Harga Plastik Melonjak, Perusahaan Air Minum di Bondowoso Terpaksa Menaikkan Harga
Di Bondowoso, kenaikan ini tidak hanya membebani pelaku industri, tetapi juga pedagang kecil yang bergantung pada bahan plastik untuk operasional sehari-hari.
BONDOWOSO – Lonjakan harga plastik akibat konflik di kawasan Timur Tengah mulai terasa dampaknya hingga ke daerah. Di Bondowoso, kenaikan ini tidak hanya membebani pelaku industri, tetapi juga pedagang kecil yang bergantung pada bahan plastik untuk operasional sehari-hari.
Sejumlah produsen air minum dalam kemasan (AMDK) terpaksa menyesuaikan harga jual demi menutup biaya produksi yang meningkat.
Salah satunya dialami perusahaan AMDK A3Fresh O2 di Kecamatan Curahdami. Harga produk mereka yang sebelumnya Rp 14.000 per dus kini naik menjadi Rp 17.000.
Direktur A3Fresh O2, Rizky Fareza menjelaskan, lonjakan harga terjadi pada bahan baku utama seperti gelas plastik dan penutupnya.
Sebelum ada kenaikan harga bahan baku, harga gelas plastik berkisar Rp 90 per buah, kini melonjak menjadi Rp 157 hingga Rp 160.
“Kenaikan ini sudah mulai terasa sejak sebelum Lebaran, tapi setelah itu lonjakannya makin tajam, terutama sekitar akhir Maret,” ujarnya.
Ia mengungkapkan, kelangkaan bahan baku juga mulai dirasakan. Salah satu penyebabnya adalah terbatasnya pasokan naptha, bahan dasar plastik, yang sebagian besar masih diimpor dari Timur Tengah.
“Distribusi bahan baku jadi terganggu, ini yang bikin situasi semakin sulit,” paparnya, Rabu (8/4/2026).
Meski begitu, hingga kini pihak perusahaan masih mempertahankan jumlah karyawan. Namun, Rizky mengaku khawatir jika kondisi ini terus berlanjut. Kelangkaan bahan baku dan harga yang terus naik berpotensi menekan daya beli masyarakat, bahkan bisa berujung pada penghentian produksi.
“Kalau bahan baku makin langka dan harga terus naik, bukan tidak mungkin produksi ikut berhenti,” tambahnya.
Di sisi lain, pedagang kecil juga merasakan tekanan serupa. Holila, penjual cincau di Desa Padasan Kecamatan Pujer. Ia mengaku harga plastik kresek mengalami kenaikan signifikan dalam sepekan terakhir.
Sebelumnya, satu bendel kresek merah berisi 10 pak dijual Rp 45 ribu, kini naik menjadi Rp 60 ribu.
Tak hanya mahal, pasokan plastik juga dibatasi. Pedagang kini hanya bisa membeli setengah dari biasanya, yakni sekitar lima bendel per hari. “Barangnya juga beda, lebih tipis dan mudah sobek sekarang,” keluhnya.
Kondisi ini membuatnya harus memutar otak agar tetap bisa berjualan tanpa kehilangan pelanggan. Ia memilih tidak menaikkan harga cincau yang tetap dijual Rp 5.000, namun mengurangi bonus yang biasanya diberikan kepada pembeli.
Selain itu, ia mulai mengimbau pelanggan untuk membawa wadah sendiri saat membeli. “Sudah ada beberapa yang mulai bawa tempat sendiri,” pungkasnya.(*)
Simak breaking news dan berita pilihan TIMES Indonesia langsung dari WhatsApp-mu!
Klik 👉 Channel TIMES Indonesia
Pastikan WhatsApp kamu sudah terpasang.


