APINDO Jatim Dorong UMKM Naik Kelas, Bidik Dongkrak Ekonomi Daerah
Asosiasi Pengusaha Indonesia (APINDO) Jawa Timur mendorong pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) agar naik kelas melalui penguatan manajemen, branding, hingga perluasan pasar.
BATU – Asosiasi Pengusaha Indonesia (APINDO) Jawa Timur mendorong pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) agar naik kelas melalui penguatan manajemen, branding, hingga perluasan pasar.
Langkah itu dinilai penting untuk meningkatkan pertumbuhan ekonomi daerah, termasuk di Kota Batu dan Jawa Timur secara umum.
Ketua DPP APINDO Jatim, Eddy Widjanarko, mengatakan rapat kerja provinsi (Rakerprov) yang digelar di Kota Batu tidak hanya menjadi agenda organisasi, tetapi juga sarana mengevaluasi program sekaligus menyusun langkah strategis ke depan.
"Kami ingin suasananya lebih santai, tapi tetap fokus menghasilkan keputusan-keputusan yang baik untuk program mendatang. Pertama tentu evaluasi apa yang sudah dilakukan, lalu menentukan program berikutnya," katanya di sela acara Rakerkonprov Jatim di Senyum World Hotel, Senin (21/4/2026).
Menurutnya, pelaksanaan Rakerprov di berbagai daerah sengaja dilakukan agar daerah memiliki kesempatan menjadi tuan rumah sekaligus mempromosikan potensi lokal masing-masing.
"Tahun lalu di Banyuwangi, sekarang di Batu. Tujuan pertama agar daerah bisa menunjukkan potensinya. Di Banyuwangi ada klaster alpukat, durian, dan buah-buahan yang sudah bekerja sama dengan pembeli dari Surabaya," ujarnya.
Dia menilai Kota Batu selama ini identik dengan wisata, apel, dan jeruk. Namun, di tengah berkurangnya lahan apel dan menurunnya gaung komoditas jeruk, daerah perlu mencari potensi baru yang bisa dikembangkan.
"Kami ingin melihat kemampuan lain di Batu selain apel dan jeruk. Sekarang ada sekitar 20 UMKM yang ikut pameran bersama. Kami juga ingin mengembangkan mereka dari sisi profesionalisme dan manajemen usaha lewat program UMKM Merdeka," jelasnya.
Selain mendukung UMKM, APINDO Jatim ingin membantu promosi pariwisata Kota Batu. Menurutnya, banyak warga luar daerah belum mengetahui perkembangan destinasi wisata baru di kota tersebut.
"Orang Surabaya kadang ke Batu bingung mau ngapain, padahal setelah datang ternyata banyak hal baru. Promosi ini yang perlu diperkuat, bukan hanya di Surabaya tapi secara nasional," katanya.
Ia menambahkan, sektor kafe, restoran, dan destinasi wisata baru diyakini masih menjadi penggerak utama ekonomi Kota Batu.
"Karena itu, inovasi wisata perlu terus dilakukan agar wisatawan terus datang," bebernya.
Sementara itu, Ketua DPK APINDO Kota Batu, Suryo Widodo, mengatakan Kota Batu dipilih sebagai lokasi kegiatan karena memiliki kekuatan di sektor wisata dan UMKM yang potensial untuk dikembangkan.
"Kami ingin mengangkat UMKM supaya naik kelas. Makanya tadi ada workshop, bukan sekadar seminar. Mereka dilatih soal branding, pengemasan, dan pemasaran," ujarnya.
Menurut Suryo, banyak UMKM lokal memiliki produk bagus, namun belum memiliki pembeda dari sisi kemasan maupun segmentasi pasar.
"Contohnya produk keripik. Banyak yang jual modelnya sama semua, sehingga tidak ada pembeda. Harus ada kelasnya, ada yang premium, menengah, dan reguler. Tak kalah penting yaitu inovasi," jelasnya.
Ia menegaskan, pendampingan menjadi kunci agar UMKM bisa berkembang. Karena itu, APINDO bersama berbagai pihak, termasuk perbankan seperti Bank Jatim dan BRI, terus memberikan dukungan pelatihan hingga akses pembiayaan.
"Tanpa pembimbingan sulit. UMKM sering fokus produksi tapi bingung penjualannya. Karena itu harus didampingi supaya benar-benar bisa naik kelas. Peran kita salah satunya memasarkan potensi atau produksi UMKM," tuturnya.(*)
Simak breaking news dan berita pilihan TIMES Indonesia langsung dari WhatsApp-mu!
Klik 👉 Channel TIMES Indonesia
Pastikan WhatsApp kamu sudah terpasang.


