Advertisement
Peristiwa Daerah

Dialog NU–Syiah, Gus Nasrul: Perbedaan Mazhab Bukan Sumber Konflik, tapi Energi Kemaslahatan

KH Nasrulloh Afandi menegaskan perbedaan mazhab bukan sumber konflik, melainkan harus dikelola sebagai kekuatan kemaslahatan dalam dialog bersama Ahlulbait Indonesia di Jepara.

TIMES Indonesia,
Dialog NU–Syiah, Gus Nasrul: Perbedaan Mazhab Bukan Sumber Konflik, tapi Energi Kemaslahatan
Gus Nasrul (batik hijau) saat disowani ABI di kediamannya . (FOTO: Gus Nasrul for TIMES Indonesia)
A-AA+

JEPARA Pakar Maqashid Syariah KH Nasrulloh Afandi menerima kunjungan jajaran pengurus Ahlulbait Indonesia (ABI) di Jepara, baru-baru ini. Dalam pertemuan dengan para pengikut Syiah itu, ulama yang akrab disapa Gus Nasrul tersebut menegaskan bahwa perbedaan mazhab tidak seharusnya menjadi sumber konflik, melainkan dikelola sebagai bagian dari “bahan bakar” kemaslahatan bersama.

Pertemuan yang berlangsung hangat tersebut menjadi ruang dialog lintas mazhab di tengah isu keagamaan yang kerap sensitif. Gus Nasrul langsung menempatkan diskusi pada kerangka maqashid syariah, tujuan utama syariat Islam yang berorientasi pada kemaslahatan manusia.

Advertisement

Ia mengutip pandangan Imam Asy-Syathibi dalam kitab Al-Muwafaqat. “Syariat Islam diturunkan untuk menjaga kemaslahatan manusia,” ujarnya. Ia kemudian menegaskan, “Islam diturunkan untuk kemaslahatan seluruh manusia, bukan hanya untuk kelompok tertentu, apa pun agama, suku, budaya, dan latar belakangnya, punya hak yang sama di hadapan syariat Islam.”

Dari titik itu, Gus Nasrul mengingatkan bahwa persoalan utama bukan pada perbedaan itu sendiri, melainkan cara menyikapinya. Perbedaan bisa menjadi jembatan, tetapi juga bisa berubah menjadi jurang jika tidak dikelola dengan bijak.

Pengalaman bertugas di Majelis Ulama Indonesia (MUI) Pusat, khususnya di Komisi Kerukunan Umat Beragama, diakuinya banyak membentuk cara pandang yang lebih dialogis. Ia kerap turun langsung ke wilayah muslim minoritas, termasuk hingga pedalaman Papua, untuk menjaga harmoni sosial.

Contoh lain ia tarik dari praktik kehidupan beragama di kesultanan Oman. Menurutnya, negara tersebut menunjukkan bahwa perbedaan mazhab tidak selalu berujung konflik.

“Di sana madhab resmi pemerintah adalah Ibadiyah bagian dari khawarij, tetapi penduduknya mayoritas justeru pengikut madhab Syafi’i dan Syiah, dan tidak ada tekanan dari pemerintah. Di sana perbedaan tidak menjadi alasan untuk saling menjauh atau terjadi gesekan. Justru menjadi bagian dari kehidupan bersama secara harmonis, Hal itu sesuai esensi maqashid Syariah, yang harus selalu menciptakan kemaslahatan di ruang publik, meskipun beda keyakinan atau aliran kepercayaan diruang publik dalam konteks beragama ” ujarnya, Sabtu (18/4/2026) malam.

Advertisement

Gus Nasrul juga mengingatkan bahwa cara seseorang merespons perbedaan sangat dipengaruhi tingkat pemahaman. “Orang yang kurang pemahaman cenderung mudah menyalahkan dan menuduh sesat kepada pihak lain, hal itu sangat bertentangan dengan prinsip maqashid syariah” tegas Gus Nasrul yang juga Direktur institut Maqashid Syariah Indonesia itu.

Gus Nasrul juga menegaskan, bukan saatnya fanatisme Madhab, atau aliran tertentu,  tapi bersatu dalam naungan Islam. Untuk kemajuan global Islam. Sebagaimana kebangkitan yang telah di contohkan oleh negara Iran dalam konteks teknologi, nuklir, rudal, misalnya.

Ia mengimbau agar masyarakat tidak tergesa-gesa memberi label terhadap kelompok lain. Dalam praktiknya, penilaian terhadap kelompok keagamaan sering kali tidak semata soal teologi, tetapi juga dipengaruhi dinamika sosial dan kepentingan lain.

“Perbedaan itu sunatullah, tidak bisa dihindari,” ujarnya. Ia menambahkan, kepentingan politik baik nasional maupun internasional  kerap ikut memperkeruh gesekan yang dibungkus isu agama.

Rombongan ABI yang dipimpin Ketua DPD ABI Jepara Abdul Nasir hadir bersama Bendahara Nur Alim dan Divisi Humas Mohammad Ali. 

Turut mendampingi Mustasyar DPP ABI Ustadz Miqdad Turkan, yang juga pengasuh Pesantren Darut Taqrib, serta Muhlisin Turkan dari Humas, Media, dan Penerangan DPP ABI. 

Sejumlah tokoh pesantren Ahlul Bait Indonesia(ABI) , juga ikut hadir, di antaranya Sayyid Haidar Al-Edrus, Haji Hasan, dan Gus Ahmad Zabidi dari Pesantren Putri Bintul Huda.

Pertemuan lebih dari satu jam itu tak sekadar silaturahmi. Ada ruang perkenalan sekaligus dialog terbuka antara organisasi muslim Syiah dan tokoh ulama berlatar belakang Nahdlatul Ulama.

“Perbedaan tetap ada, namun kebersamaan harus dijaga. Perbedaan adalah realitas yang akan selalu ada, tetapi banyak hal yang bisa dikerjakan bersama untuk kebaikan umat dan bangsa,” ujar Ustadz Miqdad Turkan.

Di akhir pertemuan, Gus Nasrul menyerahkan majalah Risalah NU edisi Januari–April 2026 kepada rombongan sebagai penutup silaturahmi. (*)

Simak breaking news dan berita pilihan TIMES Indonesia langsung dari WhatsApp-mu!
Klik 👉 Channel TIMES Indonesia
Pastikan WhatsApp kamu sudah terpasang.

Yusuf Arifai
PenulisYusuf ArifaiMagister Ilmu Hukum (MH) Universitas Slamet Riyadi Surakarta, Wartawan Madya Nomor 21969-Unitomo/Wdya/DP/X/2024/21/10/93, Editor Bahasa Arab dan Penulis di TIMES Indonesia yang bergabung sejak 2021.
Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp TIMES Indonesia