Advertisement
Peristiwa Daerah

HUT ke-30 GKJW Tunjungsekar Malang, Pendeta Retnosari: Iman Lampaui Penglihatan

Pendeta mengajak jemaat untuk meneladani iman dari Rasul Tomas yang sempat ragu, tetapi Tuhan Yesus hadir dan memberikan keteguhan serta kekuatan kepadanya.

TIMES Indonesia,
HUT ke-30 GKJW Tunjungsekar Malang, Pendeta Retnosari: Iman Lampaui Penglihatan
Pendeta GKJW Tunjungsekar, Retnosari saat memimpin ibadah dalam rangka HUT ke-30 Jemaat GKJW Tunjungsekar pada Minggu (12/4/2026) (Foto: Tria Adha/TIMES Indonesia)
A-AA+

MALANG Gereja Kristen Jawi Wetan Tunjungsekar (GKJW Tunjungsekar) Kota Malang merayakan HUT ke-30 dengan menekankan arah baru bagi umat.

Hal tersebut disampaikan oleh Pendeta GKJW Tunjungsekar, Retnosari, kepada jemaat dalam Kebaktian Perayaan HUT-30 pada Minggu (12/4/2026).  

Advertisement

Dengan mengutip Yohanes pasal 20 ayat 24-26, ia mengajak jemaat untuk meneladani iman dari Rasul Tomas yang sempat ragu, tetapi Tuhan Yesus hadir dan memberikan keteguhan serta kekuatan kepadanya. 

“Kuncinya adalah keterbukaan hati, Tomas berani jujur akan keraguannya, dan disitulah Tuhan bekerja,” ujarnya dari atas podium.

GKJW Tunjungsekar 2

Ia menekankan bahwa keraguan adalah hal manusiawi. Seringkali manusia tidak percaya apabila tidak ada bukti yang bisa dilihat. Dalam hal ini, Iman kepada Yesus adalah melampaui apa yang terlihat. 

Keraguan bukan berarti seseorang tersebut tidak mampu, tetapi itu menjadi tanda-tanda terhadap kepedulian.

Advertisement

Ia mencontohkan saat Tomas menerima berita kebangkitan Yesus Kristus dan teman-temannya berucap telah melihat Tuhan, maka Tomas dengan lantang menjawab. 

Sebelum aku melihat bekas paku pada tangan-Nya dan sebelum aku mencucukkan jariku ke dalam bekas paku itu serta menaruh tanganku ke lambung-Nya, sekali-kali aku tidak akan percaya.

“Para jemaat yang terhormat, sikap Tomas itu lah yang menunjukkan bahwa ia sebenarnya figur murid yang perhatian dan cinta pada gurunya,” tambahnya. 

Dan saat Tomas melihat apa yang ia katakan, ia pun langsung tersungkur dan mengakui kemahakuasaan Yesus yang memiliki keilahian. 

Retnosari menegaskan bahwa iman tidak terlihat, tetapi butuh kepercayaan. Kehidupan bukan tentang apa yang bisa dilihat atau tidak oleh panca indra manusia, tetapi apa yang bisa dirasakan dan diyakini dalam hati. 

Ia pun juga menyampaikan bahwa manusia yang tidak melihat tetapi percaya adalah mereka yang bahagia. Hal tersebut yang difirmankan oleh Tuhan. “Berbahagialah mereka yang tidak melihat namun percaya”

GKJW Tunjungsekar 3

Karena dengan percaya, berarti mereka memiliki pengharapan dan percaya untuk tidak mudah putus asa, karena baginya Tuhan hadir dan akan memberikan jalan keluar untuknya. 

Orang yang percaya juga memiliki kekuatan, karena ia yakin bahwa ia tidak berjalan sendirian, tetapi ada Tuhan yang selalu menyertainya. 

“Dengan percaya, maka kita akan memiliki sukacita, meskipun tantangan datang silih berganti, tetapi ia meletakkan seluruh kepercayaannya kepada Tuhan, sehingga hidupnya dipenuhi berkat,” pungkasnya. 

Terakhir, Retnosari mengajak umat untuk tidak ragu akan kekuasaan Tuhan. Karena Tuhan Yesus, sang Kepala Gereja yang akan memberkati setiap perjalanan gereja ini. (*)

Simak breaking news dan berita pilihan TIMES Indonesia langsung dari WhatsApp-mu!
Klik 👉 Channel TIMES Indonesia
Pastikan WhatsApp kamu sudah terpasang.

Miranda Lailatul Fitria
PenulisMiranda Lailatul FitriaSarjana Hukum Universitas Brawijaya. Bergabung di TIMES Indonesia sejak 2025. Meliput berbagai topik, termasuk pendidikan, hukum, dan budaya.
Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp TIMES Indonesia