untuk memenuhi kebutuhan spiritual penyandang disabilitas sensorik rungu wicara. Berbeda dengan pesantren kilat pada umumnya, seluruh rangkaian kegiatan dipandu oleh instruktur dan pendamping yang menguasai bahasa isyarat, sehingga materi keagamaan dapat dipahami peserta tanpa hambatan komunikasi.

Dinas-Sosial-Provinsi-Jawa-Timur-b.jpg

Selama kegiatan berlangsung, peserta mengikuti berbagai aktivitas keagamaan. Di antaranya tausiah yang membahas fikih dan akhlak menggunakan bahasa isyarat yang mudah dipahami, serta tadarus Al-Qur’an isyarat dengan metode visual untuk membantu membaca dan memahami ayat-ayat suci.

Kegiatan juga diisi dengan praktik ibadah, seperti pendalaman tata cara salat dan wudu yang benar. Suasana kebersamaan semakin terasa saat peserta mengikuti buka puasa bersama yang menjadi ajang silaturahmi antara penyandang disabilitas, relawan, dan petugas sosial.

Rangkaian kegiatan ditutup dengan doa khatam Al-Qur’an yang menjadi puncak kegiatan spiritual sekaligus motivasi bagi para peserta agar terus berinteraksi dengan Al-Qur’an dalam kehidupan sehari-hari.

Advertisement

Kepala Dinas Sosial Provinsi Jawa Timur, Restu Novi Widiani, mengatakan kegiatan Pondok Ramadan bagi penyandang disabilitas tuli rutin digelar setiap tahun sebagai bentuk perhatian pemerintah terhadap kelompok rentan.

“Kegiatan ini dilaksanakan setiap tahun selama dua hari. Dukungan dari berbagai pihak juga sangat besar sehingga pelaksanaannya dapat berjalan dengan baik,” kata Restu, Sabtu (8/3/2026).

Sementara itu, perwakilan IKA Universitas Airlangga Abdullah Machin menyampaikan bahwa pihaknya juga melibatkan tenaga medis untuk memberikan layanan kesehatan bagi para peserta.

Abdullah Machin yang juga menjabat Wakil Dekan II Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga periode 2025–2030 menjelaskan, kegiatan ini bekerja sama dengan dokter spesialis THT dari RSUD Dr. Soetomo untuk melakukan pemeriksaan kesehatan pendengaran.

“Mungkin masih ada sisa-sisa pendengaran yang bisa dibantu dengan alat bantu dengar bagi mereka,” ungkap pria yang akrab disapa Gus Machin.

Dinas-Sosial-Provinsi-Jawa-Timur-c.jpg

Manajer Yayasan Dana Sosial Al Falah, Muhammad Nasrulloh, menilai kolaborasi dalam kegiatan Pondok Ramadan ini merupakan bentuk nyata kepedulian sosial kepada penyandang disabilitas.

“Momentum Ramadan menjadi waktu yang tepat untuk memperkuat kegiatan kemanusiaan yang memberi manfaat langsung bagi masyarakat,” ujarnya.

Sementara itu, Ketua Rumah Qur’an Sahabat Tuli Maskurun mengaku antusias dengan penyelenggaraan kegiatan tersebut. Menurutnya, Pondok Ramadan kali ini semakin lengkap karena selain kegiatan keagamaan, peserta juga mendapatkan layanan kesehatan serta paket bingkisan.

“Ini menjadi berkah Ramadan bagi sahabat tuli,” ujarnya.

Maskurun berharap kegiatan serupa dapat terus dilaksanakan setiap tahun dan diperluas ke berbagai daerah di Jawa Timur. Saat ini komunitas sahabat tuli telah tersebar di sedikitnya 22 cabang, sehingga diperlukan dukungan lebih luas agar pembinaan keagamaan bagi penyandang disabilitas dapat menjangkau lebih banyak wilayah.

“Kalau hanya di Dinsos Jatim, masih banyak yang belum bisa merasakan, terutama yang lokasinya jauh,” pungkasnya. (*)

Simak breaking news dan berita pilihan TIMES Indonesia langsung dari WhatsApp-mu!
Klik 👉 Channel TIMES Indonesia
Pastikan WhatsApp kamu sudah terpasang.

Rudi Mulya
PenulisRudi MulyaSarjana Ilmu Sosial (S.Sos) Universitas Dr. Soetomo, Surabaya. Bergabung di TIMES Indonesia sejak 2016. Fotografer dan Meliput berbagai topik, termasuk politik, hukum, Pemerintahan, Pendidikan, Seni, Budaya dan Isu Nasional
Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp TIMES Indonesia