Advertisement
Peristiwa Daerah

Belajar Konservasi Tanpa Ruang Kelas di BBKSDA Jatim

BBKSDA Jatim, FK3I, dan mahasiswa PLH Siklus ITS menggelar diskusi Bina Cinta Alam di Surabaya. Menekankan komunikasi sebagai solusi utama dalam pelestarian ekosistem.

TIMES Indonesia,
Belajar Konservasi Tanpa Ruang Kelas di BBKSDA Jatim
Dua perwakilan Forum Komunikasi Kader Konservasi Indonesia (FK3I) Koordinator Daerah Jawa Timur bersama delapan mahasiswa pecinta alam dari PLH Siklus ITS dalam kegiatan Bina Cinta Alam, Rabu (15/4/2026). (FOTO: Dok.FK3I)
A-AA+

Surabaya Senja turun perlahan di halaman depan Kantor Seksi KSDA Wilayah III, Kutisari Selatan, Surabaya, Rabu (15/4/2026). Tanpa podium maupun ruang rapat formal, kursi-kursi disusun sederhana di ruang terbuka. Di sinilah, makna konservasi dibahas melalui percakapan yang mengalir tanpa sekat.

Dua perwakilan Forum Komunikasi Kader Konservasi Indonesia (FK3I) Korda Jawa Timur bersama delapan mahasiswa pecinta alam dari PLH Siklus ITS hadir dalam kegiatan bertajuk Bina Cinta Alam. Pertemuan ini tidak didesain sebagai forum kaku, melainkan ruang berbagi yang santai namun sarat makna.

Advertisement

Di bawah langit yang beranjak gelap, obrolan ditemani secangkir kopi mencairkan batas antara petugas dan mahasiswa. Semua duduk setara; bertanya, mendengar, sekaligus belajar mengenai pengelolaan kawasan suaka alam, pelestarian ekosistem, hingga tantangan nyata di lapangan.

“Konservasi sejatinya adalah tanggung jawab kita bersama,” ujar Aminudin, perwakilan FK3I Jawa Timur.

Komunikasi Kader Konservasi Indonesia 2

Aminudin menegaskan, kegiatan ini merupakan upaya menjembatani komunikasi antara kader konservasi dan kalangan akademisi. Tujuannya agar pengetahuan tidak berhenti di ruang kelas, tetapi tumbuh menjadi kesadaran kolektif.

Komunikasi Sebagai Solusi Konservasi

Fajar DNA, Pengendali Ekosistem Hutan (PEH) Ahli Muda dari Balai Besar KSDA Jawa Timur, memberikan perspektif lapangan mengenai pentingnya peran mahasiswa sebagai agen perubahan dalam isu lingkungan.

Advertisement

Ia menggarisbawahi pesan utama dalam diskusi tersebut: "Communication as conservation solution". Menurutnya, komunikasi yang efektif bukan sekadar pelengkap, melainkan bagian integral dari solusi pelestarian alam.

“Komunikasi yang efektif adalah kunci dalam upaya konservasi,” tutur Fajar.

Percakapan yang berlangsung hingga malam hari tersebut memantik minat para mahasiswa untuk terlibat lebih jauh dalam aksi nyata, seperti monitoring satwa, rehabilitasi, hingga pelepasliaran. Pertemuan ini menjadi awal jalinan komunikasi antara BBKSDA Jawa Timur dan mahasiswa pecinta alam untuk kolaborasi yang lebih luas.

Harapan yang muncul dari diskusi ini adalah adanya pendampingan berkelanjutan dan integrasi nilai-nilai konservasi dalam kehidupan kampus. Di halaman tanpa dinding itu, menjaga alam terbukti bisa dimulai dari langkah kecil: sebuah percakapan sederhana yang tulus untuk masa depan alam Jawa Timur yang lestari. (*)

Simak breaking news dan berita pilihan TIMES Indonesia langsung dari WhatsApp-mu!
Klik 👉 Channel TIMES Indonesia
Pastikan WhatsApp kamu sudah terpasang.

Lely Yuana
PenulisLely YuanaPernah menempuh pendidikan di Sekolah Tinggi Ilmu Komunikasi Almamater Wartawan Surabaya (AWS). Bergabung di TIMES Indonesia sejak 8 September 2017. Meliput berbagai topik, termasuk politik, birokrasi, hukum, gaya hidup, seni dan budaya, serta isu sosial.
Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp TIMES Indonesia