Sempat Vakum Lima Tahun, BJB Fest 2026 Siap Digelar di Dusun Busu Malang
Setelah vakum sejak 2020, Busu Jaman Biyen Festival (BJB Fest) kembali hadir pada April 2026 di Kabupaten Malang. Mengusung tema rekonsiliasi budaya, festival ini menjadi ruang pelestarian tradisi sekaligus penggerak ekonomi kreatif desa.
MALANG – Setelah lebih dari lima tahun vakum, geliat kebudayaan di Dusun Busu, Desa Slamparejo, Kecamatan Jabung, Kabupaten Malang, kembali bangkit. Warga setempat tengah bersiap menyelenggarakan Busu Jaman Biyen Festival (BJB Fest) 2026, sebuah perhelatan yang tidak hanya menawarkan nostalgia, tetapi juga menjadi ruang rekonsiliasi budaya di atas tanah adat.
Festival khas Malang Timur ini dijadwalkan berlangsung pada 10–12 April 2026 dengan mengusung tema "Rekonsiliasi Budaya di Tanah Adat". Gagasan ini menekankan urgensi pemeliharaan warisan leluhur di tengah arus perubahan zaman yang kian masif.
BJB Fest merupakan inisiatif murni dari komunitas "Busu Jaman Biyen", kelompok masyarakat yang konsisten mempromosikan pola hidup tradisional, mulai dari adat istiadat hingga kuliner kuno. Sejak debutnya pada 2017, festival ini telah mencuri perhatian publik karena konsepnya yang unik; membawa pengunjung menyelami suasana pedesaan klasik dan kearifan lokal yang autentik.

Langkah festival ini sempat terhenti cukup lama akibat pandemi COVID-19 serta dampak wabah Penyakit Mulut dan Kuku (PMK). Namun, pada tahun 2026 ini, api semangat tersebut kembali dikobarkan.
“Setelah lima tahun vakum, kami ingin menghadirkan kembali semangat kebudayaan masyarakat sekaligus memperkuat identitas lokal,” ujar Kusnadi (43), Penanggung Jawab BJB Fest 2026.
Penyelenggaraan tahun ini juga menandai langkah maju dalam tata kelola festival. Panitia berupaya memperkuat fondasi kegiatan melalui pengajuan dukungan pendanaan dari Dana Indonesia. Hal ini menegaskan bahwa festival rakyat memiliki potensi besar sebagai penggerak ekonomi kreatif bagi masyarakat perdesaan.
Rangkaian BJB Fest 2026 akan dibuka dengan pra-acara yang melibatkan komunitas seni Ekram Malang Dance di bawah arahan koreografer Winarto. Mereka akan menyuguhkan pertunjukan teater tari bertajuk "Pengakuan Rahwana ke-55".

Pementasan tersebut menawarkan interpretasi segar terhadap tokoh Rahwana dalam wiracarita Ramayana. Jika biasanya Rahwana digambarkan sebagai sosok antagonis, pertunjukan ini justru mengeksplorasi sisi humanis sang tokoh.
“Rahwana tidak hanya tentang ambisi dan kekuasaan. Ada nilai cinta sejati yang menjadi roh kehidupannya,” tutur Winarto.
Dalam interpretasi seni tersebut, cinta Rahwana kepada Shinta digambarkan bukan karena ketertarikan fisik semata, melainkan karena titisan "Widyowati" yang ada di dalam diri Shinta. Ini menjadi simbol bahwa cinta sejati bersifat transendental dan menjadi esensi dari kehidupan manusia.
BJB Fest 2026 diharapkan mampu menjadi titik temu lintas generasi, di mana nilai-nilai tradisional bersinergi dengan semangat modern. Selain sebagai ajang pelestarian, geliat festival ini diyakini akan memberikan dampak ekonomi nyata bagi pelaku UMKM kuliner tradisional dan seniman lokal.
Di tengah gempuran modernitas, Busu Jaman Biyen Festival menjadi pengingat bahwa identitas budaya bukan untuk ditinggalkan, melainkan untuk dirawat dan diwariskan sebagai pijakan kokoh menuju masa depan. (*)
Simak breaking news dan berita pilihan TIMES Indonesia langsung dari WhatsApp-mu!
Klik 👉 Channel TIMES Indonesia
Pastikan WhatsApp kamu sudah terpasang.


