Advertisement
Peristiwa Daerah

Menilik Sejarah GKJW Tunjungsekar yang Dibangun Atas Kebersamaan Jemaat

Berdirinya Gereja Kristen Jawi Wetan Tunjungsekar (GKJW Tunjungsekar) ternyata memiliki sejarah yang kuat akan kebersamaan jemaat.

TIMES Indonesia,
Menilik Sejarah GKJW Tunjungsekar yang Dibangun Atas Kebersamaan Jemaat
Sejarah Gereja Kristen Jawi Wetan Tunjungsekar Kota Malang yang dibangun sejak 1996. Foto: Tria Adha/TIMES Indonesia.
A-AA+

MALANG Berdirinya Gereja Kristen Jawi Wetan Tunjungsekar (GKJW Tunjungsekar) ternyata memiliki sejarah yang kuat akan kebersamaan jemaat. Hal tersebut diungkapkan oleh anggota majelis jemaat sekaligus tim penyusun buku sejarah GKJW Tunjungsekar, Magdalena, pada Minggu (12/4/2026). 

Menurut informasinya, lahirnya GKJW Jemaat Tunjungsekar merupakan hasil dari pemencaran dari GKJW Jemaat Tulangbawang (berlokasi di dekat penjara Lowokwaru). Pemencaran ini disebabkan karena pada tahun 1980-an, jemaat banyak yang menyebar ke daerah Sudimoro hingga Blimbing. Mereka merasa kesusahan dalam beribadah jika harus menempuh perjalanan ke GKJW TulangBawang, sedangkan saat itu belum ada transportasi yang memadai seperti saat ini.

Advertisement

“Jadi jemaat dulu merasa terlalu jauh jika harus ke GKJW Tulangbawang, akhirnya mereka berdiskusi dan merencanakan untuk membuat gereja disini,” ujar Magda di sela acara perayaan HUT ke-30 GKJW Tunjungsekar. 

Keinginan tersebut bermula dari warga kelompok 12 dan berlanjut ke warga yang lainnya. Sementara itu, ternyata dari pihak GKJW Tulangbawang juga sudah memikirkan hal yang sama. Sehingga, rencana ini semakin kuat untuk segera direalisasikan.

Magda menjelaskan, bahwa saat itu GKJW Tulangbawang turut memfasilitasi, memikirkan, mengurus, dan menata persiapan pembangunan gereja baru ini. Langkah pertama yang dilakukan adalah mencari lahan di daerah Sudimoro, akan tetapi ketika sudah mendapatkannya, pihak gereja merasa tidak cocok karena luas lahan terlalu sempit. Akhirnya, ditentukanlah untuk membangun gereja di lahan saat ini, dan itu adalah sumbangan dari warga. 

Gereja Tanjungsekar

Setelah itu, proses pembangunan dimulai dengan meletakkan batu pertama. Prosesnya panjang hingga memakan waktu sekitar 10 tahun, kemudian baru diresmikan pada 24 Maret 1996. 

Advertisement

“Jadi prosesnya panjang, mulai dari mengurus perizinan sampai pembangunannya, jadi kisaran waktu 1986-1996 baru jadi dua lantai ini,” tambahnya. 

Magda menambahkan bahwa saat itu, kondisi ekonomi jemaat kebanyakan menengah ke bawah. Sehingga, pembangunan gereja dilatarbelakangi oleh semangat gotong royong dan kebersamaan antar jemaat. Masing-masing dari mereka membantu untuk menyumbang bahan bangunan, seperti pasir, semen, batu, bahkan ada yang menyumbang makanan. 

Selain itu, pembangunan GKJW Tunjungsekar juga dibantu oleh pejabat-pejabat nasional kala itu, seperti Radius Prawiro hingga para menteri. 

Terkait desain bangunan sendiri, di GKJW Tunjungsekar memiliki desain yang unik (pada saat itu). Desain gereja saat itu menempatkan ruangan gereja di lantai pertama, dan ruangan lainnya di lantai dua. Akan tetapi, GKJW Tunjungsekar justru kebalikannya. Hal tersebut bukanlah tanpa alasan. Ruangan umum diletakkan di lantai pertama supaya dapat digunakan anak-anak sekolah minggu. 

“Jadi kalau orang tuanya ke gereja dan beribadah di atas, anak-anaknya sekolah minggu di bawah, jadi sekalian, kalau jaman dulu harus berganti ruangan,” tambah Magda. 

Gereja Tanjungsekar

Ternyata banyak gereja yang terinspirasi dengan desain tersebut. 

Terkait perkembangan jemaat, ketika awal berdiri GKJW Tunjungsekar, pada 1997 terdapat 491 warga, 1998 (552 warga), 1999 (540 warga), 2000 (519 warga), 2001 (556 warga), 2002 (167 warga), hingga saat ini 2026 terdapat sekitar 900-an warga atau jemaat. 

Ia juga menambahkan bahwa dari dulu hingga sekarang, jemaat GKJW Tunjungsekar hidup guyub dan kompak. Ia berharap, karakter tersebut terus hidup diantara para jemaat sampai kapan pun. 

“Saya berharap nafas guyub itu terus hidup diantara para jemaat, tidak peduli usia berapapun itu,” pungkasnya.

Saat ini, GKJW Tunjungsekar berencana akan menambah luas altar gereja karena seiring berkembangnya jemaat, altar yang tersedia saat ini belum sepenuhnya mengakomodasi. Hal tersebut sudah dimulai dengan pelaksanaan sayembara desain altar dengan tema “Altar sebagai Ruang Perjumpaan dan Pengutusan yang Membumi, Berbudaya, dan Bertumbuh dalam Iman.” pada HUT ke-30 GKJW Tunjungsekar. Tema ini menegaskan peran altar sebagai pusat perjumpaan iman sekaligus titik pengutusan jemaat yang tetap berakar pada nilai budaya lokal. Sementara itu, luas area yang didesain seluas 1.953 m².

Sebagai informasi, altar merupakan pusat ibadah sekaligus simbol teologis penting dalam peribadatan Gereja Kristen Jawi Wetan (GKJW), termasuk GKJW Tunjungsekar. Dari altar, jemaat bersekutu, mendengarkan firman Tuhan, mengikuti sakramen, hingga diutus untuk hidup dalam kasih dan melayani di tengah masyarakat. (*)

Simak breaking news dan berita pilihan TIMES Indonesia langsung dari WhatsApp-mu!
Klik 👉 Channel TIMES Indonesia
Pastikan WhatsApp kamu sudah terpasang.

Miranda Lailatul Fitria
PenulisMiranda Lailatul FitriaSarjana Hukum Universitas Brawijaya. Bergabung di TIMES Indonesia sejak 2025. Meliput berbagai topik, termasuk pendidikan, hukum, dan budaya.
Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp TIMES Indonesia