Kemarau 2026 Diprediksi Lebih Parah, BPBD Pacitan: Waspada Perluasan Kekeringan
BPBD Pacitan memprediksi kekeringan 2026 lebih luas dari 2025. Diperkirakan mulai Juni, permintaan air bersih meningkat di banyak dusun sehingga perlu mitigasi dan suplai air siap.
PACITAN – Ancaman kekeringan di Kabupaten Pacitan pada 2026 diperkirakan kian meluas. Badan Penanggulangan Bencana Daerah Pacitan (BPBD Pacitan) memproyeksikan dampak kemarau tahun ini lebih besar dibanding 2025, yang lalu mencatat 166 dusun di 12 kecamatan mengalami krisis air bersih.
Kepala BPBD Pacitan, Erwin Andriatmoko, mengatakan indikasi tersebut terlihat dari kondisi cuaca dan karakter wilayah yang rentan kekeringan.
Ia memperkirakan puncak musim kemarau akan terjadi mulai Juni 2026 dan berpotensi berdampak lebih luas.
“Kalau melihat situasi dan kondisi wilayah, kemungkinan lebih luas. Tahun 2025 ada 166 dusun terdampak, tahun 2026 kemungkinan besar bakal bertambah,” kata Erwin. Senin (20/4/2026).
Menurut dia, permintaan bantuan air bersih diprediksi mulai bermunculan sejak awal Juni. BPBD pun bersiap mengantisipasi lonjakan kebutuhan dengan melakukan pemetaan wilayah rawan kekeringan.
Selain itu, koordinasi dengan Pemerintah Provinsi Jawa Timur terus dilakukan, terutama untuk menyiapkan sarana pendukung seperti toren air dan peralatan distribusi lainnya. Langkah ini dinilai penting guna mempercepat respons saat kekeringan mulai meluas.
Meski demikian, BPBD tidak memiliki kewenangan penuh terkait penyediaan sumber air bersih. Urusan tersebut berada di bawah Organisasi Perangkat Daerah lain, yakni Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (PUPR) Pacitan, yang menangani sumur bor dan infrastruktur air.
“Kalau soal air bersih, sumur bor dan lainnya di OPD lain, yaitu PUPR Pacitan,” ujarnya.
Dalam penanganan darurat, BPBD mengandalkan Belanja Tidak Terduga (BTT). Namun, besaran anggaran yang tersedia untuk menghadapi potensi kekeringan tahun ini masih belum dipastikan.
Dengan proyeksi kemarau yang lebih panjang dan dampak yang meluas, pemerintah daerah dihadapkan pada tantangan memperkuat mitigasi sejak dini, agar krisis air tidak berkembang menjadi bencana yang lebih besar.(*)
Simak breaking news dan berita pilihan TIMES Indonesia langsung dari WhatsApp-mu!
Klik 👉 Channel TIMES Indonesia
Pastikan WhatsApp kamu sudah terpasang.

