Advertisement
Peristiwa Daerah

Kredit Macet BPR Delta Artha Tembus 6,19 Persen, Lampaui Batas Aman OJK

Rasio kredit bermasalah BPR Delta Artha naik signifikan hingga 6,19 persen pada 2025, masih di atas batas sehat OJK. Faktor ekonomi dan ekspansi kredit jadi penyebab utama.

TIMES Indonesia,
Kredit Macet BPR Delta Artha Tembus 6,19 Persen, Lampaui Batas Aman OJK
Kantor BPR Delta Artha Kabupaten Sidoarjo. (FOTO: Syaiful Bahri/TIMES Indonesia)
A-AA+

SIDOARJO Rasio kredit bermasalah atau Non-Performing Loan (NPL) di BPR Delta Artha meningkat signifikan dalam tiga tahun terakhir. Kondisi ini menjadi sinyal adanya tekanan pada risiko kredit.

Berdasarkan laporan keuangan, NPL BPR Delta Artha tercatat sebesar 3,92 persen pada 2022. Angka itu melonjak menjadi 6,80 persen pada 2024.

Advertisement

Memasuki 2025, NPL sedikit turun ke level 6,19 persen. Meski menurun, angka tersebut masih berada di atas ambang batas sehat.

Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menetapkan rasio NPL yang sehat berada di bawah 5 persen.

Data tersebut menunjukkan peningkatan kredit bermasalah yang cukup tajam dalam periode ekspansi. Kondisi ini berkaitan dengan pertumbuhan kredit yang tinggi.

Direktur Utama BPR Delta Artha, Sofia Nurkrisnajati Atmaja, mengatakan kenaikan NPL dipengaruhi faktor eksternal dinamika ekonomi. 

“Peningkatan NPL tersebut lebih dipengaruhi oleh kondisi eksternal, khususnya dinamika ekonomi yang berdampak pada kemampuan bayar sebagian debitur, terutama di sektor produktif,” ujarnya. Kamis (9/4/2026). 

Advertisement

Ia menambahkan, terdapat proses normalisasi kualitas kredit setelah ekspansi pembiayaan yang dilakukan sebelumnya.

“Selain itu, terdapat juga normalisasi kualitas kredit pasca ekspansi pembiayaan yang dilakukan sebelumnya. Kami melihat kondisi ini masih dalam batas yang dapat dikelola,” katanya.

Menurutnya, manajemen BPR Delta Artha telah menjadikan penanganan NPL sebagai prioritas utama.

“Hal ini telah menjadi fokus utama manajemen untuk segera ditangani secara terukur,” tambahnya.

Sofia juga menjelaskan bahwa peningkatan NPL lebih banyak terjadi pada segmen kredit produktif.

“Secara umum, peningkatan NPL memang lebih terlihat pada segmen kredit produktif terutama UMKM, mengingat segmen ini paling sensitif terhadap fluktuasi ekonomi,” jelasnya.

Meski demikian, ia memastikan portofolio kredit tetap terdiversifikasi.

“Kami sampaikan bahwa portofolio kami tetap terdiversifikasi dengan baik, sehingga risiko tetap terjaga dan tidak terkonsentrasi secara berlebihan pada satu sektor tertentu,” ucapnya. (*)

Simak breaking news dan berita pilihan TIMES Indonesia langsung dari WhatsApp-mu!
Klik 👉 Channel TIMES Indonesia
Pastikan WhatsApp kamu sudah terpasang.

Syaiful Bahri
PenulisSyaiful BahriSarjana Administrasi Publik, Universitas Sunan Giri Surabaya, Bergabung bersama TIMES Indonesia pada Juli 2025. dengan minat liputan bidang pemerintahan, politik, hukum dan pendidikan serta lifestyle.
Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp TIMES Indonesia