Gubernur Jateng Dorong Hipmi Agresif Berkolaborasi Jaga Stabilitas Ekonomi
Gubernur Jawa Tengah Ahmad Luthfi mendorong Hipmi lebih agresif berkolaborasi dengan pemerintah daerah untuk menjaga stabilitas ekonomi dan memperluas lapangan kerja.
SEMARANG – Di tengah tekanan ekonomi global dan dinamika geopolitik, pengusaha muda didorong mengambil peran lebih aktif sebagai pencipta peluang ekonomi baru. Kreativitas dan inisiatif dinilai menjadi kunci dalam membuka lapangan kerja serta menjaga stabilitas ekonomi daerah.
Pesan tersebut disampaikan Gubernur Jawa Tengah Ahmad Luthfi saat menjadi narasumber dalam Forum Bisnis Daerah (Forbisda) Himpunan Pengusaha Muda Indonesia (Hipmi) Jawa Tengah di Bandungan, Minggu (19/4/2026).
Ahmad Luthfi menegaskan, Hipmi memiliki posisi strategis dalam mendorong pertumbuhan ekonomi daerah. Karena itu, ia meminta organisasi pengusaha muda tersebut lebih agresif membangun kolaborasi dengan pemerintah provinsi maupun kabupaten/kota.
“Hipmi itu pengusaha muda. Harus kreatif menciptakan lapangan kerja dan ekonomi baru. Jangan menunggu, tapi menjemput bola,” ujarnya.
Ia menyebutkan, pertumbuhan ekonomi Jawa Tengah saat ini mencapai 5,37 persen. Capaian tersebut merupakan hasil kontribusi berbagai pihak, termasuk pelaku usaha muda. Pemerintah daerah menargetkan tren pertumbuhan ini terus meningkat melalui penguatan investasi.
Investasi diarahkan pada sektor industri padat karya yang memiliki daya serap tenaga kerja tinggi, sebagai upaya menekan angka pengangguran terbuka. Selain itu, sebanyak 12 kabupaten/kota di Jawa Tengah mulai mengembangkan kawasan ekonomi khusus (KEK) dan kawasan industri baru sebagai pusat pertumbuhan.
Gubernur juga meminta Hipmi menyelaraskan program organisasi dengan agenda pembangunan daerah. Pengusaha muda didorong aktif berkomunikasi dengan kepala daerah untuk membuka peluang sinergi yang lebih luas.
“Temui bupati dan wali kota. Kolaborasikan program Hipmi dengan program daerah masing-masing. Hipmi adalah bagian dari collaborative government,” tegasnya.
Dalam forum tersebut, sejumlah pengusaha muda menyampaikan aspirasi terkait kemudahan perizinan, pemerataan akses program, serta optimalisasi aset pemerintah yang belum termanfaatkan.
Eko, pengusaha asal Banjarnegara, menilai keterbukaan komunikasi dengan pemerintah daerah menjadi faktor penting bagi pengembangan usaha. “Kalau akses komunikasi dengan kepala daerah bisa lebih terbuka, tentu akan sangat membantu pengusaha di daerah,” katanya.
Sementara itu, Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Jawa Tengah, Ali Said, menyebutkan tren investasi di provinsi tersebut terus meningkat. Pada 2025, pertumbuhan investasi tercatat sebesar 6,76 persen, naik dari tahun sebelumnya yang mencapai 6,5 persen.
“Ini perkembangan yang menggembirakan. Kawasan industri dan KEK menjadi motor utama pertumbuhan ekonomi Jawa Tengah,” ujarnya.
Dengan penguatan kolaborasi dan inovasi dari pengusaha muda, Jawa Tengah diharapkan mampu menjaga momentum pertumbuhan sekaligus memperluas penciptaan lapangan kerja. (*)
Simak breaking news dan berita pilihan TIMES Indonesia langsung dari WhatsApp-mu!
Klik 👉 Channel TIMES Indonesia
Pastikan WhatsApp kamu sudah terpasang.


