Jateng Surplus Pangan di Tengah Ancaman Banjir, Stok Beras Capai 702 Ribu Ton
Jawa Tengah tetap mencatat surplus pangan meski dilanda banjir. Hingga Maret 2026, stok beras mencapai 702 ribu ton dan dinilai aman.
Semarang – Ketahanan pangan Jawa Tengah tetap terjaga meski sejumlah wilayah terdampak banjir yang berpotensi memicu gagal panen. Hingga Maret 2026, neraca beras tercatat surplus sebesar 702.409 ton.
Pemerintah Provinsi Jawa Tengah (Pemprov Jateng) memastikan kondisi swasembada pangan tetap aman di tengah ancaman bencana yang memengaruhi lahan pertanian.
Gubernur Jawa Tengah Ahmad Luthfi menyatakan, produksi pangan di wilayahnya masih surplus dan berkontribusi terhadap kebutuhan nasional, termasuk dalam penyediaan gabah kering.
“Surplus pangan kita kuat. Sekitar 15,6 persen kontribusi sawah dan gabah kering kita turut membantu kebutuhan nasional,” ujar Luthfi usai menghadiri peringatan HUT ke-10 Tribun Solo di Gedung Tribun News, Surakarta, Selasa (7/4/2026).
Ia menambahkan, pemerintah telah menyiapkan skema perlindungan bagi petani yang terdampak bencana, khususnya lahan yang mengalami puso atau gagal panen, melalui dukungan pembiayaan seperti Jamkrida.
“Jika ada sawah terdampak bencana, akan kami fasilitasi melalui Jamkrida agar petani tetap bisa bangkit,” katanya.
Berdasarkan data Dinas Pertanian dan Peternakan Jawa Tengah, selain beras, sejumlah komoditas lain seperti daging dan telur juga mengalami surplus selama periode Januari–Maret 2026.
Kepala Dinas Pertanian dan Peternakan Jawa Tengah, Defransisco Dasilva Tavares, menyebut tren produksi pertanian menunjukkan perkembangan positif. Hingga awal April 2026, produksi padi telah mencapai 4.169.353 ton gabah kering giling (GKG) atau 39,48 persen dari target 10.559.679 ton.
Produksi jagung tercatat 984.959 ton atau 26,62 persen dari target 3,7 juta ton. Sementara itu, kedelai masih pada tahap awal dengan realisasi 762 ton atau 1,44 persen dari target 52.790 ton.
Untuk komoditas hortikultura, produksi bawang merah mencapai 144.705 ton (23,45 persen dari target), dan cabai 80.892 ton (17,72 persen). Di sektor peternakan, produksi telur mencapai 238.154 ton (25,95 persen), daging 311.042 ton (33 persen), serta susu 17.928 ton (23,41 persen).
“Yang perlu menjadi perhatian adalah distribusi agar surplus ini merata dan mampu menjaga stabilitas harga,” ujar Frans.
Untuk mendukung target produksi, Pemprov Jateng menyiapkan berbagai program strategis pada 2026. Di antaranya bantuan benih dan sarana produksi untuk padi seluas 47.200 hektare, jagung 3.200 hektare, kedelai 3.000 hektare, cabai 310 hektare, serta bawang merah TSS seluas 25 hektare.
Dari sisi infrastruktur, pemerintah merehabilitasi 334 paket jaringan irigasi tersier dan membangun 75 paket irigasi perpipaan.
Modernisasi pertanian juga diperkuat melalui distribusi alat dan mesin pertanian, seperti rice transplanter, traktor, pompa air, hingga combine harvester.
Selain itu, perlindungan petani dilakukan melalui program asuransi usaha tani padi seluas 10.449 hektare dan asuransi tembakau 10.000 hektare, serta subsidi suku bunga bagi 800 paket pembiayaan.
Menurut Frans, kebijakan tersebut tidak hanya berfokus pada peningkatan produksi, tetapi juga menjaga keberlanjutan sistem pertanian melalui penguatan luas baku sawah, peningkatan indeks pertanaman, dan pemanfaatan teknologi.
Dengan capaian tersebut, Jawa Tengah tetap menjadi salah satu lumbung pangan nasional yang berperan penting dalam menjaga ketahanan pangan di tengah tantangan bencana dan perubahan iklim. (*)
Simak breaking news dan berita pilihan TIMES Indonesia langsung dari WhatsApp-mu!
Klik 👉 Channel TIMES Indonesia
Pastikan WhatsApp kamu sudah terpasang.


