Ratusan Warga Gili Ketapang Probolinggo Iringi 12 Calon Haji dengan 15 Perahu Hias
Pelabuhan Tanjung Tembaga, Kota Probolinggo, yang biasanya sepi di pagi hari, Selasa (21/4/2026) mendadak dipadati ratusan orang. Bukan para pekerja atau pelancong, melainkan warga Pulau Gili Ketapang yang tengah mengantarkan calon jemaah haji mereka
PROBOLINGGO – Pelabuhan Tanjung Tembaga, Kota Probolinggo, yang biasanya sepi di pagi hari, Selasa (21/4/2026) mendadak dipadati ratusan orang. Bukan para pekerja atau pelancong, melainkan warga Pulau Gili Ketapang yang tengah mengantarkan calon jemaah haji mereka menuju Tanah Suci.
Tradisi tahunan yang mereka sebut Ngater Kajien ini bukan sekadar acara seremonial. Lebih dari 500 warga dari anak-anak hingga lansia rela menyeberang laut dengan perahu untuk melepas keberangkatan para tamu Allah. Sebanyak 15 perahu yang telah dihias warna-warni mengiringi belasan calon haji dari Pulau Gili Ketapang menuju daratan.
Satu perahu jenis jonggrang, mampu membawa 100 hingga 150 orang. Dengan total sekitar 10 kapal pengiring lainnya, hiruk-pikuk doa dan salam menyatu dengan debur ombak Selat Madura.
Suasana haru langsung menyergap begitu rombongan tiba di Pelabuhan Tanjung Tembaga. Ratusan warga yang ikut dari pulau turun dan memenuhi area pelabuhan. Mereka tak sekadar mengantar, tapi juga berharap.
Siti Nuraisah (23), warga asli Gili Ketapang, mengaku tradisi ini sudah berlangsung turun-temurun sejak zaman nenek moyang. Setiap musim haji, Ngater Kajien selalu digelar. Bahkan setelah mengantar, sebagian warga biasanya melanjutkan ziarah ke Makam Sunan Ampel dan sejumlah makam wali di Madura.
“Harapan utama ikut Ngater Kajien agar bisa naik haji juga,” ujar Siti polos, tanpa basa-basi.
Bagi warga pulau yang mayoritas nelayan, tradisi ini menjadi bentuk doa kolektif sekaligus mimpi bersama. Mereka percaya, dengan mengantar tetangganya yang berangkat haji, berkah akan sampai dan suatu saat mereka bisa menyusul.
Tahun ini, ada 32 calon jemaah haji asal Pulau Gili Ketapang. Sebanyak 12 orang tergabung dalam Kloter 2 Embarkasi Surabaya yang dilepas pagi itu, sementara 20 lainnya masuk Kloter 3. Secara keseluruhan, jumlah jemaah haji asal Kabupaten Probolinggo pada 2026 mencapai 1.119 orang.
Di tengah modernisasi dan berbagai cara instan menuju ibadah haji, warga Gili Ketapang memilih cara lama, yakni mengantar dulu, berdoa bersama, lalu percaya bahwa suatu saat giliran mereka tiba. Dan tradisi itu, tahun demi tahun, tetap hidup. Bukan karena paksaan, tapi karena harapan. (*)
Simak breaking news dan berita pilihan TIMES Indonesia langsung dari WhatsApp-mu!
Klik 👉 Channel TIMES Indonesia
Pastikan WhatsApp kamu sudah terpasang.


