Kasus Keracunan MBG, Air dan Makanan SPPG Tegalombo Pacitan Positif Bakteri
Total 158 siswa tercatat terdampak, sementara enam di antaranya masih menjalani perawatan intensif di fasilitas kesehatan.
PACITAN – Jawaban atas dugaan keracunan program Makan Bergizi Gratis (MBG) di Kecamatan Tegalombo, Kabupaten Pacitan akhirnya terang. Hasil uji laboratorium, makanan dan air yang dikonsumsi siswa terpapar bakteri.
Total 158 siswa tercatat terdampak, sementara enam di antaranya masih menjalani perawatan intensif di fasilitas kesehatan.
Kepala Dinas Kesehatan Pacitan, dr Daru Mustikoaji, mengungkapkan hasil tersebut setelah sampel diperiksa selama lima hari di laboratorium Surabaya dan Yogyakarta.
“Dari hasil laboratorium, sampel makanan yang diambil pada kurun waktu 8 sampai 10 April di SPPG Kebondalem ditemukan adanya bakteri. Termasuk juga air yang diuji di Labkesda Pacitan,” kata Daru, Jumat (17/4/2026).
Meski begitu, beberapa menu yang sempat disajikan kepada siswa terindikasi terkontaminasi bakteri.
“Yang mengandung bakteri di antaranya sawi dan edamame. Jadi dapat dipastikan makanan yang terkontaminasi bakteri tersebut yang menyebabkan para siswa mengalami gejala seperti mual, muntah, diare, dan pusing,” jelasnya.
Temuan ini sekaligus menguatkan dugaan awal bahwa gangguan kesehatan yang dialami ratusan siswa berkaitan langsung dengan konsumsi MBG.
Selain makanan, sampel air bersih di dapur SPPG tersebut juga ikut terpapar bakteri. Sejumlah sampel yang diuji meliputi air bersih di SPPG, makanan dari bank sampel tanggal 8–10 April, serta sampel feses pasien.
Pemeriksaan dilakukan di Labkesda Pacitan, BBLabkesmas Yogyakarta, dan BBLabkesmas Surabaya.
Dinas Kesehatan mencatat, persoalan tidak berhenti pada bahan makanan. Sistem pengolahan hingga distribusi juga menjadi sorotan.
Dari hasil evaluasi awal, aspek higienitas dan sanitasi di SPPG dinilai perlu dibenahi, mulai proses loading hingga makanan sampai ke sekolah.
Selain itu, kapasitas penjamah makanan juga akan ditingkatkan. Sosialisasi standar operasional penerimaan MBG kepada sekolah penerima manfaat turut menjadi catatan penting agar kejadian serupa tidak terulang.
“Nanti hasil ini kami serahkan ke BGN untuk bahan evaluasi agar kejadian serupa tidak terulang,” imbuh Daru.
Di sisi lain, kondisi pasien mulai menunjukkan perbaikan. Dari 28 siswa yang sempat dirawat, sebanyak 22 sudah diperbolehkan pulang.
Kini tersisa enam pasien yang masih menjalani perawatan, masing-masing tiga orang di Puskesmas Tegalombo dan tiga lainnya di Puskesmas Arjosari.
Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Dinkes Pacitan, drg. Nur Farida, menyebut lonjakan kasus sempat terdeteksi dari pola keluhan yang seragam.
“Untuk berdiskusi karena kita memang sama-sama tahu bahwasanya ada kejadian. Kenapa kita sampai mengambil sampel dari SPPG, karena memang ada kejadian,” ujarnya terpisah.
Ia menambahkan, penelusuran dilakukan setelah jumlah pasien dengan keluhan serupa meningkat tajam di fasilitas kesehatan.
“Saat terjadi peningkatan pasien, kami melakukan anamnesis lebih detail. Sehingga terbaca bahwa sebagian besar pasien diare ini adalah siswa,” tambahnya.
Dinkes kemudian bergerak cepat dengan pendataan, anamnesis lanjutan, hingga penyelidikan epidemiologi guna memastikan sumber masalah.
“Diare itu penyebabnya macam-macam. Bisa karena virus, bakteri yang banyak mengarah ke makanan, alergi, bahkan orang stres pun bisa diare,” jelasnya.
Namun dalam kasus Tegalombo, pola yang muncul mengarah pada satu sumber yang sama. Evaluasi menyeluruh kini disiapkan, melibatkan lintas sektor mulai dari puskesmas, sekolah, hingga pengelola SPPG.
“Upaya keberlanjutan kami adalah melakukan pertemuan semua unsur untuk evaluasi dan pembenahan SOP, serta optimalisasi pengawasan secara rutin,” pungkasnya. (*)
Simak breaking news dan berita pilihan TIMES Indonesia langsung dari WhatsApp-mu!
Klik 👉 Channel TIMES Indonesia
Pastikan WhatsApp kamu sudah terpasang.


