Advertisement
Peristiwa Daerah

Kisah Pak Dian: Penarik Sampah Kota Banjar yang Semangat Menanti Panggilan ke Baitullah

Dian, yang sehari-harinya mengabdi sebagai petugas kebersihan atau pengangkut sampah yang melayani kurang lebih 10 RT, mendaftarkan diri sebagai jemaah haji calon sejak 2015.

TIMES Indonesia,
Kisah Pak Dian: Penarik Sampah Kota Banjar yang Semangat Menanti Panggilan ke Baitullah
Jemaah calon haji Kota Banjar yang tertunda keberangkatannya karena sistem pembagian kuota (Foto: Susi/TIMES Indonesia)
A-AA+

BANJAR Di balik rutinitasnya setiap hari menyusuri jalanan Kota Banjar untuk mengangkut sampah dari rumah ke rumah, Dian Nurdianto (50) menyimpan sebuah impian mulia yakni menunaikan ibadah haji ke Tanah Suci.

Meski harus menelan pil pahit karena keberangkatannya tertunda akibat kebijakan kuota, semangat pria pekerja keras warga RT 19 RW 8 Lingkungan Cikadu, Kelurahan Karangpanimbal, Kecamatan Purwaharja ini tidak sedikit pun surut.

Advertisement

Dian, yang sehari-harinya mengabdi sebagai petugas kebersihan atau pengangkut sampah yang melayani kurang lebih 10 RT, mendaftarkan diri sebagai jemaah haji calon sejak 2015.

Dengan penuh kesabaran, ia telah mengikuti berbagai persiapan, termasuk manasik haji di KBIH Al-Ihsan.

​Namun, harapan untuk berangkat tahun ini harus tertunda setelah menerima informasi mengenai pembatasan kuota haji di wilayah Kota Banjar.

​"Ya kecewa sih, cuman kan bagaimana lagi. Mungkin ini belum panggilan Allah. Kita ambil positifnya saja, mungkin ada rencana lain yang lebih baik atau cara Allah menyelamatkan kita," ujar Dian dengan nada tegar saat ditemui, Kamis (16/4/2026).

Ikhlas dan Terus Berikhtiar

Kisah perjalanan Dian menuju Tanah Suci tergolong inspiratif. Keputusannya mendaftar haji pada 2015 muncul dari niat yang kuat, meski kala itu penghasilannya sebagai tukang ojek tidak menentu.

Advertisement

Dengan tekad bulat, ia mendatangi pihak bank untuk memenuhi persyaratan porsi haji sebesar Rp25 juta.

​"Tahu-tahunya uang itu ada saja jalannya. Mungkin itulah yang namanya panggilan Allah. Biarpun kita punya banyak uang, kalau belum waktunya dipanggil, ya tidak akan berangkat. Sebaliknya, kalau sudah panggilan-Nya, pasti ada jalan," ungkapnya.

​Kini, dengan masa tunggu yang diperkirakan masih beberapa tahun lagi, sekitar 2029 atau 2030, Dian tetap optimistis. Baginya, ibadah bukan sekadar tentang keberangkatan fisik, melainkan tentang ketulusan hati.

Menabung dari Hasil Kerja Keras

Rutinitas harian Dian dimulai sejak dini hari. Pukul 03.00 pagi, ia sudah bergegas menjadi tukang ojek untuk mengantar warga ke pasar hingga pukul 06.00.

Setelahnya, ia langsung beralih menjalankan tugasnya mengangkut sampah menggunakan kendaraan roda tiga bantuan program pemerintah, yang ia lakoni sejak 2018.

​Meski penghasilannya sederhana, Dian selalu menyisihkan rezeki untuk masa depan dan akhirat. Ia menekankan pentingnya hidup yang bermanfaat bagi lingkungan dan keluarga.

​"Tipsnya sederhana saja: hidup harus ada manfaatnya untuk diri sendiri dan lingkungan. Sisihkan rezeki kita, berapa pun itu. Kita cuma berikhtiar dan berusaha, soal hasil itu urusan Allah," tutur pria yang didukung penuh oleh keluarga dalam setiap langkah ibadahnya ini.

​Kisah Pak Dian menjadi pengingat bagi banyak orang bahwa niat yang tulus dan kerja keras tanpa henti dapat menjadi kendaraan utama dalam meraih impian, seberapa pun jauh jarak dan waktu yang harus ditempuh.

Kini, ia terus melanjutkan aktivitasnya dengan senyum, menanti dengan sabar waktu yang tepat untuk memenuhi panggilan-Nya ke Tanah Suci. (*)

Simak breaking news dan berita pilihan TIMES Indonesia langsung dari WhatsApp-mu!
Klik 👉 Channel TIMES Indonesia
Pastikan WhatsApp kamu sudah terpasang.

Sussie
PenulisSussieSarjana Ilmu Politik Stisip Bina Putera Kota Banjar (2011). Bergabung di Times Indonesia sejak 2021. Meliput berbagai topik, termasuk politik, hukum, sains, seni, budaya dan hospitality.
Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp TIMES Indonesia