Mbah Sri, 73 Tahun Tetap Berjuang Menjual Jajanan Tradisional di Sudut Kampus UB
Kisah Mbah Sri, nenek 73 tahun di Malang yang tetap berjualan jajanan tradisional demi bertahan hidup, menjadi inspirasi tentang keteguhan dan semangat di usia senja.
MALANG – Di tengah hiruk pikuk Malang dan aktivitas mahasiswa, terselip kisah inspiratif dari seorang nenek tangguh. Di sudut Fakultas Kedokteran Universitas Brawijaya, Sri Suwarni atau yang akrab disapa Mbah Sri, tetap setia menunggu pembeli di usianya yang ke-73 tahun.
Alih-alih menikmati masa tua dengan beristirahat, Mbah Sri memilih terus berjualan demi memenuhi kebutuhan hidup. Ia menjajakan berbagai jajanan tradisional seperti cenil, lupis, klepon, hingga sate rempelo. Setiap sore, ia berangkat menggunakan mikrolet menuju gerbang Veteran Universitas Brawijaya, berharap dagangannya laku dan bisa segera pulang.
Rutinitas tersebut telah ia jalani sejak muda. Ketekunan dan semangatnya menjadi cerminan perjuangan hidup yang tak lekang oleh usia.
Saat ditemui di rumahnya pada 15 Maret 2026, Mbah Sri tengah sibuk menyiapkan pesanan pelanggan di dapur sederhana miliknya.
“Nduk, ini mbah masih nyiapin pesenannya orang,” ujarnya.

Keramahan menjadi ciri khas Mbah Sri saat berdagang. Ia kerap memberikan tester kepada pembeli, memastikan rasa dagangannya sesuai selera. Bahkan, jika dagangannya tidak habis, ia memilih membagikannya kepada orang-orang di sekitarnya.
“Kalau dagangannya nggak habis ya tak bagikan,” katanya.
Soal penghasilan, Mbah Sri tidak pernah menghitung secara rinci. Baginya, yang terpenting adalah cukup untuk kebutuhan sehari-hari seperti beras, kopi, gula, dan tepung. Jika ada sisa, ia menyisihkan sekitar Rp15 ribu hingga Rp25 ribu untuk ditabung.
Di balik ketegarannya, ada kenyataan yang cukup memprihatinkan. Di usia senja, Mbah Sri belum memiliki jaminan kesehatan dan hanya mengandalkan tabungan kecil dari hasil jualannya.
Ia tinggal bersama salah satu anaknya, sementara kebutuhan makan kerap dibantu oleh anak-anaknya yang lain, meski sering ia tolak karena tidak ingin merepotkan.
Bagi Mbah Sri, berdagang bukan sekadar mencari nafkah, melainkan bagian dari hidup yang telah ia jalani selama puluhan tahun. Dengan kesabaran dan keikhlasan, ia terus melangkah, menjadi inspirasi bahwa semangat hidup tidak mengenal batas usia. (*)
Simak breaking news dan berita pilihan TIMES Indonesia langsung dari WhatsApp-mu!
Klik 👉 Channel TIMES Indonesia
Pastikan WhatsApp kamu sudah terpasang.


