Advertisement
Peristiwa Daerah

Trauma Gempa Susulan, Warga Adonara Flores Timur Pilih Tidur di Tenda

Sebanyak 1.383 warga di Adonara, Flores Timur, masih mengungsi akibat gempa M 4,7. Trauma gempa susulan membuat warga memilih bertahan di tenda.

TIMES Indonesia,
Trauma Gempa Susulan, Warga Adonara Flores Timur Pilih Tidur di Tenda
Warga Pulau Adonara, Flores Timur, membuat tenda darurat di depan rumah untuk tidur malam menyusul masih terjadinya gempa susulan di wilayah tersebut. Gempa bermagnitudo 4,7 terjadi pada Jumat (9/4/2026) pukul 00.30 WITA. (ANTARA/HO-Joni)
A-AA+

KUPANG Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Flores Timur, Nusa Tenggara Timur (NTT), melaporkan warga terdampak gempa bumi di Pulau Adonara masih memilih bertahan di tenda pengungsian. Kondisi ini dipicu trauma akibat gempa susulan yang masih terjadi hingga saat ini.

“Kami melihat warga masih trauma, sehingga sebagian memilih tidur di luar rumah menggunakan tenda,” kata Kepala Bidang Kedaruratan dan Logistik BPBD Flores Timur, Maria Goretty Nebo Tukan, saat dihubungi dari Kupang, Senin (13/4/2026).

Advertisement

Gempa bermagnitudo 4,7 tersebut terjadi pada Jumat (9/4/2026) pukul 00.30 WITA dan menyebabkan kerusakan ratusan rumah di dua desa, yakni Desa Terong dan Lamahala Jaya, Kecamatan Adonara Timur.

Hingga Minggu (12/4/2026), jumlah pengungsi tercatat mencapai 1.383 jiwa yang tersebar di beberapa titik di kedua desa tersebut.

Maria Goretty menjelaskan, tenda pengungsian tidak dipusatkan di satu lokasi, melainkan disebar di beberapa titik yang berdekatan dengan rumah warga.

“Kami tidak mendirikan tenda di satu lokasi, tetapi tersebar dekat dengan rumah warga, karena mereka masih bisa beraktivitas dan tidak kehilangan mata pencaharian seperti saat erupsi Gunung Lewotobi,” ujarnya.

Selain penanganan pengungsian, BPBD juga telah menyalurkan bantuan logistik kepada warga terdampak, termasuk distribusi beras.

Advertisement

Sementara itu, warga di desa sekitar juga memilih meningkatkan kewaspadaan. Josep, warga Desa Baniona, Kecamatan Wotan Ulumado, mengaku telah empat malam tidur di teras rumah meski wilayahnya tidak mengalami kerusakan.

“Di desa kami tidak ada rumah yang rusak, tetapi saya dan beberapa warga sudah empat malam berturut-turut tidur di teras untuk berjaga-jaga, khawatir ada gempa susulan yang lebih besar,” katanya. 

Sebelumnya, Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) melaporkan gempa bumi bermagnitudo 4,7 terjadi pada Jumat (9/4/2026) pukul 00.30 WITA. Episenter gempa berada pada koordinat 8,36 LS dan 123,15 BT, sekitar 21 kilometer tenggara Larantuka, dengan kedalaman lima kilometer. (*)

Simak breaking news dan berita pilihan TIMES Indonesia langsung dari WhatsApp-mu!
Klik 👉 Channel TIMES Indonesia
Pastikan WhatsApp kamu sudah terpasang.

Antara
PenulisAntaraANTARA adalah kantor berita nasional Indonesia yang menyebarluaskan informasi tentang berbagai peristiwa penting di dalam dan luar negeri.
Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp TIMES Indonesia