Advertisement
Peristiwa Daerah

Transformasi Kampung Lampion Kotabaru: Dari Kawasan Kumuh Yogyakarta Jadi Hunian Layak

Pemkot Yogyakarta bersama UII menyelesaikan pembangunan rumah layak huni tahap pertama, mengubah kawasan kumuh menjadi lingkungan yang lebih sehat, aman dan manusiawi.

TIMES Indonesia,
Transformasi Kampung Lampion Kotabaru: Dari Kawasan Kumuh Yogyakarta Jadi Hunian Layak
Pemkot Yogyakarta bersama UII telah menyelesaikan pembangunan sejumlah rumah layak huni tahap I di Kampung Lampion Kotabaru. (FOTO: Soni H/TIMES Indonesia)
A-AA+

YOGYAKARTA Wajah bantaran Sungai Code di kawasan Kampung Lampion Kotabaru, Kota Yogyakarta kini berubah drastis.

Pemerintah Kota Yogyakarta bersama Universitas Islam Indonesia (UII) sukses menyelesaikan pembangunan rumah layak huni tahap pertama, mengubah kawasan yang sebelumnya kumuh menjadi lingkungan yang lebih sehat, aman, dan manusiawi.

Advertisement

Program ini menjadi bukti nyata kolaborasi lintas sektor yang tidak hanya melibatkan pemerintah, tetapi juga perguruan tinggi, masyarakat, hingga lembaga internasional. Pembangunan tahap kedua pun dipastikan akan berlanjut pada tahun 2026.

Wali Kota Yogyakarta, Hasto Wardoyo, menegaskan bahwa keberhasilan pembangunan ini tidak lepas dari kerja sama berbagai pihak. Ia mengapresiasi peran UII yang membantu menghubungkan pendanaan dari lembaga mitra di India, serta dukungan dari masyarakat setempat.

Tak hanya itu, keterlibatan Panitikismo Kraton Yogyakarta dan Badan Pertanahan Nasional (BPN) juga dinilai krusial, terutama dalam menyelesaikan persoalan legalitas tanah yang sebelumnya menjadi kendala utama.

“Pekerjaan yang rumit bisa diselesaikan dengan cepat jika dilakukan bersama. Tidak hanya bangunannya yang selesai, tapi legalitasnya juga tuntas. Ini yang membuat masyarakat lebih tenang,” ujar Hasto saat peresmian pembangunan tahap I dan kick off tahap II, Kamis (9/4/2025).

Menurutnya, proyek ini merupakan contoh nyata penerapan konsep pentahelix, yakni sinergi antara pemerintah, akademisi, swasta, komunitas, dan media.

Advertisement

Hunian Lebih Layak, Warga Diminta Jaga Lingkungan

Pemkot Yogyakarta

Hasto juga berpesan agar warga yang telah menempati rumah baru dapat menjaga kebersihan lingkungan, terutama tidak membuang sampah ke Sungai Code.

Ia menekankan bahwa keberhasilan program ini juga ditentukan oleh kesadaran masyarakat dalam merawat hasil pembangunan.

Selain itu, pendekatan partisipatif menjadi kunci diterimanya program ini oleh warga. Pemerintah berupaya mengakomodasi aspirasi masyarakat, termasuk dalam desain rumah.

“Warga tidak boleh dirugikan. Bahkan aspirasi mereka kita tampung. Ada yang ingin rumah dua lantai dengan ruang terbuka di bawah, itu kita fasilitasi. Jadi mereka merasa diuntungkan,” jelasnya.

Tahap I Rampung, Tahap II Siap Dimulai

Kepala Dinas PUPKP Kota Yogyakarta, Umi Akhsanti, mengungkapkan bahwa pada tahap pertama telah dibangun 10 unit rumah layak huni di Kampung Lampion.

Sebanyak 6 unit dibiayai APBD dengan anggaran sekitar Rp1 miliar, sementara 4 unit lainnya merupakan hasil kolaborasi dengan lembaga internasional melalui UII senilai Rp580 juta.

Selain itu, dua unit rumah juga telah dibangun di wilayah RW 5 Terban dengan anggaran Rp457,7 juta dari APBD.

Untuk tahap kedua, pembangunan akan mencakup 8 unit rumah di Kampung Lampion dan 6 unit di Kelurahan Terban. Total anggaran yang disiapkan mencapai sekitar Rp3,2 miliar dari APBD Kota Yogyakarta.

“Tahun ini kita mulai tahap kedua. Proses sudah kontrak, dan hari ini dilakukan kick off agar pembangunan segera berjalan dan selesai tepat waktu,” terang Umi.

Program penataan Kampung Lampion ternyata tidak hanya berdampak lokal, tetapi juga menarik perhatian global. Wakil Rektor Bidang Kemitraan dan Kewirausahaan UII, Wiryono Raharjo, menyebut bahwa proyek ini telah dipublikasikan secara internasional.

Menurutnya, pendanaan berasal dari Global Resilience Partnership di Swedia melalui lembaga SPARC di India yang menjadi mitra UII.

“Kasus Jogja ini bahkan akan digunakan sebagai bahan pembelajaran di Brasil. Di sana, mereka mengalami kesulitan dalam membangun sinergi antara masyarakat dan pemerintah. Ini jadi contoh praktik baik dari Indonesia,” ungkap Wiryono.

Cerita Warga: Dari Atap Asbes ke Rumah Nyaman

Perubahan nyata dirasakan langsung oleh warga penerima manfaat. Salah satunya Surati, yang kini bisa menempati rumah baru bersama keluarga besarnya.

Ia mengenang kondisi rumah lamanya yang berada tepat di bantaran sungai, beratap asbes, dan pernah terdampak banjir lahar saat erupsi Merapi tahun 2010.

“Dulu panas sekali, sempit, dan pernah kebanjiran. Sekarang rumahnya nyaman, tidak panas, banyak jendela. Saya sangat bersyukur,” ujarnya haru.

Transformasi Kampung Lampion menjadi simbol harapan baru bagi penataan kawasan kumuh di perkotaan. Dengan pendekatan kolaboratif dan berbasis kebutuhan warga, Pemerintah Kota Yogyakarta optimistis program ini bisa menjadi model nasional bahkan internasional.

Ke depan, keberlanjutan program ini diharapkan tidak hanya menghadirkan hunian layak, tetapi juga membangun kesadaran kolektif masyarakat dalam menjaga lingkungan dan kualitas hidup. (*)

Simak breaking news dan berita pilihan TIMES Indonesia langsung dari WhatsApp-mu!
Klik 👉 Channel TIMES Indonesia
Pastikan WhatsApp kamu sudah terpasang.

Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp TIMES Indonesia