Kartini dari Kota Batu, Perempuan Ini Jaga Marwah Seni Bantengan di Tengah Zaman Modern
Semangat Hari Kartini tak selalu hadir lewat podium dan seremoni di Kota Batu.
BATU – Semangat Hari Kartini tak selalu hadir lewat podium dan seremoni. Di Kota Batu, semangat “Habis Gelap Terbitlah Terang” justru menyala dari sebuah toko kecil di sisi timur Alun-alun Batu, tempat kostum bantengan, udeng, cambuk, hingga kepala banteng dibuat dengan penuh cinta terhadap budaya leluhur.
Di sanalah Masita, yang akrab disapa Nyai Nimasita (50), berdiri sebagai salah satu tokoh perempuan pegiat seni bantengan di Kota Batu. Di tengah dominasi laki-laki dalam kesenian tradisional itu, ia memilih hadir di garis depan menjaga warisan budaya khas daerahnya.
Bagi Masita, melestarikan budaya juga merupakan bentuk perjuangan perempuan.
"Mewujudkan wanita yang mandiri, sinergi, dan tangguh di era modern seperti sekarang, salah satunya dengan mempertahankan budaya dan seni. Perempuan Kota Batu sudah bagus keterlibatannya, tinggal dikemas lebih baik lagi," ujarnya, Senin (21/4/2026).
Masita bukan sosok baru di dunia seni tradisi. Ia mengaku tumbuh dari keluarga berlatar belakang seni tari, lalu terus mendalami budaya Jawa hingga kini.
Kecintaannya itu kemudian diwujudkan dengan membuka Toko Mega Budaya Griya Kreasi di Jalan Semeru Nomor 8, Kelurahan Sisir, Kecamatan Batu, sekitar 23 tahun lalu.
Dari tempat itu, ia memproduksi beragam perlengkapan kesenian seperti udeng, cambuk, baju macan, celana, sampur atau selendang, hingga kepala banteng.
Pesanan datang dari Kota Batu, Malang, hingga daerah lain, terutama saat ada agenda budaya seperti Bantengan Nuswantoro maupun peringatan Hari Jadi Kota Batu.
"Dulu pesanan ramai sekali, ke mana-mana kirimnya. Sekarang tetap jalan, meski tidak besar, yang penting budaya ini terus hidup," katanya.
Menurut Masita, kehadiran perempuan di dunia bantengan menjadi bukti bahwa perempuan juga mampu menjaga dan merawat budaya daerah. Ia menilai seni tradisi tak seharusnya dibatasi jenis kelamin.
"Mempertahankan budaya tidak pandang laki-laki atau perempuan. Beban kita sama, tanggung jawabnya sama. Kalau cinta budaya, semua bisa ikut menjaga," tegas ibu dua anak itu.
Ia tak menampik, menjadi perempuan di lingkungan bantengan pernah menghadirkan cibiran. Bantengan kerap dianggap keras dan identik dengan laki-laki. Namun, hal itu tak membuatnya surut.
"Kadang ada yang mencemooh, perempuan kok ikut bantengan. Tapi saya buktikan perempuan juga bisa mengatur acara, menyiapkan kebutuhan, bahkan menjaga agar kegiatan berjalan lancar. Yang penting siap fisik dan mental," ujarnya.
Masita juga menyoroti citra negatif bantengan di sebagian masyarakat. Menurutnya, perempuan memiliki peran penting memperbaiki pandangan tersebut melalui etika, tata krama, dan penghormatan terhadap pakem budaya.
"Kita tunjukkan cara berkostum yang baik, menjaga norma, sopan santun, dan menjiwai nilai leluhur orang Jawa," katanya.
Bagi Masita, bantengan bukan sekadar tontonan, melainkan sarana membentuk karakter generasi muda. Nilai gotong royong, disiplin, kekompakan, hingga rasa persaudaraan tumbuh dalam setiap kegiatan.
"Kalau ada acara, semua bersama-sama dari awal sampai akhir. Di situ anak muda belajar kerja sama dan menghormati tradisi," jelasnya.
Ia pun bangga karena bantengan kini mulai dikenal luas, bahkan menarik perhatian wisatawan mancanegara saat gelaran Bantengan Nuswantoro.
"Itu kebanggaan kita. Budaya asli Kota Batu bisa dikenal dunia," ungkapnya.
Di Hari Kartini ini, Masita berharap perempuan Kota Batu dan generasi muda terus konsisten menjaga warisan budaya daerah.
"Tetap berjuang bersama. Yang paling penting, budaya bantengan jangan sampai lari dari pakem yang diwariskan dan harus terus lestari ditengah pesatnya kemajuan zaman. Perempuan harus hadir," tandasnya. (*)
Simak breaking news dan berita pilihan TIMES Indonesia langsung dari WhatsApp-mu!
Klik 👉 Channel TIMES Indonesia
Pastikan WhatsApp kamu sudah terpasang.


