Advertisement
Peristiwa Daerah

Ungkap Ribuan Kasus Positif, Dinkes Banyuwangi Perkuat Deteksi Dini Menuju Eliminasi TBC 2030

Pemkab Banyuwangi melalui Dinas Kesehatan (Dinkes) tengah memperkuat strategi deteksi dini, guna menekan angka Tuberkulosis (TBC) yang telah mencapai ribuan kasus.

TIMES Indonesia,
Ungkap Ribuan Kasus Positif, Dinkes Banyuwangi Perkuat Deteksi Dini Menuju Eliminasi TBC 2030
Ilustrasi - TBC dan penanganan. (FOTO : AI Image)
A-AA+

BANYUWANGI Pemkab Banyuwangi melalui Dinas Kesehatan (Dinkes) tengah memperkuat strategi deteksi dini, guna menekan angka Tuberkulosis (TBC) yang telah mencapai ribuan kasus. Tentu saja, langkah proaktif ini diambil sebagai upaya memutus rantai penularan kasus dengan target eliminasi TBC 2030.

Berdasarkan data dari Dinkes Banyuwangi, tercatat sebanyak 3.169 warga Bumi Blambangan dinyatakan positif TBC. Sementara itu lebih dari 27 ribu masyarakat masuk dalam kategori suspek. 

Advertisement

Kepala Dinkes Banyuwangi, Amir Hidayat, mengungkapkan bahwa, TBC kini kembali menjadi perhatian serius di tingkat nasional. Hal ini dipicu oleh tren penyebaran kasus yang terus meningkat secara masif dalam beberapa tahun terakhir.

Di Banyuwangi sendiri, lanjut Amir, saat ini terdapat kurang lebih 27 ribu warga yang teridentifikasi sebagai suspek TBC. Dari jumlah tersebut, sebanyak 3.169 orang di antaranya telah menjalani pemeriksaan laboratorium dan dinyatakan positif mengidap TBC.

"Sebagian besar kasus TBC di Banyuwangi terjadi pada kelompok usia produktif," kata Amir, Senin (20/4/2026).

Oleh karena itu, masih kata Amir, Pemkab Banyuwangi terus memperkuat upaya penanggulangan dengan mengintensifkan pelacakan kontak erat secara langsung di lapangan. Langkah proaktif ini diambil untuk memastikan setiap potensi penularan dapat segera dipetakan dan ditangani sebelum meluas.

Guna mempercepat eliminasi TBC, Dinkes Banyuwangi turut melibatkan lembaga sosial dalam memperluas jangkauan skrining secara intensif. Kemitraan ini menjadi kunci untuk mendeteksi kasus-kasus tersembunyi di masyarakat yang selama ini sulit dijangkau oleh fasilitas kesehatan formal.

Advertisement

"Petugas kami aktif turun ke lapangan untuk melakukan pemeriksaan terhadap kontak erat, baik anggota keluarga, tetangga, maupun teman yang pernah berinteraksi dengan pasien positif," ujar Amir.

Sementara itu, mengenai prosedur penanganan, Amir menyampaikan bahwa, seluruh pasien yang telah terkonfirmasi positif TBC akan langsung masuk ke dalam program pengobatan intensif. Selama enam bulan ke depan, pasien berhak mendapatkan Obat Anti Tuberkulosis (OAT) secara cuma-cuma melalui fasilitas kesehatan yang telah disediakan pemerintah.

Amir juga menegaskan, jika proses pengobatan TBC menuntut kedisiplinan tinggi, seperti konsumsi obat harus dilakukan secara kontinyu tanpa boleh terputus satu hari pun. Untuk memastikan kepatuhan tersebut, tim medis akan melakukan pemantauan ketat terhadap kondisi pasien sepanjang seluruh periode pengobatan berlangsung.

"Pengobatan harus dijalani secara rutin dan tidak boleh putus. Kalau sampai terhenti, berpotensi menimbulkan resistensi obat, yang penanganannya jauh lebih sulit dan membutuhkan waktu lebih lama," tegasnya. (*)

Simak breaking news dan berita pilihan TIMES Indonesia langsung dari WhatsApp-mu!
Klik 👉 Channel TIMES Indonesia
Pastikan WhatsApp kamu sudah terpasang.

Syamsul Arifin
PenulisSyamsul ArifinPenulis di TIMES Indonesia yang bergabung sejak 2016. Meliput berbagai topik, antara lain politik, hukum, kriminal, ekonomi, gaya hidup, teknologi, budaya, pemerintahan, serta isu-isu nasional.
Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp TIMES Indonesia