Advertisement
Peristiwa Daerah

Jalur Klemuk Kota Batu Kembali Disorot, Pola Kecelakaan Berulang Didominasi Rem Blong

Jalur Klemuk Batu kembali disorot setelah pola kecelakaan berulang sejak 2023. Rem blong dan kontur ekstrem jadi penyebab utama.

TIMES Indonesia,
Jalur Klemuk Kota Batu Kembali Disorot, Pola Kecelakaan Berulang Didominasi Rem Blong
Wali Kota Batu, Nurochman dan jajaran saat mengecek Jalan Klemuk bersama Forkopimda beberapa waktu lalu(FOTO: Galih Rakasiwi/TIMES Indonesia)
A-AA+

BATU Jalur alternatif Klemuk atau Jalan Rajekwesi yang menghubungkan Kota Batu dengan Kabupaten Malang kembali menjadi sorotan. Jalur ini dikenal rawan kecelakaan, bahkan kerap menimbulkan korban jiwa.

Berdasarkan penelusuran data sejak 2023 hingga 2026, jalur ini berulang kali menjadi lokasi kecelakaan. Penutupan jalur oleh pemerintah pun belum sepenuhnya menghentikan insiden.

Advertisement

Kecelakaan terbaru terjadi pada Maret 2026. Seorang ayah dilaporkan meninggal dunia setelah sepeda motor yang ditumpanginya bersama keluarga menabrak tembok di turunan Jalur Klemuk. Tiga anggota keluarga lainnya mengalami luka-luka. Polisi menduga insiden dipicu kegagalan sistem pengereman atau rem blong.

Pada April 2026, dua kecelakaan kembali terjadi dalam kurun satu pekan. Padahal, jalur tersebut telah resmi ditutup untuk kendaraan roda empat. Hal ini menunjukkan bahwa penutupan saja belum cukup menekan risiko kecelakaan di jalur ekstrem tersebut.

Jika ditarik ke belakang, pola kecelakaan di Jalur Klemuk telah terlihat sejak 2023. Saat libur Lebaran tahun itu, puluhan kendaraan dilaporkan mengalami rem blong dalam waktu singkat.

“Dalam satu hari, belasan sepeda motor dan beberapa mobil kehilangan kendali akibat turunan panjang, curam, serta kondisi macet yang memicu kegagalan rem,” ujar Bambang, warga Dusun Songgoriti, Kamis (16/4/2026).

Jalan Klemuk bersama Forkopimda

Puncak kejadian terjadi pada Mei 2023. Sebuah truk pengangkut sapi mengalami rem blong dan menabrak sejumlah kendaraan di depannya. Peristiwa tersebut menewaskan tiga orang dan menyebabkan kerusakan parah. Sejak saat itu, Jalur Klemuk dikenal sebagai jalur rawan kecelakaan.

Memasuki 2024, jumlah kecelakaan sempat menurun. Namun, jalur ini tetap dikategorikan sebagai titik rawan, dan pemerintah mulai merancang rekayasa lalu lintas untuk mengurangi risiko.

Meski demikian, sejumlah relawan menyebut insiden masih kerap terjadi, meskipun tidak seluruhnya terdokumentasi. Dalam catatan mereka, hampir setiap pekan terjadi kasus rem blong, terutama pada sepeda motor jenis matik.

Pada 2025, tren kecelakaan kembali meningkat seiring naiknya angka kecelakaan di Kota Batu. Pola yang sama terus berulang, terutama pada kendaraan berat yang mengalami kegagalan pengereman.

Kepolisian dan pemerintah daerah menyebut karakteristik jalur menjadi faktor utama tingginya risiko kecelakaan. Turunan panjang, tikungan tajam, serta kondisi jalan yang menuntut keterampilan berkendara menjadi tantangan bagi pengguna jalan, khususnya dari luar daerah.

Mayoritas kecelakaan dipicu oleh faktor teknis kendaraan dan ketidaksiapan pengemudi. Penggunaan aplikasi navigasi digital juga turut berpengaruh, karena kerap mengarahkan pengendara melewati jalur ini tanpa mempertimbangkan tingkat risiko.

Pemerintah Kota Batu kemudian mengambil langkah dengan menutup jalur tersebut untuk kendaraan roda empat pada 2026, serta mengusulkan penghapusan rute dari sistem navigasi digital.

Namun, di lapangan masih ditemukan pengendara yang nekat melintas meski telah dipasang pembatas. Kondisi ini membuat potensi kecelakaan tetap tinggi.

Berdasarkan rangkaian data 2023–2026, terdapat pola yang konsisten dalam kecelakaan di Jalur Klemuk, yakni dominasi kasus rem blong, kontur jalan ekstrem, minimnya pemahaman pengendara terhadap medan, ketergantungan pada navigasi digital, serta pelanggaran penutupan jalur.

Jalur Klemuk kini tidak lagi sekadar jalur alternatif, melainkan telah menjadi titik rawan kecelakaan yang berulang kali menimbulkan korban.

Salah satu warga setempat, Adam, mengaku masih melintasi jalur tersebut karena dapat memangkas waktu tempuh hingga 15 menit dibandingkan melalui Jalan Payung.

“Saya tiap hari lewat sini karena lebih cepat. Kalau sudah paham medan dan kondisi kendaraan, relatif aman. Tapi berbeda dengan pengendara luar daerah yang tidak mengenal jalur dan kondisi kendaraannya tidak siap,” ujarnya.

Diketahui, Dinas Perhubungan (Dishub) Kota Batu telah menutup kembali Jalur Klemuk atau Jalan Rajekwesi di Desa Songgokerto untuk kendaraan roda empat. Penutupan dilakukan dengan pemasangan barrier beton permanen di perbatasan Kota Batu-Pujon sejak Selasa (14/4/2026).

Selain itu, dilakukan pengecoran semi permanen pada titik penghubung guna mencegah pembatas dipindahkan. Langkah ini diambil sebagai upaya meningkatkan keselamatan pengguna jalan.

Sementara itu, Dinas Komunikasi dan Informatika (Diskominfo) Kota Batu juga telah mengajukan penghapusan Jalur Klemuk dari layanan navigasi digital agar pengendara tidak lagi diarahkan melewati jalur berisiko tinggi tersebut. (*)

Simak breaking news dan berita pilihan TIMES Indonesia langsung dari WhatsApp-mu!
Klik 👉 Channel TIMES Indonesia
Pastikan WhatsApp kamu sudah terpasang.

Galih Rakasiwi
PenulisGalih RakasiwiBergabung dengan TIMES Indonesia sejak Februari 2026 dan bertugas di Malang Raya dan sekitarnya. Meliput berbagai isu baik politik, hukum, humaniora, teknologi, bisnis dan peristiwa yang bersifat lokal, nasional, dan internasional.
Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp TIMES Indonesia