Advertisement
Peristiwa Daerah

Tanam Padi Diserbu Kera, Petani Donorojo Pacitan Beralih ke Tembakau

Lahan yang sebelumnya ditanami padi kini mulai dialihkan ke tembakau, tanaman yang dianggap lebih aman dari gangguan satwa liar.

TIMES Indonesia,
Tanam Padi Diserbu Kera, Petani Donorojo Pacitan Beralih ke Tembakau
Lahan tembakau di Pacitan. (FOTO: Yusuf Arifai/TIMES Indonesia)
A-AA+

PACITAN Serangan kera liar yang tak kunjung reda di Kecamatan Donorojo, Kabupaten Pacitan memaksa petani putar haluan.

Lahan yang sebelumnya ditanami padi kini mulai dialihkan ke tembakau, tanaman yang dianggap lebih aman dari gangguan satwa liar.

Advertisement

Perubahan itu mulai terlihat tahun ini di Desa Widoro. Sedikitnya tiga kelompok tani sudah menanam tembakau di lahan sekitar 5 hingga 6 hektare. Mereka juga menggandeng PT AOI sebagai mitra penampung hasil panen.

Kepala Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian (DKPP) Pacitan, Sugeng Santoso, menyebut langkah ini bukan tanpa alasan. Serangan kera masih kerap terjadi, bahkan makin berani masuk ke area permukiman.

“Masih ada laporan kera masuk ke lahan pertanian, bahkan sampai pekarangan dan tidak takut manusia,” kata Sugeng, Senin (6/4/2026).

Menurutnya, kondisi ini terjadi sejak musim tanam pertama tahun ini. Sementara itu, penanganan kera tidak bisa dilakukan sembarangan karena statusnya sebagai satwa dilindungi.

“Solusinya kami arahkan ke tanaman yang tidak disukai kera tapi tetap punya nilai ekonomi,” ujarnya.

Advertisement

Sugeng menambahkan, tembakau bukan komoditas baru bagi Donorojo. Tanaman ini sempat berjaya pada awal 2000-an, sebelum akhirnya hilang dan kini dicoba lagi.

Untuk menarik minat petani, kebutuhan bibit hingga pupuk difasilitasi melalui pola kemitraan. Pembayaran dilakukan setelah panen, sehingga petani tidak terbebani biaya di awal.

Secara teknis, masa tanam tembakau relatif singkat, sekitar tiga bulan. Penanaman dimulai April, dengan panen diperkirakan berlangsung Juni hingga Agustus. Hasil panen ditargetkan sudah masuk gudang sebelum Oktober.

Selain tembakau, DKPP juga mendorong petani menanam komoditas lain seperti ubi dan ketela rambat. Tanaman ini diproyeksikan sebagai penopang kebutuhan pangan keluarga, terutama di wilayah Donorojo dan Punung.

Tahun ini, luas tanam tembakau di Pacitan ditargetkan menembus lebih dari 600 hektare. Sebagai pembanding, tahun lalu realisasinya sekitar 400 hektare, terkendala curah hujan yang cukup tinggi.

Gagal Panen Akibat Hama Kera

Gelombang serangan kera sebenarnya sudah dirasakan petani sejak tahun lalu. Di Desa Widoro, banyak petani mengaku gagal panen setelah tanaman mereka dirusak kawanan monyet ekor panjang sepanjang 2025.

“Apa pun dirusak. Jagung sebelum panen sudah dirusak kawanan monyet. Kacang ditinggal pulang tahu-tahu ludes,” ujar Kaur Pemerintahan Desa Widoro, Eniati terpisah.

Warga Dusun Widoro, Parmo (51), menyebut serangan kera hampir terjadi setiap hari. Tidak hanya tanaman pangan, kelapa yang menjadi sumber nira juga ikut jadi sasaran.

“Cengkir kelapa dirusak sebelum jadi degan. Kalau sudah rombongan seratusan, itu beberapa rombongan,” tuturnya.

Kondisi itu membuat sebagian penderes memilih mengurangi aktivitas. Selain takut, hasil yang didapat juga tak menentu karena buah sudah lebih dulu dirusak.

“Kalau sudah begitu, air niranya juga susut. Bikin kesal,” imbuh Parmo.

Di sejumlah titik seperti kawasan Banyu Tibo dan tebing-tebing dekat pantai, kawanan kera bahkan kerap muncul di siang hari. Mereka turun tanpa rasa takut terhadap manusia.

Mukadi (75), warga Ngaglik, mengaku ladangnya juga tak luput dari serangan. Ia bahkan pernah berhadapan langsung dengan kawanan kera berukuran besar.

“Ladang saya juga tak luput dari jarahan monyet. Ada yang sempat diserang kawanan seukuran manusia. Berani sama manusia,” ujarnya.

Hal serupa dirasakan Nusrina (42), penderes kelapa yang kini bekerja dengan perasaan was-was.

“Kelapa saya pernah dijarah. Biasanya saya bisa menderes 9 liter air nira. Tapi sekarang was-was,” katanya.

Sejauh ini, warga masih mengandalkan penjagaan bergiliran untuk mengurangi serangan. Namun luasnya area ladang dan pergerakan kera yang sulit diprediksi membuat cara itu belum efektif. (*)

Simak breaking news dan berita pilihan TIMES Indonesia langsung dari WhatsApp-mu!
Klik 👉 Channel TIMES Indonesia
Pastikan WhatsApp kamu sudah terpasang.

Yusuf Arifai
PenulisYusuf ArifaiMagister Ilmu Hukum (MH) Universitas Slamet Riyadi Surakarta, Wartawan Madya Nomor 21969-Unitomo/Wdya/DP/X/2024/21/10/93, Editor Bahasa Arab dan Penulis di TIMES Indonesia yang bergabung sejak 2021.
Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp TIMES Indonesia