Advertisement
Peristiwa Daerah

Makna Hari Kartini di Mata Plt Bupati Ponorogo: Perempuan Harus Mandiri dan Berdaya

Plt Bupati Ponorogo Lisdyarita maknai Hari Kartini sebagai keberanian perempuan melangkah, mandiri secara ekonomi, melek teknologi, dan berpendidikan demi kemajuan daerah.

TIMES Indonesia,
Makna Hari Kartini di Mata Plt Bupati Ponorogo: Perempuan Harus Mandiri dan Berdaya
Plt Bupati Ponorogo Lisdyarita. (Foto:Prokopim Ponorogo for TIMES Indonesia)
A-AA+

PONOROGO Peringatan Hari Kartini tahun ini menjadi momentum refleksi mendalam bagi Pelaksana Tugas (Plt) Bupati Ponorogo, Lisdyarita. Baginya, sosok Raden Ajeng Kartini bukan sekadar simbol sejarah, melainkan ruh bagi kemandirian perempuan modern dalam memberikan kontribusi nyata bagi pembangunan daerah

Lisdyarita menekankan bahwa emansipasi di era sekarang tidak lagi berbicara tentang kompetisi dengan kaum pria, melainkan tentang bagaimana perempuan mampu mengoptimalkan potensi diri demi kemaslahatan masyarakat banyak.

Advertisement

​Menurut Bunda Rita, sapaan akrabnya, tantangan perempuan saat ini adalah menjaga keseimbangan antara peran dalam keluarga dan profesionalisme di ruang publik. Ia menilai, semangat Kartini harus diimplementasikan melalui kecakapan literasi, penguasaan teknologi, dan ketahanan ekonomi.

​"Makna Hari Kartini bagi saya adalah keberanian untuk melangkah. Perempuan Ponorogo tidak boleh ragu untuk menjadi pelopor perubahan, baik di sektor UMKM, pendidikan, maupun pemerintahan. Kartini masa kini adalah mereka yang mampu berdiri di atas kaki sendiri namun tetap tidak meninggalkan akar budayanya," ujar Plt Bupati Ponorogo Lisdyarita, Selasa (21/4/2026).

Ia ​ juga menambahkan bahwa Pemerintah Kabupaten Ponorogo terus berupaya menyediakan ruang yang inklusif bagi perempuan untuk berkembang. Hal ini dibuktikan dengan berbagai program pemberdayaan masyarakat yang menyasar kelompok ibu rumah tangga dan pelaku usaha perempuan di Bumi Reog.

​Menutup pernyataannya, Lisdyarita berpesan agar generasi muda perempuan di Ponorogo terus menuntut ilmu setinggi mungkin. Menurutnya, pendidikan adalah senjata utama untuk memutus rantai keterbelakangan dan kemiskinan.

​"Jangan pernah merasa terbatas karena gender. Jadilah Kartini yang cerdas, tangguh, dan memiliki empati tinggi terhadap sesama," tukasnya. (*)

Advertisement

Simak breaking news dan berita pilihan TIMES Indonesia langsung dari WhatsApp-mu!
Klik 👉 Channel TIMES Indonesia
Pastikan WhatsApp kamu sudah terpasang.

M. Marhaban
PenulisM. MarhabanSekolah Tinggi Publisistik (STP) Jakarta, KLW PWI Jawa Timur 1999. Bergabung di TIMES Indonesia sejak 2019, meliput berbagai topik, termasuk Politik, Hukum, Olahraga, Budaya, dan Pemerintahan.
Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp TIMES Indonesia