El Nino Godzilla Mengintai, Dispertan Banyuwangi Gaspol Petakan Air dan Ubah Pola Tanam
Ancaman fenomena El Nino ekstrem mulai diantisipasi serius oleh Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Banyuwangi melalui Dinas Pertanian dan Pangan (Dispertan). Tak ingin kecolongan, berbagai langkah cepat disiapkan, mulai dari pemetaan sumber air, bantuan b
BANYUWANGI – Ancaman fenomena El Nino ekstrem mulai diantisipasi serius oleh Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Banyuwangi melalui Dinas Pertanian dan Pangan (Dispertan). Tak ingin kecolongan, berbagai langkah cepat disiapkan, mulai dari pemetaan sumber air, bantuan benih, hingga mendorong perubahan pola tanam petani.
Hal tersebut diungkapkan oleh Kepala Dispertan Banyuwangi, Danang Hartanto, saat ditemui di ruang kerjanya, Kamis (9/4/2026). Menurutnya, pihaknya telah menyiapkan langkah jangka pendek untuk membantu petani menghadapi potensi kekeringan.
Salah satunya dengan menyalurkan bantuan benih jagung agar petani bisa tetap berproduksi tanpa terbebani biaya awal yang tinggi. Selain itu, petani juga mulai diarahkan untuk tidak hanya bergantung pada komoditas padi.
“Tidak harus padi terus. Kalau kondisi air tidak memungkinkan, petani harus mulai beralih ke tanaman yang lebih tahan kekeringan seperti jagung,” kata Danang.
Langkah ini sekaligus menjadi bagian dari strategi perubahan pola tanam, terutama pada lahan baku sawah seluas sekitar 665 hektare yang diproyeksikan dapat dimanfaatkan untuk tanaman alternatif.
Di sisi lain, Dispertan Banyuwangi juga memperkuat langkah mitigasi dengan menyiapkan infrastruktur air. Sedikitnya 100 sumur pertanian disiapkan sebagai cadangan jika kekeringan benar-benar terjadi dan berlangsung lama.
Tak hanya itu, pemetaan sumber air terus dilakukan secara intensif. Bersama instansi terkait, termasuk Dinas PU Pengairan, Dispertan tengah menghitung debit air dan kemampuan suplai untuk memastikan distribusi air tetap mencukupi kebutuhan lahan pertanian.
“Kita petakan berapa debit air yang tersedia, sehingga kita tahu berapa luas lahan yang masih bisa terairi. Ini penting agar tidak terjadi rebutan air di tingkat petani,” tegas Danang.
Danang menambahkan, ketersediaan pupuk subsidi juga menjadi pertahian. Pemerintah memastikan distribusinya tepat sasaran agar produktivitas pertanian tetap terjaga di tengah ancaman cuaca ekstrem.
Meski hingga kini belum ada laporan kekeringan signifikan di Bumi Blambangan, Danang menegaskan bahwa langkah mitigasi harus dilakukan sejak dini. Koordinasi lintas sektor pun terus diperkuat, mulai dari Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD), Penyuluh Pertanian Lapangan (PPL), dan lainnya.
Sementara itu, istilah El Nino “Godzilla” merujuk pada fenomena El Nino dengan intensitas sangat kuat. Mengacu pada penjelasan BMKG, El Nino merupakan pemanasan suhu muka laut di Samudra Pasifik yang berdampak pada berkurangnya curah hujan di wilayah Indonesia.
Dalam kondisi ekstrem atau yang kerap disebut “Godzilla”, dampaknya bisa jauh lebih besar, mulai dari kemarau panjang, penurunan ketersediaan air, hingga ancaman serius terhadap sektor pertanian.
Karena itu, pucuk pimpinan Dispertan Banyuwangi itu mengingatkan para petani untuk lebih bijak dalam menentukan jenis tanaman dan menyesuaikan dengan kondisi ketersediaan air di lapangan.
“Kuncinya ada pada air. Kalau air terbatas, pola tanam harus disesuaikan. Jangan sampai dipaksakan, karena justru bisa merugikan petani sendiri,” tutup Danang Hartanto. (*)
Simak breaking news dan berita pilihan TIMES Indonesia langsung dari WhatsApp-mu!
Klik 👉 Channel TIMES Indonesia
Pastikan WhatsApp kamu sudah terpasang.


