Advertisement
Peristiwa Daerah

Dosen UGM Ungkap Dugaan Penyebab Paus Pilot Terdampar di Rote NTT

Sebanyak 55 paus pilot ditemukan terdampar, dengan 21 ekor dilaporkan mati dan 34 lainnya berhasil diselamatkan.

TIMES Indonesia,
Dosen UGM Ungkap Dugaan Penyebab Paus Pilot Terdampar di Rote NTT
Paus terdampar di pantai dikarenakan gangguan ekolokasi (FOTO: Humas UGM for TIMES Indonesia)
A-AA+

YOGYAKARTA Insiden terdamparnya puluhan paus pilot di perairan Rote Ndao, Nusa Tenggara Timur (NTT) menjadi perhatian Dosen Fakultas Biologi Universitas Gadjah Mada (UGM), Akbar Reza.

Isiden itu diduga berkaitan dengan gangguan sistem navigasi alami. Dan Akbar Reza menyebut kerusakan organ ekolokasi sebagai salah satu faktor yang paling mungkin terjadi.

Advertisement

Peristiwa ini terjadi di pesisir Pantai Mbadokai, Desa Deranitan dan Desa Fuafuni, Rote Barat Daya, pada Senin (9/3/2026). Sebanyak 55 paus pilot ditemukan terdampar, dengan 21 ekor dilaporkan mati dan 34 lainnya berhasil diselamatkan.

Akbar menilai kejadian tersebut perlu menjadi perhatian serius, mengingat paus pilot merupakan satwa yang dilindungi penuh. Ia juga menyoroti keterbatasan data global terkait populasi spesies ini.

“Kalau kita lihat dari data IUCN, kita belum punya kepastian soal kondisi populasinya secara global, apakah meningkat, menurun, atau stabil,” ujarnya, Selasa (31/3).

Menurutnya, fenomena paus terdampar bukan kejadian baru di Indonesia.

Dalam beberapa tahun terakhir, kasus serupa tercatat di berbagai wilayah seperti Alor, Sabu Raijua, dan Madura. Hal ini menunjukkan adanya indikasi gangguan ekologis di perairan.

Advertisement

Ia menjelaskan, wilayah NTT dan sekitarnya merupakan jalur migrasi paus, khususnya pada awal hingga pertengahan tahun. Pada periode ini, paus berpindah dari perairan dingin di selatan menuju wilayah tropis yang lebih hangat.

Akbar menegaskan bahwa penyebab pasti kematian paus masih menunggu hasil nekropsi. Namun, berdasarkan penelitian sebelumnya, kerusakan organ ekolokasi menjadi salah satu temuan yang kerap muncul.

Ekolokasi berfungsi sebagai alat navigasi paus melalui pantulan gelombang suara. Gangguan pada sistem ini dapat disebabkan oleh berbagai aktivitas manusia, seperti lalu lintas kapal, survei seismik, hingga penggunaan sonar dalam eksplorasi energi.

“Kondisi ini bisa mengganggu kemampuan paus dalam menentukan arah, sehingga berujung pada terdampar,” jelasnya.

Selain itu, pencemaran laut seperti plastik, jaring nelayan, serta kualitas air yang buruk juga turut memengaruhi kesehatan paus.

Faktor lingkungan seperti dasar laut berpasir dan berlumpur di wilayah NTT juga dinilai memperlemah pantulan gelombang suara.

“Ketika ekolokasi terganggu, paus seperti kehilangan sensor. Mereka tidak menyadari sudah berada di perairan dangkal,” tambahnya.

Sifat paus pilot yang hidup berkelompok juga menjadi faktor yang memperbesar dampak. Jika satu individu tersesat, kelompok lainnya cenderung mengikuti hingga akhirnya terdampar bersama.

Akbar menekankan pentingnya penelitian lebih lanjut, termasuk nekropsi, untuk memastikan penyebab kematian secara ilmiah. Namun, keterbatasan tenaga ahli dan fasilitas masih menjadi tantangan.

Ia juga mendorong upaya mitigasi, seperti pemetaan jalur migrasi dan pengaturan aktivitas laut, guna mengurangi risiko kejadian serupa di masa mendatang. (*)

Simak breaking news dan berita pilihan TIMES Indonesia langsung dari WhatsApp-mu!
Klik 👉 Channel TIMES Indonesia
Pastikan WhatsApp kamu sudah terpasang.

A. Tulung
PenulisA. TulungSarjana Peternakan Universitas Mercu Buana Yogyakarta (UMBY) Tahun 2006 dan Magister Manajemen Universitas Teknologi Yogyakarta (2017). Bergabung di TIMES Indonesia sejak 2019. Wilayah Daerah Istimewa Yogyakarta Meliput berbagai topik, termasuk politik, hukum, sains, seni, budaya dan pemerintahan.
Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp TIMES Indonesia