Desak DPRD Turun Tangan Dugaan Keracunan MBG, PMII Pacitan: Ini Soal Nyawa Rakyat
PMII Pacitan desak DPRD segera turun tangan terkait keracunan MBG di Tegalombo. Ratusan siswa terdampak, program dihentikan sementara sambil menunggu evaluasi dan hasil uji lab.
PACITAN – PMII Pacitan mendesak DPRD tak tinggal diam atas kasus dugaan keracunan dalam program makan bergizi gratis (MBG) di Tegalombo beberapa waktu lalu. Mereka meminta Komisi II segera turun tangan karena persoalan ini dinilai menyangkut keselamatan warga, khususnya pelajar.
Ketua PC PMII Pacitan Sunardi meminta Komisi II DPRD Pacitan segera turun ke lapangan untuk melihat langsung kondisi sebenarnya.
“Ini bukan lagi insiden yang sepele, tapi peringatan keras bagi sistem pengawasan. Yang dipertaruhkan adalah keselamatan rakyat,” tegas Sunardi, Selasa (14/4/2026).
Tak hanya itu, PMII juga meminta DPRD mengawal proses uji laboratorium hingga tuntas. Hasilnya harus dibuka secara transparan agar tidak memunculkan spekulasi di tengah masyarakat.
Desakan lain tak kalah penting, evaluasi terhadap Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG). PMII mendorong DPRD memanggil pihak terkait dan meminta pertanggungjawaban secara terbuka. Jika ditemukan kelalaian, langkah tegas harus diambil.
Di sisi lain, penanganan korban juga menjadi sorotan. PMII meminta pemerintah memastikan seluruh warga terdampak mendapatkan layanan kesehatan maksimal tanpa hambatan.
“Penanganan yang sakit harus cepat. Jangan sampai ada yang terabaikan,” imbuhnya.
Kasus ini, lanjut Sunardi, harus menjadi alarm keras bagi semua pihak. Keterlambatan penanganan bukan hanya berisiko pada kesehatan warga, tapi juga bisa meruntuhkan kepercayaan publik.
Program Dihentikan Sementara
Sebelumnya, program MBG di Kecamatan Tegalombo resmi dihentikan sementara. Langkah itu diambil setelah ratusan siswa dilaporkan mengalami gejala keracunan usai mengonsumsi makanan dari program tersebut.
Koordinator Wilayah SPPG Pacitan, Listiana Asworo, memastikan distribusi makanan dihentikan hingga waktu yang belum ditentukan.
“Dihentikan sementara, tidak ada pendistribusian dulu,” ujarnya terpisah.
Program yang baru berjalan sekitar sebulan itu menjangkau lebih dari 1.700 siswa, mulai PAUD hingga SMA. Namun kini, seluruh aktivitas distribusi dihentikan sambil menunggu arahan dari Badan Gizi Nasional (BGN).
“Menunggu kebijakan dari BGN,” tambahnya singkat.
Dinas Kesehatan Pacitan mencatat, sedikitnya 139 siswa mengalami gejala mual, muntah, dan diare setelah mengonsumsi MBG pada Kamis (9/4/2026) lalu. Sebagian sudah pulang, tetapi 28 siswa masih menjalani perawatan inap. (*)
Simak breaking news dan berita pilihan TIMES Indonesia langsung dari WhatsApp-mu!
Klik 👉 Channel TIMES Indonesia
Pastikan WhatsApp kamu sudah terpasang.


