Warga Ancam Tutup Jalan Masuk SMPN 1 Singojuruh Banyuwangi, Ini Alasannya
Aktivitas belajar mengajar di SMPN 1 Singojuruh, Banyuwangi, Jawa Timur, terancam terganggu menyusul ancaman dari yang berencana menutup akses jalan utama menuju sekolah tersebut.
BANYUWANGI – Aktivitas belajar mengajar di SMPN 1 Singojuruh, Kabupaten Banyuwangi, Jawa Timur, terancam terganggu. Warga RW 1, Dusun Krajan Barat, Desa Singojuruh, berencana menutup akses jalan utama menuju sekolah tersebut
Ancaman penutupan jalan tersebut bukan tanpa alasan. Warga mengklaim bahwa akses jalan masuk menuju sekolah tersebut bukanlah jalan umum, melainkan tanah pekarangan milik warga setempat.
Tokoh warga sekaligus Ketua RW 1 Dusun Krajan Barat, Sugiyono Hadi menyampaikan bahwa ultimatum tersebut merupakan puncak kekecewaan masyarakat terhadap sikap Kepala SMPN 1 Singojuruh, Hj. Lilik Subekti, M.Pd, Kons, yang dinilai kurang menjalin hubungan baik dengan lingkungan sekitar.
"Gang jalan masuk ke sekolah itu bukan jalan umum, ini pekarangan milik warga. Masyarakat sini kurang baik bagaimana, warga tidak pernah mempermasalahkan tanahnya digunakan jalan untuk sekolah, tapi kepala sekolahnya tidak pernah peduli dengan warga," ujar Sugiyono, Selasa (14/4/2026).
Sugiono menjelaskan, pihak sekolah seolah menutup mata terhadap kondisi infrastruktur gang yang rusak. Padahal setiap hari dilewati oleh ratusan siswa dan guru.
Menurut dia, kondisi tersebut sangat berbeda dengan kepemimpinan kepala sekolah sebelumnya. Dahulu, pihak sekolah sangat aktif bersilaturahmi dan bergotong royong dengan warga jika ada kerusakan jalan. Sebagai imbal balik kebaikan warga, pihak sekolah pun mengizinkan halaman depan digunakan untuk parkir kendaraan tamu warga.
"Kalau kepala sekolah yang sekarang ini sama sekali tidak mau bersosialisasi dengan warga sekitar, padahal yang dia lewati setiap hari itu tanah warga," tegasnya.
Atas kondisi tersebut, warga berharap Dispendik Banyuwangi lebih selektif dan memberikan pembekalan wawasan sosial bagi para kepala sekolah agar mampu bermasyarakat dengan baik di tempat mereka bertugas.
"Jangan sampai ego pimpinan justru mengorbankan kegiatan belajar mengajar siswa jika nantinya jalan ini benar-benar kami tutup," ujarnya.
Dikonfirmasi terpisah, Kepala SMPN 1 Singojuruh, Hj. Lilik Subekti, M.Pd, Kons, membantah tudingan bahwa dirinya kurang bermasyarakat. Dia berdalih telah berupaya menjalin komunikasi, salah satunya dengan memberikan instruksi kepada stafnya untuk kepentingan warga.
"Saya sudah menugaskan Kepala Tata Usaha (TU) untuk membuka gerbang sekolah pada Lebaran Idul Fitri 2026 lalu untuk keperluan warga," ujar Lilik.
Hingga berita ini ditulis, ketegangan antara warga dan pihak sekolah masih berlanjut. Warga tetap menuntut adanya itikad baik dan komunikasi yang lebih manusiawi dari pimpinan sekolah tersebut. (*)
Simak breaking news dan berita pilihan TIMES Indonesia langsung dari WhatsApp-mu!
Klik 👉 Channel TIMES Indonesia
Pastikan WhatsApp kamu sudah terpasang.


