Advertisement
Peristiwa Daerah

Uji Coba MBG Prasmanan Perdana di MIN 2 Kota Malang, 1.300 Siswa Ambil Makan Sendiri

Menu MBG disajikan dengan konsep prasmanan atau buffet di MIN 2 Kota Malang.

TIMES Indonesia,
Uji Coba MBG Prasmanan Perdana di MIN 2 Kota Malang, 1.300 Siswa Ambil Makan Sendiri
Suasana pembagian menu MBG dengan metode prasmanan di MIN 2 Kota Malang. (FOTO: Rizky/TIMES Indonesia)
A-AA+

Malang Terobosan baru dilakukan Satuan Pelayanan Pemakanan Bergizi (SPPG) Kota Malang Unit Gadang 2 dalam penyaluran program Makan Bergizi Gratis (MBG). Untuk pertama kalinya, menu MBG disajikan dengan konsep prasmanan atau buffet di MIN 2 Kota Malang, Kamis (2/4/2026) pagi.

Dalam pelaksanaan uji coba ini, para siswa tidak lagi menerima makanan dalam kotak siap santap. Sebaliknya, mereka secara bergiliran mengambil sendiri menu yang telah disediakan di meja panjang, layaknya sistem prasmanan.

Advertisement

Kepala SPPG Kota Malang Unit Gadang 2, Ita Herlistyawati mengatakan, skema ini merupakan uji coba perdana yang sekaligus menindaklanjuti arahan dari Badan Gizi Nasional (BGN). Momentum pasca-Lebaran dan kegiatan halalbihalal di sekolah dimanfaatkan untuk menguji efektivitas metode tersebut.

“Ini uji coba pertama kami. Harapannya, kalau memang efektif, ke depan konsep prasmanan bisa diterapkan lebih luas,” ujar Ita, Kamis (2/4/2026).

Sebanyak 1.300 porsi makanan disiapkan untuk siswa dan tenaga kependidikan. Menu yang disajikan pun bernuansa khas Lebaran, mulai dari ayam, krecek, sayur labu siam dengan tempe, telur kecap, hingga es buah sebagai hidangan penutup.

MBG - 1

Untuk menghindari antrean panjang, pihak sekolah membagi alur pengambilan makanan menjadi lima barisan atau section. Dengan skema ini, siswa dapat bergerak lebih tertib dan merata saat mengambil hidangan.

Advertisement

Meski siswa diberi kebebasan mengambil makanan sendiri, pengawasan tetap dilakukan secara ketat. Tim pemorsian dari SPPG ditempatkan di setiap titik pengambilan untuk memastikan porsi tetap sesuai standar gizi dan mencegah pengambilan berlebih.

“Memang terlihat ambil sendiri, tapi tetap diawasi. Tim kami mengarahkan agar anak-anak mengambil sesuai kebutuhan gizi yang sudah ditentukan,” ungkapnya.

Di balik inovasi tersebut, Ita mengakui adanya tantangan, terutama dari sisi logistik. Berbeda dengan sistem reguler yang menggunakan wadah individual atau ompreng, konsep prasmanan membutuhkan pengangkutan peralatan dalam jumlah besar, sehingga lebih kompleks dalam distribusi.

Evaluasi menyeluruh akan dilakukan, terutama terkait efektivitas waktu pelayanan dan kendala teknis di lapangan. Hasil evaluasi ini akan menjadi dasar penentuan apakah sistem prasmanan layak diterapkan secara berkelanjutan atau perlu perbaikan.

“Kalau memang masih ada kendala, tentu akan kami evaluasi dan cari solusi bersama,” ucapnya.

Sementara, Siswi Kelas 6 MIN 2 Kota Malang, Naura mengaku senang dengan metode prasmanan ini. Ia menyebut, lauk yang dihadirkan lebih bervariasi, masih panas dan bisa memilih.

“Iya senang begini, makanannya enak,” kata Naura.

Dengan uji coba ini, ia mengaku lebih memilih metode prasamanan ketimbang sistem seperti biasanya yang telah berjalan selama ini.

“Milih prasmanan. Kalau bisa sering-sering begini,” tandasnya. (*) 

Simak breaking news dan berita pilihan TIMES Indonesia langsung dari WhatsApp-mu!
Klik 👉 Channel TIMES Indonesia
Pastikan WhatsApp kamu sudah terpasang.

Rizky Kurniawan Pratama
PenulisRizky Kurniawan PratamaSarjana Ilmu Komunikasi Universitas Merdeka Malang (2019). Bergabung di TIMES Indonesia sejak 2020. Meliput berbagai topik, termasuk Politik, Hukum, Kriminal, Ekonomi, Budaya dan Pemerintahan.
Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp TIMES Indonesia