Sirkuit Sabaru Siap Diaktifkan, Wujud Sinergi Ditlantas Polda Kalteng dan Pemkot Palangka Raya
Bukan lagi sekadar kejar-kejaran dengan petugas, para pelaku aksi balap liar bakal diarahkan ke jalur prestasi melalui optimalisasi Sirkuit Sabaru.
PALANGKA RAYA – Fenomena balap liar di Kota Palangka Raya, Kalimantan Tengah (Kalteng) yang selama ini menjadi keluhan klasik warga segera menemui titik balik.
Bukan lagi sekadar kejar-kejaran dengan petugas, para pelaku aksi jalanan ini bakal diarahkan ke jalur prestasi melalui optimalisasi Sirkuit Sabaru.
Langkah solutif ini tengah dirancang oleh jajaran Ditlantas Polda Kalteng dengan Pemerintah Kota Palangka Raya. Keduanya bersepakat bahwa pendekatan hukum harus dibarengi dengan penyediaan ruang berekspresi.
Direktur Lalu Lintas Polda Kalteng, Kombes Pol. Yusep Dwi Prasetya, mengungkapkan bahwa dari hasil audiensi dengan masyarakat, ojol dan teman-teman OKP, ditemukan fakta bahwa pelaku balap liar mayoritas adalah anak muda yang mencari eksistensi.

“Ada dua faktor, mereka ingin dilihat dan butuh tempat. Inilah yang kita coba fasilitasi bersama pemerintah daerah. Kita ingin mereka punya ruang yang lebih aman agar adrenalin itu menjadi prestasi, bukan gangguan ketertiban,” ujarnya dalam keterangan resmi.
Senada, Wali Kota Palangka Raya,Fairid Naparin menyambut hangat inisiasi tersebut. Menurutnya, infrastruktur sirkuit yang sudah dimiliki kota harus dimaksimalkan fungsinya untuk menjawab keresahan masyarakat sekaligus pembinaan bakat otomotif.
"Sebenarnya kita sudah ada sirkuit. Tinggal bagaimana pengelolaannya dimaksimalkan. Untuk ketertiban umum, Pemkot pasti mendukung penuh. Koordinasi dengan Ditlantas maupun Polres terus berjalan intensif," terang Fairid saat dikonfirmasi TIMES Indonesia, Selasa (7/4/2026).

Meski realisasi teknis masih dalam tahap penajaman koordinasi, Fairid memastikan bahwa komunikasi antar instansi vertikal tetap solid guna merealisasikan wadah bagi para "pembalap jalanan" tersebut.
Sembari menunggu optimalisasi fasilitas resmi, Ditlantas Polda Kalteng tetap memperketat penjagaan di titik rawan seperti Jalan Yos Sudarso, A. Yani, hingga Adonis Samad. Namun, pendekatannya kini jauh lebih humanis.
Sementara itu, Petugas di lapangan lebih mengedepankan edukasi dan pendataan. Kendaraan yang tidak sesuai standar akan diamankan bukan untuk menghukum semata, melainkan untuk memastikan keselamatan pengendara itu sendiri.
“Pendekatannya represif tapi humanis. Kita sentuh mereka, kita ingatkan. Harapannya efeknya lebih tahan lama dibanding sekadar ditilang,” pungkas Yusep.
Kolaborasi ini diharapkan menjadi pilot project bagaimana masalah sosial anak muda diselesaikan melalui sinergi kebijakan.
Dengan hidupnya kembali Sirkuit Sabaru, Palangka Raya diproyeksikan tidak hanya menjadi kota yang tertib lalu lintas, tetapi juga menjadi barometer baru bagi lahirnya atlet otomotif berbakat dari Kalimantan Tengah. (*)
Simak breaking news dan berita pilihan TIMES Indonesia langsung dari WhatsApp-mu!
Klik 👉 Channel TIMES Indonesia
Pastikan WhatsApp kamu sudah terpasang.

