Catat, Hasil Lab Dugaan Keracunan MBG di Tegalombo Pacitan Keluar Besok
Hasil uji lab menjadi kunci untuk memastikan apa yang sebenarnya memicu kejadian yang sempat membuat belasan siswa dan dua guru terdampak MBG di Pacitan.
PACITAN – Kepastian penyebab dugaan keracunan MBG (Makan Bergizi Gratis) di Kecamatan Tegalombo Kabupaten Pacitan diperkirakan segera terjawab.
Dinas Kesehatan Kabupaten Pacitan (Dinkes Pacitan) menyebut, hasil uji laboratorium kemungkinan keluar Jumat (17/4/2026) besok.
Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) Dinkes Pacitan, drg Nur Farida, mengatakan sampel makanan sudah lebih dulu dikirim ke laboratorium sejak Sabtu (11/4/2026).
Proses pemeriksaan baru dimulai Senin (12/4/2026), sehingga butuh waktu sekitar lima hari.
“Info dari lab 5 hari. Kami ngirim Sabtu (11/4/2026) siang. Pemeriksaan mulainya Senin (12/4/2026),” ujarnya, Kamis (16/4/2026).
Hasil uji tersebut menjadi kunci untuk memastikan apa yang sebenarnya memicu kejadian yang sempat membuat belasan siswa dan dua guru terdampak itu.
Farida menyebut, sampel sengaja dikirim ke laboratorium di Yogyakarta. Alasannya sederhana: mempercepat proses. Jika harus ke Surabaya, antreannya bisa jauh lebih panjang. “Karena tingginya antrean,” katanya.
Siapa yang Bertanggung Jawab?
Ketua Satgas MBG Pacitan, Heru Wiwoho Supadi Putra, menyebut mekanisme siapa yang bertanggung jawab atas peristiwa tersebut hingga kini belum bisa diputuskan lantaran masih dibahas lintas instansi di lingkungan pemkab.
“Mestinya ada regulasinya. Saat ini masih dirapatkan dan dalam pembahasan oleh Dinas Kesehatan,” ujarnya, Rabu (15/4/2026).
Heru mengakui, di sejumlah daerah lain, kasus serupa pernah ditangani dengan pembiayaan dari Badan Gizi Nasional (BGN). Namun, untuk Pacitan, skemanya belum dipastikan.
Di sisi lain, ia mengklaim jika seluruh korban sudah mendapatkan penanganan medis. Kondisi mereka terus dipantau.
“Fokus utama saat ini adalah memastikan kondisi korban stabil,” ungkapnya.
Evaluasi Total
Evaluasi menyeluruh juga mulai disiapkan. Termasuk memperketat pengawasan makanan sebelum dikonsumsi siswa.
Menurut Heru, sekolah punya peran penting untuk pencegahan dengan pengecekan awal seperti mencicipi makanan sebelum dibagikan kepada siswa.
“Pengecekan makanan itu sampai di sekolah, bisa dicicipi oleh pihak sekolah. Kalau ada yang tidak pas harus segera dilaporkan,” katanya.
Ia menegaskan, kejadian ini menjadi yang pertama di Pacitan. “Tidak ada kasus sebelumnya,” ucapnya.
Pengelolaan Limbah Belum Beres
Sejumlah catatan juga sudah diberikan kepada pihak Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG). Dinas Lingkungan Hidup dan Dinas Kesehatan menyoroti aspek kebersihan hingga pengelolaan limbah.
“Memang ada beberapa kekurangan yang harus diperbaiki. Terus bersama-sama kita harus saling mengingatkan dan mengawasi, yang paling penting itu,” ujar Heru.
Sejak kasus ini mencuat, sampel makanan sejatinya telah dikumpulkan, dapur SPPG diperiksa, hingga penghentian sementara operasional.
“BGN sudah turun tangan untuk melakukan penghentian operasional sementara SPPG yang bersangkutan. Sekarang tinggal menunggu hasil uji laboratorium,” pungkasnya. (*)
Simak breaking news dan berita pilihan TIMES Indonesia langsung dari WhatsApp-mu!
Klik 👉 Channel TIMES Indonesia
Pastikan WhatsApp kamu sudah terpasang.


