Arsitek Muslim Ikut Sayembara Desain Altar GKJW Tunjungsekar, Widya Erliyana Angkat Nilai Toleransi
Bagi Widya, sayembara ini juga menjadi ruang pertukaran gagasan antararsitek dengan latar belakang beragam. Ia melihat proses tersebut sebagai bagian dari praktik moderasi beragama dalam konteks profesional.
MALANG – Partisipasi lintas iman dalam Sayembara Gagasan Desain Altar GKJW Tunjungsekar Malang, Jawa Timur, menghadirkan cerita tersendiri. Salah satunya datang dari Widya Erliyana (26), arsitek muda asal Jombang yang menjadi satu-satunya peserta beragama Islam dalam ajang tersebut.
Kehadiran Widya tidak semata mengejar hasil kompetisi, tetapi dilandasi dorongan profesionalitas dan semangat pembelajaran. Lulusan UIN Sunan Ampel Surabaya ini menilai keterlibatannya sebagai bagian dari upaya memahami ruang ibadah lintas agama melalui pendekatan arsitektur.
Mengutip hadis tentang kewajiban menuntut ilmu, Widya memandang proyek ini sebagai kesempatan emas untuk belajar tentang ruang ibadah agama lain.
"Menuntut ilmu itu tidak mengerucut ke satu titik, wajib untuk semuanya. Sebagai profesional, saya rasa tidak perlu membeda-bedakan dalam mendesain. Ini kesempatan saya belajar tentang ruang perjumpaan umat lain dengan Tuhan," ungkap Widya sesaat setelah melakukan presentasi desinnya, Minggu (12/4/2026).

Dalam proses perancangan, Widya mengaku melakukan riset mendalam dengan mengkaji Kerangka Acuan Kerja (KAK) serta ayat-ayat Alkitab yang menjadi dasar konsep sayembara. Pendekatan tersebut menjadi pijakan dalam merumuskan desain yang tetap kontekstual dengan fungsi altar sebagai pusat ibadah.
Ia mengusung konsep bertajuk “Altar Sebagai Ruang Perjumpaan dan Pengutusan yang Membumi, Berbudaya, Bertumbuh dalam Iman”. Desain yang ditawarkan mengedepankan pendekatan minimalis dengan dominasi material kayu, serta meminimalkan elemen dekoratif untuk menjaga fokus jemaat saat beribadah.
Widya menempatkan simbol salib sebagai elemen utama yang merepresentasikan pertumbuhan iman, terinspirasi dari penggalan ayat Matius 28:20b, “Aku tansah nunggal karo Kowe nganti tekan pungkasaning jaman”.

"Kalau saya sedang berdoa, saya ingin suasana yang tenang tanpa banyak distraksi. Itulah yang saya tumpahkan dalam desain ini. Saya ingin siapa pun yang berdiri di depan altar bisa fokus, merasakan kehadiran Tuhan tanpa terganggu ornamen yang berlebihan," jelasnya.
Bagi Widya, sayembara ini juga menjadi ruang pertukaran gagasan antararsitek dengan latar belakang beragam. Ia melihat proses tersebut sebagai bagian dari praktik moderasi beragama dalam konteks profesional.
Partisipasinya dalam ajang ini menunjukkan bahwa kolaborasi lintas iman dapat terwujud melalui karya dan pendekatan keilmuan. Di sisi lain, pengalaman ini juga memperkaya perspektif arsitektur yang tidak hanya berbicara soal estetika, tetapi juga nilai dan fungsi ruang ibadah. (*)
Simak breaking news dan berita pilihan TIMES Indonesia langsung dari WhatsApp-mu!
Klik 👉 Channel TIMES Indonesia
Pastikan WhatsApp kamu sudah terpasang.


