Advertisement
Peristiwa Daerah

Tak Sampai Watu Dodol, Puter Kayun Banyuwangi Tahun Ini Berputar di Kawasan Kota

Tradisi sakrat Puter Kayun yang rutin digelar warga Kelurahan Boyolangu, Kecamatan Giri, Banyuwangi, setiap Syawal tahun ini berlangsung sedikit berbeda.

TIMES Indonesia,
Tak Sampai Watu Dodol, Puter Kayun Banyuwangi Tahun Ini Berputar di Kawasan Kota
Tradisi Puter Kayun warga Kelurahan Boyolangu, Kecamatan Giri, Banyuwangi. (FOTO: Humas Pemkab for TIMES Indonesia)
A-AA+

BANYUWANGI Tradisi sakrat Puter Kayun yang rutin digelar warga Kelurahan Boyolangu, Kecamatan Giri, Banyuwangi, setiap Syawal tahun ini berlangsung sedikit berbeda. Arak-arakan dokar hias yang biasanya menempuh perjalanan hingga Pantai Watu Dodol, kali ini hanya berputar di kawasan kota.

Perubahan rute tersebut terpaksa dilakukan karena kepadatan lalu lintas menuju Pelabuhan Ketapang yang menyebabkan jalur ke arah Watu Dodol mengalami kemacetan panjang.

Advertisement

Meski demikian, esensi tradisi tetap terjaga. Warga Boyolangu tetap melaksanakan napak tilas pada Senin (30/3/2026), sebagai bentuk menepati janji kepada leluhur yang telah berjasa membuka akses jalan di kawasan utara Banyuwangi.

Sejak pagi, dua dokar yang telah dihias megah tampak siap mengiringi jalannya ritual. Kusir pun bersiap, termasuk Abdul Mufid (65), salah satu kusir senior yang setia menjaga tradisi ini sejak puluhan tahun lalu.

“Saya sudah menjadi kusir sejak tahun 1971. Setiap tahun selalu mengikuti tradisi Puter Kayun bersama-sama warga disini. Karena pada tradisi ini yang terpenting adalah napak tilasnya,” kata Mufid, Senin (30/3/2026).

Tradisi Puter Kayun sendiri merupakan napak tilas perjuangan Ki Buyut Jakso, sosok leluhur warga Boyolangu yang diyakini sebagai pembuka jalan di wilayah utara Banyuwangi.

Ketua Panitia Puter Kayun, sekaligus tokoh pemuda Boyolangu, Risyal Alfani, menjelaskan bahwa kisah tersebut berawal saat masa penjajahan Belanda. Kala itu, wilayah utara Banyuwangi terhalang gundukan tanah yang sulit ditembus.

Advertisement

“Konon, saat membuka jalan di sebelah utara, Belanda meminta bantuan pada Ki Buyut Jakso karena bagian utara ada gundukan gunung yang tidak bisa dibongkar. Ki Jakso lalu bersemedi dan tingga di Gunung Silangu yang sekarang menjadi Boyolangu. Atas kesaktiannya, akhirnya di abisa membuka jalan tersebut sehingga wilayah itu diberi nama Watu Dodol, yang artinya watu didodol (dibongkar),” jelas Risyal.

Risyal mengisahkan, sejak saat itu Ki Buyut Jakso berpesan agar keturunannya rutin melakukan napak tilas ke Pantai Watu Dodol sebagai bentuk penghormatan atas perjuangannya.

“Karena saat itu hampir semua masyarakat Boyolangu berprofesi sebagai kusir dokar, maka mereka mengendarai dokar untuk napak tilasnya,” ungkapnya.

Namun pada pelaksanaan tahun ini, keterbatasan akses membuat rombongan tidak bisa melanjutkan perjalanan hingga tujuan akhir. Sejumlah warga yang biasanya mengikuti iring-iringan menggunakan mobil pun harus beralih ke sepeda motor untuk menghindari kemacetan.

Di sisi lain, Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Banyuwangi tetap mendukung penuh pelestarian tradisi tersebut.

“Pemkab Banyuwangi berkomitmen untuk mengangkat dan melestarikan tradisi lokal masyarakat, termasuk tradisi Puter Kayun Boyolangu ini. Selain untuk menjaga tradisi dan ritual yang ada, tradisi ini juga bagian dari atraksi wisata di Banyuwangi,” kata Plt Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Banyuwangi, Hartono.

Sebagai rangkaian acara, warga Boyolangu juga menggelar Boyolangu Traditional Culture yang dimulai sejak 7 Syawal melalui tradisi Lebaran Kopat, dilanjutkan dengan Tradisi Kebo-keboan pada 9 Syawal, sebelum puncaknya di Ritual Puter Kayun pada 10 Syawal.

Meski tahun ini rutenya tak sampai Watu Dodol, semangat warga untuk menjaga warisan leluhur tetap tak surut. Tradisi Puter Kayun pun terus hidup, menjadi pengingat akan sejarah sekaligus identitas budaya masyarakat Boyolangu. (*)

Simak breaking news dan berita pilihan TIMES Indonesia langsung dari WhatsApp-mu!
Klik 👉 Channel TIMES Indonesia
Pastikan WhatsApp kamu sudah terpasang.

Muhamad Ikromil Aufa
PenulisMuhamad Ikromil AufaPenulis di TIMES Indonesia yang bergabung sejak 2024. Meliput berbagai topik, antara lain politik, hukum, kriminal, ekonomi, gaya hidup, teknologi, budaya, pemerintahan, serta isu-isu nasional.
Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp TIMES Indonesia