PWNU Jatim Usulkan Aswaja Center Masuk Struktur Resmi NU Jelang Muktamar ke-35
PWNU Jawa Timur mengusulkan pelembagaan Aswaja Center sebagai lembaga resmi dalam struktur NU melalui Munas dan Konbes menjelang Muktamar ke-35 pada Agustus 2026.
TUBAN – Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama Jawa Timur (PWNU Jatim) mengusulkan pelembagaan Aswaja (Ahlussunnah wal Jamaah) Center sebagai lembaga atau badan khusus dalam Konferensi Besar (Konbes) dan Musyawarah Nasional (Munas) menjelang Muktamar ke-35 NU.
Usulan tersebut disepakati dalam sidang pleno Musyawarah Kerja Wilayah (Muskerwil) PWNU Jatim yang digelar di Tuban pada 11–12 April 2026. Kegiatan itu dibuka oleh Rais Syuriah PBNU Prof Mohammad Nuh dan ditutup Rais Aam PBNU KH Miftakhul Achyar.
Delegasi Aswaja Center, MZ Muhaimin, mengatakan bahwa keputusan pelembagaan tersebut juga mengemuka dalam sidang komisi program yang dipimpin Wakil Ketua PWNU Jatim KH Firjaun Barlaman. Ia menegaskan, usulan itu perlu dikawal dalam forum Konbes dan Munas pada akhir April 2026.
“Menjelang Muktamar ke-35 NU pada 1–5 Agustus 2026, perlu dipastikan Aswaja Center tercatat dalam AD/ART NU atau Peraturan Perkumpulan (Perkum) PBNU sebagai lembaga atau badan khusus. Diperlukan pasal khusus yang mengatur hal itu,” ujar Muhaimin, Senin.
Dalam sidang komisi pada 12 April, Muhaimin juga menayangkan rekaman pleno Muktamar ke-34 NU di Lampung yang memuat aspirasi serupa. Aspirasi tersebut telah diterima dalam pleno dan direncanakan untuk ditindaklanjuti pada Konbes.
“Karena itu, perlu pengawalan serius agar dalam Konbes/Munas nanti terdapat pasal khusus tentang Aswaja Center,” katanya.
Di Jawa Timur, Aswaja NU Center telah berjalan sejak 2011. Keberadaannya dapat ditelusuri melalui laman resmi aswajanucenterjatim.or.id. Selain itu, hampir seluruh Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) di Jawa Timur telah memiliki Aswaja Center sebagai badan khusus, bahkan hingga tingkat Majelis Wakil Cabang (MWCNU).
Model serupa juga mulai berkembang di luar Jawa Timur, seperti di Jawa Tengah yang dipimpin Kyai Ulil Albab dari Wonosobo, serta di Jawa Barat yang sebelumnya telah membentuk lembaga sejenis.
Wakil Sekretaris PWNU Jatim, Dr KH Wafiul Ahdi, menilai pelembagaan Aswaja Center menjadi penting karena Aswaja merupakan ruh Nahdlatul Ulama, terutama di tengah tantangan era digital yang memunculkan kompetisi ideologi.
Menurutnya, peran utama lembaga tersebut mencakup penguatan syiar dan kaderisasi Aswaja. Ia mengungkapkan adanya temuan bahwa sebagian generasi muda NU (Gen Z NU) belum memahami secara mendalam paham Aswaja An-Nahdliyah.
“Hal ini menjadi perhatian serius jika tidak direspons melalui langkah advokasi, penguatan literasi Aswaja, hingga penerbitan buku dan program edukatif lainnya,” ujarnya.
Secara keilmuan, Aswaja An-Nahdliyah berlandaskan pada teologi Asy’ariyah dan Maturidiyah dalam bidang akidah. Sementara dalam fikih, merujuk pada empat mazhab, yakni Hanafiyah, Malikiyah, Syafiiyah, dan Hanbaliyah. Adapun dalam tasawuf, berpegang pada pemikiran Imam Abu Hamid Al-Ghazali dan Imam Junaidi Al-Baghdadi.
Selain usulan pelembagaan Aswaja Center, Muskerwil PWNU Jatim juga merumuskan sejumlah rekomendasi lain untuk dibawa ke Munas dan Konbes. Di antaranya penguatan tiga pilar pemberdayaan ekonomi, meliputi UMKM, hilirisasi pertanian dan perhutanan sosial, serta filantropi berbasis zakat, infak, dan sedekah (ZIS).
Rekomendasi lainnya mencakup pengembangan layanan kesehatan dan farmasi berbasis jamaah melalui rumah sakit dan klinik NU, serta penguatan kelembagaan Ahlul Halli wal Aqdi (AHWA). (*)
Simak breaking news dan berita pilihan TIMES Indonesia langsung dari WhatsApp-mu!
Klik 👉 Channel TIMES Indonesia
Pastikan WhatsApp kamu sudah terpasang.


