Advertisement
Peristiwa Daerah

Capaian Target Skrining Deteksi Dini Kanker Serviks di Kabupaten Malang Masih Rendah

Capaian target skrining deteksi dini kanker leher rahim atau kanker serviks di Kabupaten Malang masih tergolong rendah. Dari estimasi sekitar 700 ribu sasaran, baru sekitar 40 ribu perempuan yang telah menjalani pemeriksaan, atau setara 5 persen.

TIMES Indonesia,
Capaian Target Skrining Deteksi Dini Kanker Serviks di Kabupaten Malang Masih Rendah
Wakil Bupati Malang Lathifah Shohib saat memberikan sambutan dalam kegiatan advokasi perluasan implementasi deteksi dini kanker serviks dengan metode self sampling di Kepanjen, Kamis (9/4/2026).(Foto: Achmad Fikyansyah/TIMES Indonesia)
A-AA+

MALANG Capaian target skrining deteksi dini kanker leher rahim atau kanker serviks di Kabupaten Malang masih tergolong rendah. Dari estimasi sekitar 700 ribu sasaran, baru sekitar 40 ribu perempuan yang telah menjalani pemeriksaan, atau setara 5 persen.

Data tersebut disampaikan Wakil Bupati Malang Lathifah Shohib usai menghadiri kegiatan advokasi perluasan implementasi deteksi dini kanker serviks dengan metode self sampling di Kepanjen, Kamis (9/4/2026).

Advertisement

“Dari jumlah estimasi sasaran skrining deteksi dini yang sebanyak 700 ribu, baru sekitar 40 ribu yang sudah di skrining. Atau sekitar 5 persen. Berarti masih banyak yang belum ter-cover skrining,” ujarnya.

Adapun sasaran utama program ini adalah perempuan usia 30 hingga 69 tahun, yang dinilai paling rentan terhadap kanker serviks. Rendahnya capaian skrining ini dipengaruhi sejumlah faktor, salah satunya masih adanya rasa takut dan malu di kalangan masyarakat.

“Banyak yang merasa takut atau malu, karena ini pemeriksaan organ dalam perempuan. Jadi kurangnya informasi itu membuat masyarakat tidak berkenan untuk melakukan deteksi dini,” jelasnya.

Untuk mengatasi kendala tersebut, pemerintah melalui Kementrian Kesehatan mulai mendorong penggunaan metode self sampling, yakni pengambilan sampel secara mandiri oleh pasien. Metode ini dinilai lebih praktis dan dapat mengurangi rasa tidak nyaman saat pemeriksaan.

“Ini alat yang sekarang disosialisasikan bisa dilakukan sendiri untuk mengambil bahannya, seperti swab dari organ dalam, nanti dikumpulkan dan diperiksa di laboratorium,” terangnya.

Advertisement

Jika hasil pemeriksaan menunjukkan indikasi tertentu, maka pasien akan diarahkan untuk menjalani pemeriksaan lanjutan hingga penanganan medis.

Selain inovasi metode, Lathifah juga mendorong keterlibatan organisasi masyarakat, khususnya kelompok perempuan, untuk aktif memberikan edukasi terkait pentingnya deteksi dini kanker serviks.

“Kalau kita tahu sejak awal, kanker apapun, kalau sejak stadium 1 atau 2 sudah diketahui, insya Allah bisa disembuhkan. Kemungkinan sembuhnya besar,” tegasnya.

Ia menambahkan, pemeriksaan skrining idealnya dilakukan secara berkala, setidaknya lima tahun sekali. Jika dilakukan secara mandiri, dia menyebut bahwa biaya yang harus dikeluarkan sekitar Rp200 ribu. Namun dengan metode baru Self Sampling ini, masyarakat bisa melakukan deteksi dini secara gratis.

"Kalau dengan alat ini, yang disiapkan oleh negara, kalau tidak dimanfaatkan sangat sayang," kata dia.

Dengan berbagai langkah tersebut, Pemerintah Kabupaten Malang berharap kesadaran masyarakat terhadap deteksi dini kanker serviks terus meningkat, sehingga angka kesembuhan dapat ditekan melalui penanganan sejak tahap awal. (*)

Simak breaking news dan berita pilihan TIMES Indonesia langsung dari WhatsApp-mu!
Klik 👉 Channel TIMES Indonesia
Pastikan WhatsApp kamu sudah terpasang.

Achmad Fikyansyah
PenulisAchmad FikyansyahSarjana Sastra Inggris (S.S) UIN Maulana Malik Ibrahim Malang. Bergabung ke TIMES Indonesia sejak Maret 2023. Meliput berbagai topik, utamanya pendidikan dan ekonomi.
Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp TIMES Indonesia