Advertisement
Peristiwa Daerah

Kartini Zaman Now, Jangan Biarkan Perempuan Pacitan Tenggelam di Arus Joget Medsos

Bagi Kepala Bidang Informasi dan Komunikasi Diskominfo Pacitan, Ria Anggara Purna, tantangan perempuan hari ini bukan lagi soal kemudahan akses, melainkan bagaimana memaknai kemajuan itu sendiri.

TIMES Indonesia,
Kartini Zaman Now, Jangan Biarkan Perempuan Pacitan Tenggelam di Arus Joget Medsos
Kepala Bidang Informasi dan Komunikasi Diskominfo Pacitan, Ria Anggara Purna, soal tantangan perempuan hari ini dan bagaimana memaknai kemajuan lewat kemudahan akses digital itu sendiri (FOTO: Yusuf Arifai/TIMES Indonesia)
A-AA+

PACITAN Dalam momentum Hari Kartini 2026, perempuan di Kabupaten Pacitan didorong untuk mulai beralih dari sekadar joget-joget menjadi pencipta konten yang lebih berisi dan bermanfaat.

Bagi Kepala Bidang Informasi dan Komunikasi Diskominfo Pacitan, Ria Anggara Purna, tantangan perempuan hari ini bukan lagi soal kemudahan akses, melainkan bagaimana memaknai kemajuan itu sendiri.

Advertisement

Ia menyoroti kecenderungan generasi muda, terutama perempuan yang kerap larut dalam arus konten hiburan di media sosial.

“Perempuan menurut saya harus bisa menggunakan efektifitas kemajuan teknologi yang ada untuk hal-hal positif,” ujarnya membuka percakapan.

Ia tak menampik media sosial bisa jadi ruang ekspresi. Namun, menurutnya, akan sayang jika potensi besar itu hanya dihabiskan untuk hal yang dangkal.

“Jangan gunakan media sosial hanya untuk senang-senang dengan sekedar joget-joget aja. Kan bisa diisi dengan konten pembelajaran misalnya,” katanya.

Bagi Ria, kunci utama ada pada kesadaran untuk beradaptasi tanpa kehilangan arah. Dunia digital memang dinamis, tetapi bukan berarti harus selalu mengikuti tren. "Saya ingin para perempuan menyesuaikan di tengah dinamika yang ada saat ini,” ucapnya

Advertisement

Ia mencontohkan banyak kreator yang justru tumbuh karena konsistensi menghadirkan konten yang bernilai. Bukan sekadar viral sesaat.
 “Sebenarnya banyak konten kreator di luar sana yang bisa sukses lantaran menarik dan berkualitas,” imbuhnya.

Salah satu hal yang ia dorong adalah peningkatan kapasitas diri, terutama dalam penguasaan bahasa. Menurutnya, bahasa adalah pintu masuk untuk membuka lebih banyak peluang di era global.

“Kalau saya bagaimana kalau generasi muda saat ini belajar bahasa, apapun itu bahasa adalah tetap pemersatu. Bahasa adalah komunikasi utama di manapun kita berada,” tuturnya.

Ia menyebut Bahasa Inggris sebagai kebutuhan dasar, sekaligus mengaku tertarik mempelajari Bahasa Mandarin dengan alasan relevansi dengan perkembangan global.

“Itu bisa dengan mudah melalui platform digital dan live medsos,” katanya.

Lebih jauh, Ria mengingatkan agar orientasi bermedia sosial tak berhenti pada popularitas. “Nggak cuma mengejar trend, atau memanfaatkan situasi yang viral saja. Tapi lebih bermanfaat bagi orang lain, lalu diviralkan,” tegasnya.

Ia mengaitkan hal ini dengan semangat Kartini yang identik dengan perjuangan melalui pendidikan. “Seperti cita-citanya RA Kartini, belajar terus, kan kita bisa mengakses apapun dengan gampang,” ujarnya.

Dalam konteks lebih luas, Ria juga menyoroti peran lingkungan pendidikan. Ia melihat sekolah kerap menjadi ruang bebas bermedia sosial tanpa cukup pendampingan. "Ayolah pendidikan sekarang itu harus lebih ada peningkatan, jangan hanya kejar viral medsos,” katanya.

Perempuan, menurut Ria, kini memiliki ruang yang setara dengan laki-laki untuk berkembang di berbagai bidang. Namun, ia mengingatkan pentingnya menjaga nilai dan peran dalam kehidupan sehari-hari.

“Wanita sekarang nggak hanya di rumah saja. Di manapun harus ada. Tapi jangan lupakan peran kita sebagai ibu, kakak, adik yang tetap menjaga perilaku, sikap, berkata,” ucapnya.

Ia menekankan, perempuan tetap menjadi fondasi dalam keluarga. “Sebenarnya wanita itu tiangnya keluarga. Kalau wanitanya hancur, maka keluarganya tidak baik pula,” katanya.

Di akhir wawancara, Ria mengajak generasi muda untuk tidak menyia-nyiakan kemudahan akses yang ada saat ini. Ia membandingkan dengan masa lalu, ketika perempuan harus berjuang keras hanya untuk bisa mengenyam pendidikan.

“Sekarang dengan akses serba mudah ayolah tuntut ilmu dan berusaha untuk maju. Jangan hanya diam saja. Belajar dari mana pun,” tuturnya.

Ia pun menyisipkan refleksi pribadi tentang dunia pendidikan yang ia rasakan kini.

“Saya merasakan pendidikan di Indonesia masih gitu gitu aja, kurang ada tanggung jawab. Beda dengan dulu waktu saya sekolah, kalau tidak belajar, ada rasa takut ketinggalan ilmu dan pengetahuan,” kenangnya.

“Isi harimu dengan perjuangan dan prestasi," pesannya di Hari Kartini 2026. (*)

Simak breaking news dan berita pilihan TIMES Indonesia langsung dari WhatsApp-mu!
Klik 👉 Channel TIMES Indonesia
Pastikan WhatsApp kamu sudah terpasang.

Yusuf Arifai
PenulisYusuf ArifaiMagister Ilmu Hukum (MH) Universitas Slamet Riyadi Surakarta, Wartawan Madya Nomor 21969-Unitomo/Wdya/DP/X/2024/21/10/93, Editor Bahasa Arab dan Penulis di TIMES Indonesia yang bergabung sejak 2021.
Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp TIMES Indonesia