Advertisement
Peristiwa Daerah

Sempat Viral, Penutupan Jalan “Selat Hormuz Sidokare” Kini Berakhir Damai

Perselisihan penutupan jalan "Selat Hormuz Sidokare" di Sidoarjo antara warga berinisial MH dan YG berakhir damai melalui mediasi kepolisian dan perangkat desa.

TIMES Indonesia,
Sempat Viral, Penutupan Jalan “Selat Hormuz Sidokare” Kini Berakhir Damai
MH dan YG yang sempat bersitegang soal penutupan jalan "Selat Hormuz Sidokare" berdamai setelah di mediasi Forkopimka setempat. (FOTO: Syaiful Bahri/TIMES Indonesia)
A-AA+

Sidoarjo Drama penutupan akses jalan di Perumahan Pondok Sidokare Asri, Sidoarjo yang sempat viral dengan julukan “Selat Hormuz Sidokare” akhirnya berujung damai. Sosok lansia berinisial MH, yang sebelumnya menutup sebagian akses jalan di Blok Y, kini telah bersepakat damai dengan tetangganya, YG.

Kesepakatan tersebut tercapai melalui proses mediasi yang difasilitasi oleh pihak kepolisian bersama perangkat kecamatan dan desa setempat, Senin (6/4/2026). Pertemuan yang berlangsung mulai pukul 15.30 WIB itu berjalan kondusif dan menghasilkan penyelesaian secara kekeluargaan.

Advertisement

YG mengakui bahwa konflik yang sempat memanas dipicu oleh minimnya komunikasi antarwarga. Ia berharap insiden tersebut menjadi pelajaran agar keharmonisan bertetangga tetap terjaga.

“Dengan adanya hal seperti ini, saya berharap ke depan tidak ada peristiwa serupa,” ujar YG, Rabu (8/4/2026).

Perselisihan ini bermula dari perbedaan pandangan terkait penggunaan jalan bersama di lingkungan perumahan. Aksi pemasangan palang jalan oleh MH sempat menuai protes warga karena dianggap mengganggu akses mobilitas umum.

Di sisi lain, MH menjelaskan bahwa pemasangan palang tersebut didasari alasan keselamatan anggota keluarganya. Ia ingin memastikan kendaraan yang melintas melambatkan laju saat melewati depan rumahnya.

“Palang ini saya pasang untuk keamanan cucu saya. Agar warga yang lewat pelan-pelan. Saat ada mobil, biasanya mereka turun untuk memindahkan rambu tersebut,” jelas MH.

Advertisement

Meski demikian, YG menilai langkah tersebut kurang tepat karena penutupan separuh jalan berpotensi menghambat pengguna jalan lain secara kolektif.

“Seharusnya jalan tersebut tidak perlu diberi rambu yang menutup separuh jalan,” tambahnya.

Sebelum mediasi dilakukan, ketegangan antara keduanya sempat meningkat. MH bahkan sempat berencana menempuh jalur hukum. Namun, rencana tersebut urung dilakukan setelah kedua belah pihak menyadari pentingnya musyawarah untuk menyelesaikan persoalan di lingkungan mereka. (*)

Simak breaking news dan berita pilihan TIMES Indonesia langsung dari WhatsApp-mu!
Klik 👉 Channel TIMES Indonesia
Pastikan WhatsApp kamu sudah terpasang.

Syaiful Bahri
PenulisSyaiful BahriSarjana Administrasi Publik, Universitas Sunan Giri Surabaya, Bergabung bersama TIMES Indonesia pada Juli 2025. dengan minat liputan bidang pemerintahan, politik, hukum dan pendidikan serta lifestyle.
Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp TIMES Indonesia